Archives

All posts for the month January, 2012

A Facebook-Reminded Birthday

Published January 30, 2012 by hypocrisyoftheday

“Sedikit yang ingat tidak masalah, daripada ingat gara-gara terpampang di home FB dan hal tersebut malah menjadikan tidak bermakna.”
(Christ Immanuel (@superr_christ) 1/21/12 1:23 AM)

Aku membacanya beberapa kali. Memikirkannya beberapa saat. Dan bahkan sampai sekarang, di akhir kalimat, masih saja satu kata yang segera terlintas di kepalaku: “Masa?”

Beberapa hari sebelum hari ulang tahunku, aku juga sempat memikirkan hal yang sama. Tanggal ulang tahunku tercantum di kolom info di profile facebook dan itu artinya ketika tiba harinya, akan ada notifikasi di homepage teman-temanku untuk mengingatkan mereka akan event setahun sekali ini.

Sejujurnya, yang pertama kali terpikir olehku adalah repotnya membalas satu per satu ucapan yang masuk ke wall-ku. Belum lagi kalau yang menulis ucapan adalah orang-prang yang sebenarnya tak benar-benar kukenal, yang ku-confirm semata-mata demi asas kesopanan berdasarkan mutual friends. Selama beberapa hari aku sempat galau, antara hendak dan tak hendak menghilangkan informasi tersebut dari profile-ku. Dan pada akhirnya, tak seperti Christ, profile facebook-ku tetap mencantumkan hari lahirku. Semata-mata karena aku malas mengubahnya. Iya, sesederhana itu aku mengakhiri kegalauanku.

Di malam sebelum hari ulang tahunku, aku pulang ke rumah menjelang tengah malam setelah lembur. Kelelahan. It was the night of my birthday dan kuputuskan, sebelum rasa galau itu makin menjadi-jadi, i’d just sleep through it.

Tapi tunggu dulu. Galau kenapa? Karena tambah tua? Oh, well.. it’s an inevitability. Karena currently single? Muahahaha.. for God’s sake.. i am relatively content with my being at the present. Strangely, what really bothered me was that… i couldn’t be happy about my birthday as much as i was about new year. Padahal kalau dipikir-pikir, dua-duanya basically sama: annual event. Perayaan untuk memperingati tanggal yang sama setiap tahunnya. Apalagi ulang tahunku bulan Januari. My birthday comes as soon as new year does. Kalau di malam pergantian tahun Masehi, aku bisa dengan bahagia mengingat setahun ke belakang, dan merasa sangat sangat puas karena telah belajar begitu banyak hal, bertemu banyak teman dan saudara baru, kenapa tidak demikian di malam pergantian usia? It was really bothersome for unknown reasons. That was why i decided to sleep thorugh it.

But some didn’t approve my plan.

Tengah malam, belum lagi genap satu jam aku terlelap, aku merasakan sesuatu menyentuh kakiku. Setengah sadar, aku berguling dan membuka mata. Masih setengah sadar, secara refleks aku menjerit. Kencang.

Aku selalu menjerit setiap kali terbangun dalam keadaan ruangan gelap gulita. Tapi kalau biasanya jeritanku disambut hening sepekat gelapnya, kali ini gelak tawa tiga orang yang menyambutnya, beserta tarian lidah api di atas dua buah lilin yang melayang di atas pangkuan tangan salah satu sumber gelak tawa tersebut. Salah seorang dari mereka menekan saklar lampu dan disanalah, masih tertawa terbahak-bahak, Arnel, Inda dan Kasuk berdiri di depanku. Oh, it’s a midnight birthday surprise, i see.

Entah karena midnight surprise-nya, atau karena kadonya (bantal garfield dan satu set DVD Godfather yang mematahkan hatiku setahun yang lalu karena harganya yang mahal setengah mati), my birthday was less bothersome.

Seperti yang bisa diduga, sepanjang hari di tengah asistensi handphone-ku bergetar dan menunjukkan push notification ucapan selamat ulang tahun dari teman-teman baik di facebook, twitter, maupun di BBM. Menariknya, ternyata tak lebih dari 5 ucapan dari orang-orang yang tergolong stranger. Masing-masing menuliskan ucapan yang unik, sesuai most frequent interaction kami. Seperti Engel yang bilang “jangan insomnia lagi” karena sering kutelpon tengah malam; Boyo yang tiba-tiba mengingatkan tentang animarium, nama kelompok kami waktu diklat stapala 4 tahun yang lalu, Jatmiko yang sampai sekarang masih memanggilku “ari-ari”, dan pastinya Butho yang hanya dalam occasion tertentu memanggilku “sis”. And i know when he calls me that, he means it.

