Archives

All posts for the month September, 2011

Alhamdulillah ya, Mahoro itu sesuatu banget..

Published September 16, 2011 by hypocrisyoftheday

“Kalau kita mau pulang dari Mahoro trus hujan gimana dong? Kalo ga hujan sih, alhamdulillah ya..tapi kalau hujan, sesuatu banget tuh!” kata Inda sebelum kami berangkat ke Pulau Mahoro. Dan kami pun cuma tertawa mendengarnya.

Dari dulu aku selalu percaya bahwa “it’s not the destination that matters, it’s the journey”. namun baru bulan lalu aku benar-benar memahami makna kalimat tersebut.  Ternyata, ketika destination-nya begitu indah pun, yang kemudian terasa paling berkesan tetaplah journey-nya.

It’s not the destination that matters, it’s the journey. Dan salah satu bagian terpenting dari journey tersebut adalah orang-orangnya, alias partner perjalanannya. And i couldn’t ask for better partners than those who went there with me: Inda, Basten, dan Arnel. Berempat, kami membuat perjalanan tersebut memorable dengan canda di setiap suasana. Mengisi waktu dengan bermain kartu di kapal, saling hina saling cela, dan saling mengutip ayat Alkitab untuk menghibur pemain yang kalah. Menertawakan Arnel yang paling penuh tipu muslihat, namun paling sering ngocok kartu. Sampai sekarang pun, saat berkumpul kami masih sering mengingat dan menertawakan candaan kami selama di kapal. Sampai saat ini tawa itu berderai kencang sampai terkadang air menitik di ujung mata kami.

Sampai saat ini aku masih sering mengomeli Arnel yang dengan pedenya tidur dalam posisi full fetal sehingga makan banyak tempat ketika yang lain sudah tidur dalam posisi lurus kaku. Ya, untuk menghemat biaya, kami berempat hanya menyewa satu kamar hotel saja sehingga kami berempat tidur berdesak-desakan di atas satu ranjang single. Dan sampai saat ini dia masih terus mengelak dengan berseru, “tapi kan masih muat!”

di sela sempit itu saya kemudian tidur -___-"

Namun bagaimana pun juga, bagian yang paling membuat perjalanan tersebut tak terlupakan, pastinya bagian ketika kami harus menyeberang dari Ulu ke Mahoro menggunakan kapal katinting di bawah guyuran hujan. Bagai kucing disiram air, kami berempat menggigil kedinginan, sambil sesekali menjerit-jerit karena tertampar cipratan air laut. Kami berempat pun meringkuk, mencoba menghindari cipratan air laut tersebut dengan sepotong terpal berukuran 2×1,5 meter.

itu katintingnya. ga ada yang close up karena hujan.

Bahkan di tengah guyuran hujan pun, alam tak berhenti membuat kami terpukau. Ketika air laut berubah warna dari hijau jernih menjadi biru kelam pekat, menyembunyikan keagungannya dalam-dalam. Sementara itu, pulau-pulau kecil  berderet berselimut kabut. Agak lama kami tertegun melihat Pulau Buhias, salah satu dari pulau berpenghuni di cluster tersebut. bagaimana tidak, baru saja pulau tersebut tertangkap pandangan mata, kami langsung disambut dengan tulisan besar di atas atap sebuah bangunan: “SMP N 2 SITIMSEL”. Aku pun spontan menoleh memandang sekeliling, ke lautan luas yang mengelilinginya. Bangunan itu tak lepas dari mataku sampai akhirnya perahu berbelok untuk menuju Mahoro, melewati beberapa pulau batu dan pulau-pulau dengan tepian bertebing, membuatku membayangkan para pemanjat menjajalnya.

Langit tak berhenti menangis bahkan sampai kami sampai di Pulau Mahoro. Namun itu tak menghentikan kami dari berteriak histeris begitu menjejakkan kaki di pantainya yang sangat bersih, pasirnya yang lembut dan berwarna terang, saling beradu dengan riak-riak ombak berwarna hijau jernih.

karena hujan, lebih hangat di dalam air daripada di pantai

Sekali lagi, i couldn’t ask for better partners. Normalnya, mungkin orang akan bete dengan situasi yang kami alami waktu itu. Sudah jauh-jauh pergi menyeberang laut untuk bersantai di pantai, eh, malah hujan. Perjalanan dengan katinting pun rasanya jauh dari nyaman. But we all agreed, there was no use in being grumpy, might as well we enjoyed all the situation. So we did.

