“Ke Pulau Mahoro yuk!”
Terhitung hanya 5 hari saja berselang antara kali pertama ide tersebut tercetus dan hari keberangkatan kami ke salah satu pulau di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro ini. Diwarnai galau dan khawatir karena minimnya informasi mengenai akses ke pulau tersebut, setengah ragu setengah nekat, berangkatlah kami berempat – aku, Arnel, Inda, dan Basten – berpetualang ke Mahoro.
Untuk mencapai Pulau Mahoro, sebelumnya kami harus naik kapal ke Pulau Siau, letak dari pusat pemerintahan dari kabupaten ini. Dari Manado, ada 2 pilihan kapal menuju Siau, yaitu dengan kapal cepat dan kapal malam. Kapal cepat berangkat dari pelabuhan Manado pukul 09.00 WITA dengan harga tiket sebesar Rp 150.000,00 dan sampai di Siau sekitar pukul 13.00 WITA. Namun karena satu dan lain pertimbangan, kami memutuskan untuk naik kapal malam yang berangkat pukul 18.00 WITA. Dengan membayar Rp 60.000,00, penumpang bisa melewatkan perjalanan diranjang susun yang berderet bagaikan barak. Namun, kalau mau lebih nyaman, bisa juga sewa kamar ABK dengan tambahan biaya sebesar Rp 180.000,00/kamar, dimana 1 kamar bisa digunakan oleh 2 orang.
Perjalanan menggunakan kapal malam menuju Siau kami tempuh dalam waktu kurang lebih 7 jam. Sekitar pukul 01.00 WITA, kapal pun akhirnya merapat ke Pelabuhan Sawang, Pulau Siau. Nah, berhubung kami sampai dini hari, kami memutuskan untuk mencari penginapan terlebih dahulu. Di pulau ini masih belum banyak hotel maupun penginapan. Yang paling sering dikunjungi adalah Hotel Jakarta di Ulu dengan tarif paling murah Rp 300.000,00/malam. Ada juga penginapan Wisata Bahari dengan tarif Rp 75.000,00/malam yang juga terletak di Ulu. Kebetulan, untuk mencapai Mahoro memang harus menyeberang dari Ulu. Nah, dari Sawang ke Ulu ini kami naik mobil angkutan yang kata kenalan di Siau bilang, namanya mobil daster. Entah deh itu mobil jenis apa. Bentuknya sih seperti bemo besar kali ya, masuknya dari belakang, duduknya di bangku panjang, hadap-hadapan. Kenapa namanya mobil daster? Katanya sih karena kalau diberdirikan motifnya jadi seperti daster. Masalahnya, siapa coba yang begitu isengnya ngeberdiriin mobil?
Untuk mencapai Pulau Mahoro dari Pulau Siau belum ada angkutan tetapnya, tapi kita bisa menyewa perahu nelayan atau speedboat. Sebelumnya kami sempat bertanya pada pegawai hotel berapa kisaran biaya untuk sewa perahu tersebut dan katanya, untuk perahu katinting kecil sekitar Rp 250.000,00, sedangkan speedboat Rp 450.000,00. Hanya saja, ketika berusaha nego dengan sang nelayan, dia ngotot bertahan di harga Rp 500.000,00 untuk perahu katinting dengan alasan sudah 3 hari mereka kekurangan pasokan bensin. Karena sudah terlanjur sampai di Siau, kami pun akhirnya sepakat di harga Rp 400.000,00. Terutama setelah melirik antrian panjang di pompa bensin kecil di samping pasar. Jangan bayangkan SPBU besar dan bersih seperti di kota besar, disini pompa bensin yang dimaksud penampakannya seperti warung kecil dengan logo pertamina, entah disebelah mana tangkinya berada.
Dalam cuaca cerah, perjalanan dari Siau ke Mahoro dengan perahu bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih satu jam saja. Selepas dari Ulu, menoleh ke belakang, kita akan bisa melihat gagahnya Gunung Karangetan di Pulau Siau, lengkap dengan selarik warna hitam yang menandakan jalur lavanya, menambah kesan garang. Gunung vulkanik ini sampai sekarang masih aktif. Bahkan, di malam hari kita bisa melihat lahar berwarna merah menyala di puncaknya.
Memandang sekeliling, warna air dalam sekejap berubah menjadi biru pekat. Di kanan-kiri banyak pulau-pulau, mulai dari pulau besar yang memang tempat kehidupan masyarakat seperti Pulau Buhias, sampai pulau-pulau batu yang menjadi tempat peraduan ombak. Beberapa di antaranya bahkan membentuk tebing yang membuatku penasaran, kira-kira bisa dipanjat atau tidak ya. Namun karang-karang yang bercokolan di sekelilingnya seketika membuat nyaliku ciut. Sedangkan Mahoro sendiri.. Ah, betapa girang kami berempat ketika pulau kecil ini terlihat.
Begitu perahu merapat ke pulau, kami serentak meloncat keluar, disambut air laut berwarna hijau jernih, yang menambah eksotisme pasir putih lembut yang membuat kami bersorak girang begitu menyentuhkan telapak kaki ke atasnya. Bukit yang dipenuhi pepohonan hijau pun menambah asrinya pemandangan. Tanpa mempedulikan gerimis yang menerpa, kami berlarian kesana-kemari bagai anak kecil. Dan ketika dingin mulai merayapi kulit, kami pun berhambur ke air laut. Ah, sayangnya karena hari itu hujan, tak banyak foto yang bisa kami ambil.
Hari itu matahari bersembunyi di balik awan kelabu, namun bahkan kabut pun tak mampu menyembunyikan keindahan di sekeliling Pulau Mahoro dan pulau-pulau di sekitarnya.
Hari itu, aku memandang ke sekeliling, lautan yang luas, pulau-pulau tak berpenghuni, pantai-pantai dengan pasir putihnya yang lembut, dan sekali lagi aku diingatkan, Indonesia itu indah, kawan! Berpetualanglah!