Aku tahu, sebagian besar dari mereka tahu ulang tahunku dari facebook. But i happened to smile at every post. Ternyata hal itu tidak membuat setiap ucapan kurang bermakna seperti yang tadinya kukira. Think about it. Dari sekian ratus teman di facebook yang mendapat notifikasi yang sama, mereka meluangkan waktu untuk sekedar mengucapkan “selamat ulang tahun”. Ketika membaca notifikasi tersebut, untuk sesaat mereka berhenti dari aktivitas mereka dan mengingatku. Beberapa jelas berkelana dalam kenangan di masa lalu yang mereka lewatkan bersamaku dan kemudian menuliskannya di wall/timeline-ku. And i find it precious.

Teman sekarang belum tentu teman nanti. Ini kenyataan. Dan bukan hanya karena faktor umur, semakin hari semakin sedikit yang bisa kita ingat. Seringkali karena faktor jarak, padatnya aktivitas, begitu banyaknya orang yang datang dan pergi dalam kehidupan kita, mereka yang dulunya teman-teman dekat pun mulai terlupakan. Jangankan hal kecil seperti hari ulang tahun, kadang orangnya yang mana pun bisa sempat terlupakan. Dan percayalah, ketika semua faktor itu menyerang bersama-sama, we do need reminder. Seperti sebuah lampu merah di persimpangan jalan yang sekilas menyebalkan, tapi ternyata sangat berjasa. Kurang dari satu menit saja, kita berhenti dari lajunya arus, dan mengingat mereka, yang dulu pernah tertawa terbahak-bahak bersama.

So, yeah… i’m getting older. And i’m trying to be happy about it. And every wishes on my phone screen i smiled at got to be a huge help to make a start. So here’s my gratitude to every one of you who wrote it. Cheers..!

P.S. As for Christ, whose tweet mentioned at the top, i’m not trying to negate it. I put it there simply because it’s what made me start thinking about all this at the first place. So, well… again.. Cheers..! happy birthday to us.. :)

Gratitude and Apology behind the Massive Fun in Surabaya – Dedicated to My Insanely Generous Friends

Published January 5, 2012 by hypocrisyoftheday

It’s just like.. Everyday i believe a little less.. And a little less.. And a little less.. And that….. Sucks.. (Ted Mosby, How I Met Your Mother)

Bulan Agustus yang lalu, lewat telepon Arnel cerita tentang bagaimana dia semacam overwhelmed karena keluarganya Mas Jo, salah satu seniorku di STAPALA. Arnel menyebut mereka ‘baiknya ngga masuk akal’. Mendengar itu, aku sih cuma tertawa. Lah, memang anak-anak STAPALA begitu semua. Aku sudah terbiasa.
Tapi sebenarnya, kalau mau jujur, aku tidak terbiasa dengan orang-orang non-STAPALA, kalau pinjam istilahnya Arnel, yang ‘baiknya ngga masuk akal’. Hey! Bukan berarti aku menganggap cuma anak-anak STAPALA yang bisa baik! Tapi karena memang selain di STAPALA, aku jarang berada dalam komunitas yang sedemikian (mudah) akrab. Maka dari itu saudara-saudara, bolehlah aku disebut lebay, tapi liburanku ke Surabaya Desember lalu membawaku bertemu orang-orang yang demikian.
Semalam sebelum keberangkatanku ke Surabaya, sambil packing aku smsan dengan salah satu teman yang akan kujumpai sesampainya di Kota Pahlawan tersebut. Lebih tepatnya, kujumpai untuk pertama kali. Jadi saudara-saudara, awalnya aku kenal si teman yang bernama Wisnu ini dari facebook. Selain kami sama-sama hobi main game pump it up, ternyata dia ini teman SMA dari teman kuliahku. Nah loh, dunia sempit ya.

Aku sempat tertegun ketika tiba-tiba dia menanyakan apakah ada yang menjemputku di bandara. dan kemudian, ketika kujawab tidak ada, diluar dugaanku, dia membalas, “Yoweslah, tak jemput..” JENG JENG…!! Seketika aku terbelalak, berdiri, kemudian kayang diikuti salto 7 kali dan ditutup dengan pirouette saking kagetnya. Dan tentu saja itu bohong.
I knew he’s generous but could somebody be that generous? Karena seingatku jarak dari bandara ke kota itu jauh sekali. Dan dia sendiri bilang waktu tempuhnya sekitar 40 menit. Jadi PP berapa lama? Pintar sekali..! Belum lagi kalau dia harus nunggu karena lama turun dari pesawatnya atau apalah. Dan itu untuk menjemputku, yang belum pernah ketemu lho. Way too generous. Karena ngga enak hati, dengan sangat menyesal dan penuh rasa bersalah, aku baru membalas smsnya setelah landing di Bandara Juanda. Dan naik taksi ke kosan Nez.

