Tadi malam, sebuah tweet membuatku jadi galau:
LaurentAde @donnacorle and officially i should say: gudbai jogjahh..
Satu tweet itu entah kenapa seketika memancing banyak sekali pertanyaan dan pemikiran di kepalaku. Meskipun semuanya bersumber dari sebuah kalimat tanya, train of thoughts yang mengikutinya ternyata sangat random. Maka maafkan kalau post kali ini terasa begitu acak. Dan dari sinilah semua bermula:
How do we measure friendship?
By the length of time we know the person? By the amount of time we spend together? By how frequently we hang out together? Geographicly? or by any other standards?
Case 1 – Rahmanti.
Sad to say, indeed, I didn’t have any close friends until my third year of junior high. And her name was Rahmanti. Dulu kami berdua bener-bener nyambung. Kemana-mana sama-sama. Selera musik, bacaan, dan leluconnya sama. We finished each other’s sentences. Bahkan setelah lulus kami pisah sekolah pun, kami masih sering sama-sama. Sampai aku kuliah di Jakarta pun, kami masih sering surat-suratan. Tapi sekarang? Nyaris nothing. I still care for her, it’s just not so easy to pick up what we left off.
Case 2 – Laurentius Ade.
Dia adalah senior KMK STAN. Dia lulus waktu aku masuk tingkat 1. Kalau diingat-ingat, ga bisa ingat lho gimana kami bisa saling kenal dan jadi dekat, selain karena sering ketemu di Hiu 6. Padahal kalau cuma itu, lha disana lho banyak kakak-kakak senior lain. Dulu waktu aku masih tingkat 1, hampir tiap hari kami sms-an. Pertama kali aku naik gunung pun, karena disubsidi sama dia
. Sampai dia penempatan di Saumlaki pun, kadang kami masih smsan. The friendship remains walau dia sempat tinggal ngesot sampai ke Australia. Sampai akhirnya 4 tahun kemudian dia di-mutasi ke Jogja, kami jadi makin sering kontak, jalan bareng tiap aku pulang kampung, bbm-an. Dan ketika dengar kabar dia bakal mutasi ke Jakarta, i just know Jogja won’t feel the same anymore.
Case 3 – Jati Nugroho.

Sama-sama senasib sial, jadi bagian dari 150 orang penempatan BPKP yang pengangkatannya tertunda setahun. Lucunya adalah, selama sama-sama di DKI 1, kami berdua nyaris ngga pernah ngobrol. Dia di lantai 3, aku di lantai 4. Sekali-sekalinya ngobrol, karena ada orang pemda jajahannya mau konsultasi soal SIMDA dan telponnya ke aku. Waktu diklat di Ciawi pun, dia di gedung baru dan aku di gedung lama. Disinilah kami mulai ngobrol. Itu pun, ngobrolnya lewat twitter. Setelah penempatan, jadi makin sering ceng-cengan di twitter, becandaan di Y!M, dan setelah aku beli blackberry, sempat hampir tiap hari bbm-an ngga jelas. Bahkan, untuk suatu perkara, dia lah yang kuajak sharing. Padahal, aku di ujung utara Indonesia, dianya di ujung barat.
Case 4
Beberapa teman KMK di Manado. yang mana KMK itu adalah singkatan dari Keluarga Mahasiswa Katolik. Yang mana yang menjadi bagian dari Keluarga itu adalah saudara. Namun pada kenyataannya, walau 3 tahun sama-sama menjadi bagian dari sebuah Keluarga waktu di kampus, walau penempatan di kota yang sama, kami nyaris ngga pernah ketemu. Kami nyaris ngga pernah kumpul-kumpul, sekedar Gereja bareng atau ngegosip. Kadang kalau kumat sih kepikiran, so much for a family.
Case 5 – Engelbert.
Si tengil ini juga bagian dari KMK. Tapi dia KMK kabur-kaburan. Jarang ikutan kumpul, jarang ikutan doa bareng. Baru akhir-akhir aja dia entah bagaimana cerita awalnya, tahu-tahu jadi bagian dari crew Pectria, buletinnya KMK, sama-sama denganku. Lucunya adalah, kalo kami bareng, nyaris ngga pernah ngga ribut. Yang lebih lucu lagi adalah, 2 tahun setelah lulus, setelah aku penempatan ke Manado, tiap aku ke Jakarta, dia yang kuajak ketemuan. Dan….. walau tetap menyebalkan dan ngajak ribut, eh, ternyata dia bisa jadi baiiiiik banget kalo lagi jalan berdua
. Sampai-sampai aku bingung, ini beneran Engel kan? Dan walau dia selalu ngomel-ngomel, dia juga selalu bikin ngakak tiap aku insomnia dan kumat isengnya, nelpon dia tengah malam. Dan ini yang paling bikin aku ngga bisa ngga senyum kalau inget dia: tiap ada gempa atau gunung meletus atau apapun di Sulut, dia yang ngga pernah absen ngetwit, “Ron, lo masih idup kan? Lo baik-baik aja kan?”
Case 6 – Arneldi.