Lelah bermain air, kami kembali menggigil kedinginan. Untungnya ada sebuah cerukan di tebing yang bisa kami gunakan untuk berteduh dan bersembunyi dari terpaan angin. Disitu lah kami makan dan foto-foto dengan berbagai gaya. Dan kemudian sebuah ide iseng terlintas di kepala kami. Di tengah rintik gerimis, di pulau terasing, di usia kepala 2, kami berempat main engklek. That’s just one of our ways to enjoy our time.

ceruk tempat kami berteduh

engklek bahasa indonesianya apa sih ya?

bukan lagi marahan

Walaupun cuma sebentar saja kami di Mahoro, rasanya betul-betul memuaskan. Dan melelahkan. Tak seperti waktu berangkat ke Siau dimana kami menyewa 2 kamar kapal dan end up menggunakan satu saja sebagai basecamp untuk main kartu, pulangnya kami hanya menyewa 1 kamar untuk berhemat. Tapi pada akhirnya belum juga jangkar diangkat, kami sudah tertidur. Dengan posisi yang somehow tidak normal.

Sampai sekarang Arnel masih sering tertawa terbahak-bahak kalau menceritakan gelinya dia terbangun dan melihat Basten tidur di ranjang atas sementara Inda duduk meringkuk bersandar dinding di dekat kakinya. Kemudian dia cuma bakal nyengir kalau kuingatkan dia dengan kurang ajarnya tahu-tahu menumpuk semua bantal dan guling di kakiku dan dengan entengnya tidur di atasnya. Setelah 10 menit, kubangunkan karena kakiku mulai mati rasa, masih dengan mata tertutup dan nada cuek dia cuma menyahut, “kenapa? Kedinginan lagi?” Betul-betul durhaka memang anak itu.

Perjalanan kemarin mungkin bukanlah perjalanan yang paling ideal ataupun nyaman. Tapi aku sangat menikmatinya. Segala kesulitannya justru membuatnya lebih berkesan dan tak terlupakan. Di masa mendatang, mungkin aku atau ketiga temanku itu akan datang kembali ke Mahoro, atau berpetualang ke tempat-tempat indah lainnya. Bisa jadi juga ke tempat yang lebih indah dan tak kalah berkesan dari Mahoro. Namun persis seperti yang dikatakan Arnel di pagi sepulang dari Mahoro, ketika aku mengantarkannya ke Paal 2 tempat dia menunggu angkot kembali ke Airmadidi,

"tapi emang beneran ya.. kemaren itu sesuatu banget.." :D

Mahoro Island – hidden paradise in North Sulawesi

Published September 16, 2011 by hypocrisyoftheday

“Ke Pulau Mahoro yuk!”

Terhitung hanya 5 hari saja berselang antara kali pertama ide tersebut tercetus dan hari keberangkatan kami ke salah satu pulau di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro ini. Diwarnai galau dan khawatir karena minimnya informasi mengenai akses ke pulau tersebut, setengah ragu setengah nekat, berangkatlah kami berempat – aku, Arnel, Inda, dan Basten – berpetualang ke Mahoro.

Untuk mencapai Pulau Mahoro, sebelumnya kami harus naik kapal ke Pulau Siau, letak dari pusat pemerintahan dari kabupaten ini. Dari Manado, ada 2 pilihan kapal menuju Siau, yaitu dengan kapal cepat dan kapal malam. Kapal cepat berangkat dari pelabuhan Manado pukul 09.00 WITA dengan harga tiket sebesar Rp 150.000,00 dan sampai di Siau sekitar pukul 13.00 WITA. Namun karena satu dan lain pertimbangan, kami memutuskan untuk naik kapal malam yang berangkat pukul 18.00 WITA. Dengan membayar Rp 60.000,00, penumpang bisa melewatkan perjalanan diranjang susun yang berderet bagaikan barak. Namun, kalau mau lebih nyaman, bisa juga sewa kamar ABK dengan tambahan biaya sebesar Rp 180.000,00/kamar, dimana 1 kamar bisa digunakan oleh 2 orang.

