Salah satu “beauty of technology” adalah ketika posisimu di ujung belalai Pulau Sulawesi, kamu tetap bisa tahu kabar terbaru dari teman-temanmu di berbagai penjuru negeri, termasuk kabar bahwa masing-masing dari mereka telah menetapkan pilihan petualangannya di super long weekend yang lalu. Dari twitter kamu bisa tahu kalau Depex dan beberapa adek-adek STAPALA-mu sedang dipenuhi adrenalin dan euforia menyambut pendakian gunung tertinggi di pulau Jawa. Dari SMS kamu tahu kalau Moset dan rombongannya berencana ke Krakatau. Dari BBM kamu tahu Jati dan teman-teman di Aceh siap menyambangi Sabang. Dan satu-satunya cara untuk mencegah “beauty of technology” berubah menjadi “evil of technology” adalah dengan merencanakan petualanganmu sendiri sehingga kamu tidak perlu menghabiskan satu minggu berikutnya menahan desakan untuk membanting blackberry-mu karena iri oleh catatan perjalanan mereka. And so, that was exactly what i did. I went on my own adventure. Aku mendaki Gunung Klabat.

Mungkin namanya tak terdengar segagah Semeru atau seeksotis Krakatau. Bahkan, mungkin sebagian besar dari kalian belum pernah mendengar nama gunung ini. Now, ain’t that a coincidence? Maka dengan membaca post ini, pengetahuan kalian akan bertambah.

Terletak di Airmadidi, Kabupaten Minahasa Utara, Gunung Klabat merupakan gunung tertinggi di Sulawesi Utara. Oke, rajam saja aku atas apa yang akan kutulis berikutnya, karena harus kuakui aku tak tahu pasti berapa ketinggian gunung ini. Beberapa catatan perjalanan yang kubaca di internet menyebutkan variasi antara 1.995 mdpl, 2.000 mdpl, dan 2.100 mdpl. Yang jelas, berkisar di 2.000 mdpl. Yang menarik adalah, berbeda dengan gunung-gunung Jawa Barat yang sebelumnya kudaki, start point pendakian gunung ini tergolong rendah, bisa dipastikan di bawah 500 mdpl. Dengan kondisi tersebut, tidak mengherankan kalau dibutuhkan waktu sekitar 8 jam untuk mencapai puncaknya. Faktor ketinggian, dan faktor jalur. Silakan lanjut membaca.

Banyak cara untuk mencapai start point pendakian, yaitu Polsek Airmadidi, dari kota Manado. Mulai dari motor, bawa mobil sendiri, taksi, jalan kaki, dan tentu saja selalu ada angkot, moda transportasi yang kami pilih kemarin. Dari samping Gereja Sentrum, kami naik angkot menuju terminal Paal 2 selama kurang lebih 15 menit, dilanjutkan dengan angkot Paal 2-Airmadidi selama kurang lebih 30 menit. Dari terminal Airmadidi hanya dibutuhkan 5-10 menit jalan kaki untuk mencapai Polsek, dimana kita wajib lapor sebelum memulai pendakian. Hanya lapor dan mengisi buku register pendaki, tanpa dipungut biaya apa pun. Dan setelah melapor, you’re good to go.

Start Point – Pos 1
Seperti yang sudah kusebutkan sebelumnya, dibutuhkan waktu sekitar 8 jam untuk bisa mencapai puncak gunung Klabat. Dan dalam rentang waktu 8 jam tersebut, kita akan melewati 6 pos dengan karakteristik dan jalur yang berbeda-beda. Pos pertama, atau Pos 1, berada kurang lebih sejauh 60 menit perjalanan dari start point. Untuk mencapai Pos 1 ini, kita akan melewati jalan aspal sejauh kurang lebih 10-15 menit, sebelum kemudian memasuki jalan setapak dan perkebunan penduduk yang agak tricky. Kenapa? Karena artinya disini banyak persimpangan. Adapun entrance jalur pendakian adalah blok jalan paving sejauh sekitar 500 meter yang bisa ditemukan setelah 10-15 menit meninggalkan jalan aspal.

Dengan disebut-sebutnya jalan aspal, perkebunan penduduk, dan blok paving, bisa disimpulkan bahwa jalur dari start point menuju Pos 1 tergolong masih ringan. Silakan simpan tenaga untuk kejutan berikutnya.