First saw him on the panel on December 2010. Setelah beberapa kali cuma bisa kagum liat dia jago main pump, pada pertengahan Januari dimulailah hari-hari random kami. Kebetulan dia duduk sendirian nunggu giliran main. Iseng, aku duduk di sebelahnya. Sambil dalam hati mikir-mikir, “hmmm.. mau bilang apa ya?”, eh, dianya celingak-celinguk terus. Dan before i knew it, udah keucap aja, “gelisah amat?”. Dia yang kaget karena tau-tau kuajak ngomong langsung noleh dan dengan ramahnya senyum ala Nyong Manado dan jawab, “iya, nunggu temen soalnya.” Mendengar logatku (or lack thereof), dia pun sadar aku bukan orang Manado, dan karena dia sendiri pun bukan, mulailah kami commiserating soal merantau di Manado. dan ternyata obrolan kami nyambung. Kali ketiga ketemu, kami tukeran nomor hp. Dan sejak saat itu, kami hampir selalu nongkrong bareng. Dia ngajarin aku main pump, aku bayarin credit-nya -____-“. Being with him is so refreshing, pure fun. Dan walau baru kenal belum lagi genap setengah tahun, bisa dibilang aku lebih dekat dengannya daripada dengan orang-orang lain yang mungkin sudah kukenal bertahun-tahun. Berdua, kami bisa ngobrolin begitu banyak hal yang terkadang bisa jadi sangat random, bahkan bisa ngga putus-putus semalam suntuk. Yah, walau anaknya kadang bisa jadi sangat menyebalkan. Misalnya kalau udah mulai ngaret. Padahal aku paling kesel sama orang yang ngaret.
Case 7 – Bustanul Maftuhin.
Ah, capek cerita soal dia. Baca ulang disini aja deh.
Case 8 – Buchori Nahar.

He’s one of my closest dearest friends and most respected seniors. Walau rentang umur kami sangat jauh, dan geographically juga sekarang sangat jauh, dia salah satu orang pertama yang sering kumintai pendapat kalau aku lagi galau
. We share many random things, mulai dari teori-teori psikologi, sampai my love life (or, again, lack thereof). Kadang aku mikir, duh, kekanak-kanakan banget semua ceritaku ini, pasti abangnya bosen ngebacanya dan mikir labil banget sih anak ini, ngga penting banget sih. Yet, dia selalu menyimak ceritaku, dan ngasih feedback yang kadang ngga terduga. Dan… sering banget bikin nangis..
Whenever i think of him, i thank my Lord. Hey, ngga semua orang punya kesempatan bisa ngobrol nyantai sama senior yang dikenal galak dan nyebelin dan banyak maunya kan? Dengan entengnya ngeceng-cengin pula…
dan dia selalu bikin aku terpingkal-pingkal tiap dia cerita soal Rana, anaknya, yang ternyata bertipe Corleone mentok akut. Sama sepertiku.
Case 9 – Andreas Avelinus Nova Kharismawan.