Siangnya barulah aku dijemput Wisnu, ketemuan sama Arnel, makan siang sambil ketawa-ketawa dan kemudian ke BG Junction buat main pump. Disinilah ketemu satu orang lagi yang baik ngga masuk akal, Josephine. Selain kenalan si Wisnu, Josephine ini ternyata anggota Sapphire Crew sama seperti Arnel. Jadilah mereka langsung heboh aja gitu bertiga. Awalnya kukira aku bakal terjebak di suasana awkward di antara mereka. Tapi dasarnya emang semuanya gila kali ya, we surprisingly got along quite well. Dan ketika Josephine bertanya, “Kalian pulang jam berapa?” Aku dan Wisnu langsung tertawa dan menjawab, “Kita ngga pulang..!” Dan dia melongo.

Ini gara-garanya Nez, anak STAPALA yang kutumpangi selama di Surabaya, sebelumnya bilang kalau dia mau keluar sama temen-temennya sampai pagi. Jadi aku pun berencana demikian. Dan Wisnu pun bilang mau nemenin aku. How generous is that? But wait til you hear what Josephine said next: “Nginep di tempatku aja gimana?”
DOUBLE JENG JENG…!!
She knew me for what.. an hour or two and already, without hesitation she nonchallantly invited me to stay at her place for the night??? Emang mereka yang baiknya keterlaluan atau akunya yang terlalu sering berada di sekitar orang yang cuek? Entahlah. Yang jelas, aku sih memang berencana nginap di Nez. Dan akhirnya, bukan cuma Wisnu, Josephine pun ikut nemenin aku nongkrong sampai pagi..! Bertiga, kami pergi ke sebuah cafe dan ngopi sambil ngobrol ngalor-ngidul dan ngakak-ngakak sampai dilihatin semua orang.
And really, nothing beats the fun of being with friends, sipping coffee and laughing our asses off over practically everything. Dan sepanjang malam itu aku setengah takjub setengah merasa beruntung, ngga nyangka bisa segitunya having fun sama orang-orang yang baru kenal, karena walaupun semua orang yang kenal aku pasti memprotes keras dan tidak setuju, sebenarnya aku ini orangnya pendiam dan pemalu*. Dan aku merasa beruntung banget bisa ketemu orang-orang sebaik mereka.

Sebenarnya seandainya ditanya, kalau aku jadi mereka, apakah aku akan menawarkan hal yang sama – jemput, ngundang nginap, nemenin nongkrong sampai pagi – maka aku akan menjawab “ya”. Tapi giliran aku jadi orang yang ditawari, entah kenapa kok rasanya ngga enak hati dan sungkan -__-“. Maybe i need to learn to stop being so uptight. Maybe i need to enjoy a bit more, this little world-without-stranger of mine. Whichever it is, I had huge fun back in Surabaya, and i owe it all to them both. And to Arnel as well, of course.

Oh, by the way, sepulang dari Surabaya, yaitu tanggal 24 Desember 2011, aku mengirim friend request ke Josephine di facebook**. Beberapa hari berselang, ngga di-approve. Bahkan sampai tahun berganti, tak di-approve juga. Hahaha.. yasudahlah, toh aku juga memang lebih sering aktif di twitter.
Eh! Tiba-tiba, baru kemarin, 3 Januari 2012, ada notifikasi “Josephine Kho accepted your friend request.” Segera saja kusapa dia, siapa tahu sudah lupa samaku. Honestly, i was expecting responses like, “Ehalo, apa kabar?” atau “Kapan ke surabaya lagi?” atau apalah yang agak-agak basa-basi cheesy begitu. Instead, balasannya Cuma satu kata: “kangen2..!!”
Wait, what? Seriously? I mean, like… seriously? We met only once and you said you miss me?? Really?

Hahahaha.. I think i deserve a big slap on my face. i shouldn’t have doubted my friends, right? And now i owe them an apology for that. A massive one.
Can’t wait to see them again next time..
:)

“what do i do about that, Scherbatzky?”
“well, you’re Ted Mosby. You start believing again.”

*tapi kalau udah kenal malu-maluin :D
**si nona ga punya twitter sih.. –”

P.S. Even if i’m proud of my friends mentioned in this post, i am really not proud of myself writing it.. Tepat setelah aku menulis draft post ini, aku dapat kabar sidang Mas Bejo, salah satu senior STAPALA yang dikenain tuduhan Tipikor tengah berlangsung..seketika aku langsung muram dan mataku panas..secara spontan langsung mengajak se-timeline untuk mendoakan Mas Bejo. Dan aku pertama kali dan hanya sekali bertemu Mas Bejo bulan Agustus 2010 yang lalu. Dan Pak Dosko menulis di twitter: “pasti ada ikatan batin yang kuat diantara kalian.Saya yang ga penah bertegur sapa aja merasa dekat katena dulu tiap tiap hari melihatnya di kppn 2.” Seketika aku sadar, ada yang salah denganku ketika memikirkan semua yang telah kutulis di atas. That wasn’t me.

I don’t know what had happened to me. I don’t know what had made have gone so cold and bitter when i was writing the draft of this post. Apparently, for a moment, i myself had turned into a stranger in this little world-without-stranger of mine.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.