Perjalanan menggunakan kapal malam menuju Siau kami tempuh dalam waktu kurang lebih 7 jam. Sekitar pukul 01.00 WITA, kapal pun akhirnya merapat ke Pelabuhan Sawang, Pulau Siau. Nah, berhubung kami sampai dini hari, kami memutuskan untuk mencari penginapan terlebih dahulu. Di pulau ini masih belum banyak hotel maupun penginapan. Yang paling sering dikunjungi adalah Hotel Jakarta di Ulu dengan tarif paling murah Rp 300.000,00/malam. Ada juga penginapan Wisata Bahari dengan tarif Rp 75.000,00/malam yang juga terletak di Ulu. Kebetulan, untuk mencapai Mahoro memang harus menyeberang dari Ulu. Nah, dari Sawang ke Ulu ini kami naik mobil angkutan yang kata kenalan di Siau bilang, namanya mobil daster. Entah deh itu mobil jenis apa. Bentuknya sih seperti bemo besar kali ya, masuknya dari belakang, duduknya di bangku panjang, hadap-hadapan. Kenapa namanya mobil daster? Katanya sih karena kalau diberdirikan motifnya jadi seperti daster. Masalahnya, siapa coba yang begitu isengnya ngeberdiriin mobil?

Untuk mencapai Pulau Mahoro dari Pulau Siau belum ada angkutan tetapnya, tapi kita bisa menyewa perahu nelayan atau speedboat. Sebelumnya kami sempat bertanya pada pegawai hotel berapa kisaran biaya untuk sewa perahu tersebut dan katanya, untuk perahu katinting kecil sekitar Rp 250.000,00, sedangkan speedboat Rp 450.000,00. Hanya saja, ketika berusaha nego dengan sang nelayan, dia ngotot bertahan di harga Rp 500.000,00 untuk perahu katinting dengan alasan sudah 3 hari mereka kekurangan pasokan bensin. Karena sudah terlanjur sampai di Siau, kami pun akhirnya sepakat di harga Rp 400.000,00. Terutama setelah melirik antrian panjang di pompa bensin kecil di samping pasar. Jangan bayangkan SPBU besar dan bersih seperti di kota besar, disini pompa bensin yang dimaksud penampakannya seperti warung kecil dengan logo pertamina, entah disebelah mana tangkinya berada.

Dalam cuaca cerah, perjalanan dari Siau ke Mahoro dengan perahu bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih satu jam saja. Selepas dari Ulu, menoleh ke belakang, kita akan bisa melihat gagahnya Gunung Karangetan di Pulau Siau, lengkap dengan selarik warna hitam yang menandakan jalur lavanya, menambah kesan garang. Gunung vulkanik ini sampai sekarang masih aktif. Bahkan, di malam hari kita bisa melihat lahar berwarna merah menyala di puncaknya.

Memandang sekeliling, warna air dalam sekejap berubah menjadi biru pekat. Di kanan-kiri banyak pulau-pulau, mulai dari pulau besar yang memang tempat kehidupan masyarakat seperti Pulau Buhias, sampai pulau-pulau batu yang menjadi tempat peraduan ombak. Beberapa di antaranya bahkan membentuk tebing yang membuatku penasaran, kira-kira bisa dipanjat atau tidak ya. Namun karang-karang yang bercokolan di sekelilingnya seketika membuat nyaliku ciut. Sedangkan Mahoro sendiri.. Ah, betapa girang kami berempat ketika pulau kecil ini terlihat.

Begitu perahu merapat ke pulau, kami serentak meloncat keluar, disambut air laut berwarna hijau jernih, yang menambah eksotisme pasir putih lembut yang membuat kami bersorak girang begitu menyentuhkan telapak kaki ke atasnya. Bukit yang dipenuhi pepohonan hijau pun menambah asrinya pemandangan. Tanpa mempedulikan gerimis yang menerpa, kami berlarian kesana-kemari bagai anak kecil. Dan ketika dingin mulai merayapi kulit, kami pun berhambur ke air laut. Ah, sayangnya karena hari itu hujan, tak banyak foto yang bisa kami ambil.

Hari itu matahari bersembunyi di balik awan kelabu, namun bahkan kabut pun tak mampu menyembunyikan keindahan di sekeliling Pulau Mahoro dan pulau-pulau di sekitarnya.

Hari itu, aku memandang ke sekeliling, lautan yang luas, pulau-pulau tak berpenghuni, pantai-pantai dengan pasir putihnya yang lembut, dan sekali lagi aku diingatkan, Indonesia itu indah, kawan! Berpetualanglah!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.