Yak, entah kenapa memang dari dulu teman dekat ku itu ya teman berantem. Yang ini dari jaman SMP, malah. Dengan kata lain, kami sudah saling kenal dan saling hina selama lebih dari satu dekade. Dengan kurang ajarnya, aku menyebutnya budak seumur hidup. Tentu saja dia menyangkal. Tapi walau kami jarang sms-an/telpon-telponan/bbm-an, dia selalu paling bisa diandalkan buat nemenin kemana-mana tiap aku pulang kampung. Bahkan, jadi sopir ke Magelang waktu nikahannya Terong-Uka kemarin. Dan dia… selalu ngasih feedback yang jujur. No sugar-coating cuma buat nyenengin atau ngejaga perasaanku. For that, i should be grateful.
Last case, for it gets boring.

Masyhur Aziz Hilmy, Marchelina Cindy Kumala Hayati, Retno Ayuningtyas, Nurul Istiningdyah Triadanti, dan Arry Mukti Prabowo. Atau dengan kata lain: Corleone. Aku takut kata-kata justru akan gagal menggambarkan betapa besar arti mereka dalam hidupku. Yang jelas, karena dulu aku ikut kelas Aksel, otomatis masa SMA-ku Cuma 2 tahun. Dan karenanya banyak yang bilang, “kasian banget kamu, masa SMA kan paling menyenangkan, 3 tahun aja kurang.” Tapi kalau aku disuruh memilih antara 3 tahun SMA tanpa Corleone dan 2 tahun SMA dengan Corleone, aku pilih yang kedua. Padahal Corleone baru terbentuk dan mulai sering jalan bareng di tengah tahun terakhirku di SMA. Walau sekarang kami terpencar dimana-mana – Kyoto, Cirebon, Jakarta, Jogja, Sumbawa, dan Manado – aku selalu merasa Corleone selalu bisa jadi tempat untuk “pulang”. Lucunya, walau terhitung jarang kontak-kontak, aku merasa bahwa ikatan di antara kami tetap kuat. Terbukti dari waktu ke waktu, bergantian, ada saja yang mention seluruh Corleone di twitter untuk sekedar bilang, “aku kangen.”
Beberapa saat yang lalu, kubaca di update status BBM Puspa kurang lebih begini: “you know him for less than a year and you call him your brother?”. Dan seketika terpikirlah si Arnel. Yes, why not? (padahal bukan buatku juga itu status, sok ge er aja sih). Karena ternyata banyak juga teman-teman yang kukenal bertahun-tahun, tapi jangankan sharing ini itu, sekedar diajak makan malem bareng aja kayaknya belum tentu mau.
Tak lama kemudian, Inda pun nge-twit, “some friends come, and some friends go.” Sad to say, it’s an evitability. Teman kemana-mana sekarang ternyata belum tentu bakal tetap keep in touch 5 tahun ke depan. You never know what evil time and distance can do to your life. Bahkan sekarang pun ketika hampir tiap hari hang out sama Arnel and we seem to be so close, kadang aku bertanya-tanya, kira-kira 10 tahun lagi kita masih kontak-kontak ga ya? Masih bisa se-random ini ngga ya? Masih temenan ngga ya? Sama seperti status bbm-ku beberapa minggu lalu: will we remain to be friends as we grow old and gray? (Dan sama seperti waktu baca tweet-nya Engel, mau ngga mau aku jadi nyengir karena waktu aku bilang gitu ke Arnel, dia jawab, “Tenang aja, pasti masih kok, selama aku masih hidup.”)
So how do we measure friendship? I don’t think we can.
Untuk saat ini, cukuplah buatku bahwa kalau ada orang yang bisa kuajak makan bareng, atau sms-an, atau bbm-an, atau telpon-telponan, ngobrol ini itu, curhat, ceng-cengan, atau main pump sampai berdarah-darah (literally, it happened last night) dan selama itu aku bisa enjoy, then i should be grateful. Life isn’t easy, life isn’t fair, dan selama ada mereka buat jadi tempat buat “pulang”, buat “nyandar”, buat ngebikin aku nangis ketika semua udah bener-bener depressing, then i should be grateful.
And if there’s a similarity between twitter and my relationship with my friends, it is that things don’t always have to be mutual. All i know is i care for them and that they mean so much to me, whether or not they feel the same about me. However insignificant i might be in their lives.


