“Kalau kita mau pulang dari Mahoro trus hujan gimana dong? Kalo ga hujan sih, alhamdulillah ya..tapi kalau hujan, sesuatu banget tuh!” kata Inda sebelum kami berangkat ke Pulau Mahoro. Dan kami pun cuma tertawa mendengarnya.

Dari dulu aku selalu percaya bahwa “it’s not the destination that matters, it’s the journey”. namun baru bulan lalu aku benar-benar memahami makna kalimat tersebut.  Ternyata, ketika destination-nya begitu indah pun, yang kemudian terasa paling berkesan tetaplah journey-nya.

It’s not the destination that matters, it’s the journey. Dan salah satu bagian terpenting dari journey tersebut adalah orang-orangnya, alias partner perjalanannya. And i couldn’t ask for better partners than those who went there with me: Inda, Basten, dan Arnel. Berempat, kami membuat perjalanan tersebut memorable dengan canda di setiap suasana. Mengisi waktu dengan bermain kartu di kapal, saling hina saling cela, dan saling mengutip ayat Alkitab untuk menghibur pemain yang kalah. Menertawakan Arnel yang paling penuh tipu muslihat, namun paling sering ngocok kartu. Sampai sekarang pun, saat berkumpul kami masih sering mengingat dan menertawakan candaan kami selama di kapal. Sampai saat ini tawa itu berderai kencang sampai terkadang air menitik di ujung mata kami.

Sampai saat ini aku masih sering mengomeli Arnel yang dengan pedenya tidur dalam posisi full fetal sehingga makan banyak tempat ketika yang lain sudah tidur dalam posisi lurus kaku. Ya, untuk menghemat biaya, kami berempat hanya menyewa satu kamar hotel saja sehingga kami berempat tidur berdesak-desakan di atas satu ranjang single. Dan sampai saat ini dia masih terus mengelak dengan berseru, “tapi kan masih muat!”

di sela sempit itu saya kemudian tidur -___-"

Namun bagaimana pun juga, bagian yang paling membuat perjalanan tersebut tak terlupakan, pastinya bagian ketika kami harus menyeberang dari Ulu ke Mahoro menggunakan kapal katinting di bawah guyuran hujan. Bagai kucing disiram air, kami berempat menggigil kedinginan, sambil sesekali menjerit-jerit karena tertampar cipratan air laut. Kami berempat pun meringkuk, mencoba menghindari cipratan air laut tersebut dengan sepotong terpal berukuran 2×1,5 meter.

itu katintingnya. ga ada yang close up karena hujan.

Bahkan di tengah guyuran hujan pun, alam tak berhenti membuat kami terpukau. Ketika air laut berubah warna dari hijau jernih menjadi biru kelam pekat, menyembunyikan keagungannya dalam-dalam. Sementara itu, pulau-pulau kecil  berderet berselimut kabut. Agak lama kami tertegun melihat Pulau Buhias, salah satu dari pulau berpenghuni di cluster tersebut. bagaimana tidak, baru saja pulau tersebut tertangkap pandangan mata, kami langsung disambut dengan tulisan besar di atas atap sebuah bangunan: “SMP N 2 SITIMSEL”. Aku pun spontan menoleh memandang sekeliling, ke lautan luas yang mengelilinginya. Bangunan itu tak lepas dari mataku sampai akhirnya perahu berbelok untuk menuju Mahoro, melewati beberapa pulau batu dan pulau-pulau dengan tepian bertebing, membuatku membayangkan para pemanjat menjajalnya.

Langit tak berhenti menangis bahkan sampai kami sampai di Pulau Mahoro. Namun itu tak menghentikan kami dari berteriak histeris begitu menjejakkan kaki di pantainya yang sangat bersih, pasirnya yang lembut dan berwarna terang, saling beradu dengan riak-riak ombak berwarna hijau jernih.

karena hujan, lebih hangat di dalam air daripada di pantai

Sekali lagi, i couldn’t ask for better partners. Normalnya, mungkin orang akan bete dengan situasi yang kami alami waktu itu. Sudah jauh-jauh pergi menyeberang laut untuk bersantai di pantai, eh, malah hujan. Perjalanan dengan katinting pun rasanya jauh dari nyaman. But we all agreed, there was no use in being grumpy, might as well we enjoyed all the situation. So we did.

Lelah bermain air, kami kembali menggigil kedinginan. Untungnya ada sebuah cerukan di tebing yang bisa kami gunakan untuk berteduh dan bersembunyi dari terpaan angin. Disitu lah kami makan dan foto-foto dengan berbagai gaya. Dan kemudian sebuah ide iseng terlintas di kepala kami. Di tengah rintik gerimis, di pulau terasing, di usia kepala 2, kami berempat main engklek. That’s just one of our ways to enjoy our time.

ceruk tempat kami berteduh

engklek bahasa indonesianya apa sih ya?

bukan lagi marahan

Walaupun cuma sebentar saja kami di Mahoro, rasanya betul-betul memuaskan. Dan melelahkan. Tak seperti waktu berangkat ke Siau dimana kami menyewa 2 kamar kapal dan end up menggunakan satu saja sebagai basecamp untuk main kartu, pulangnya kami hanya menyewa 1 kamar untuk berhemat. Tapi pada akhirnya belum juga jangkar diangkat, kami sudah tertidur. Dengan posisi yang somehow tidak normal.

Sampai sekarang Arnel masih sering tertawa terbahak-bahak kalau menceritakan gelinya dia terbangun dan melihat Basten tidur di ranjang atas sementara Inda duduk meringkuk bersandar dinding di dekat kakinya. Kemudian dia cuma bakal nyengir kalau kuingatkan dia dengan kurang ajarnya tahu-tahu menumpuk semua bantal dan guling di kakiku dan dengan entengnya tidur di atasnya. Setelah 10 menit, kubangunkan karena kakiku mulai mati rasa, masih dengan mata tertutup dan nada cuek dia cuma menyahut, “kenapa? Kedinginan lagi?” Betul-betul durhaka memang anak itu.

Perjalanan kemarin mungkin bukanlah perjalanan yang paling ideal ataupun nyaman. Tapi aku sangat menikmatinya. Segala kesulitannya justru membuatnya lebih berkesan dan tak terlupakan. Di masa mendatang, mungkin aku atau ketiga temanku itu akan datang kembali ke Mahoro, atau berpetualang ke tempat-tempat indah lainnya. Bisa jadi juga ke tempat yang lebih indah dan tak kalah berkesan dari Mahoro. Namun persis seperti yang dikatakan Arnel di pagi sepulang dari Mahoro, ketika aku mengantarkannya ke Paal 2 tempat dia menunggu angkot kembali ke Airmadidi,

"tapi emang beneran ya.. kemaren itu sesuatu banget.." :D