Pos 1 – Pos 2
Hampir semua catatan perjalanan dan testimoni pendaki yang kutemukan sebelum pendakian menyebutkan bahwa jalur terberat adalah jalur Pos 5 – Pos 6, sedangkan jalur Pos 1 – Pos 2 digambarkan dengan “jalan setapak di antara pohon-pohon besar”. Tidak, aku tidak bilang mereka bohong, karena memang kondisi itu benar sekali. Yang tidak mereka sebutkan adalah adanya bebatuan di sepanjang jalur yang membuatnya terjal. Dan menggoda pendaki untuk mulai scrambling. Selama sekitar 1 – 1, 5 jam.

Apa? Baru Pos 1 ke Pos 2 sudah harus scrambling, katamu? Ya memang! Mungkin itu sebabnya, beberapa pendaki memilih untuk rehat dulu begitu mencapai Pos 2, buka tenda dan nge-camp sebelum memulai pendakian lagi hari berikutnya. Pos 2 berupa daerah yang terbuka, dan cukup luas untuk setidaknya 2 tenda. Selain itu, juga terdapat sumber air yang bisa ditemukan di dekat Pos 2.

Oh ya, rekan-rekan KPA Adventure dan Tunas Hijau sudah cukup berbaik hati memasang tanda “Pos 2” dan panah penunjuk lokasi air di pos ini. Jadi kalau kamu menemukan daerah terbuka tanpa salah satu maupun kedua tanda tersebut, maka itu bukan pos 2, melainkan pos bayangan. Jangan menyerah!

Pos 2 – Pos 3
God is fair. He always is. Maka dari itu, setelah lelah scrambling sebelumnya, jalur Pos 2 ke Pos 3 tergolong cukup ramah dengan waktu tempuh kurang lebih sama dengan Pos 1 ke Pos 2. Pos 3 ini juga cukup luas, muat untuk 2-3 tenda dan juga terdapat sumber air. Hanya saja, airnya berwarna agak kuning, sehingga ketika paginya aku meminumnya dan dilihat oleh beberapa mahasiswa Universitas Klabat, mereka sempat bercanda mengira itu Cap Tikus. Seriously, don’t they know drunk-hiking could kill?

Pos 3 – Pos 4.
Dari Pos 3 menuju Pos 4, jalur mulai menanjak namun belum menuntut scrambling. Menariknya adalah, setelah beberapa lama berjalan, terdapat sebuah persimpangan samar yang mana kalau kita lurus, pos 4 bisa dicapai dalam waktu yang surprisingly cepat, kurang lebih 30-45 menit. Sedangkan kalau ke kanan, kita akan dihadapkan pada jalur yang sangat menantang, didominasi bebatuan terjal dengan dua kali lipat tingkat kesulitan dan waktu tempuh. So, watch your step. Seriously.

Pos 4 – Pos 5
Menariknya dari pendakian kali ini adalah bahwa setiap pos dan potongan jalur memiliki karakteristik yang masing-masing menarik. Nah, yang menarik dari Pos 5 adalah area terbukanya tergolong sempit untuk sebuah pos, mungkin hanya muat 1 tenda kapasitas 3 orang. Justru 2 pos bayangan sebelum Pos 5 yang tergolong cukup luas, cukup untuk setidaknya 2 tenda kapasitas 6 orang.
Di musim hujan, di dekat Pos 5 juga terdapat sumber air.

Kebanyakan pendaki biasanya menargetkan untuk nge-camp di Pos 6, namun setelah lelah scrambling dan perjalanan kurang lebih 1 jam dari Pos 4, pos bayangan dan pos 5 biasanya begitu menggoda iman. Apalagi dengan momok bayangan kejamnya jalur menuju Pos 6 yang menghantui.

Pos 5 – Pos 6
Dan sampailah kita pada bagian paling menyiksa dari pendakian Gunung Klabat. Selama 1,5 sampai 2 jam kemudian kita sepenuhnya scrambling di jalur yang didominasi oleh bebatuan terjal dan pepohonan yang melintang di sana-sini. Sama sekali tidak ada bonus kali ini. Selain itu, kita juga harus lebih berhati-hati karena kita berjalan melewati jalur air, sehingga jalannya agak licin.

Setelah satu jam berjalan, jalur mulai terbuka walau vegetasi masih tergolong rapat oleh pepohonan yang menjulang tinggi. Mendongaklah, dan kamu akan bisa melihat langit terbuka mulai tampak semakin dekat. Teruslah berjalan, dan kamu bisa melihat di atas sana vegetasi semakin jarang dan rendah sementara gemuruh angin terdengar semakin kuat. Seharusnya puncak sudah dekat. Tapi kalau kamu sudah terlalu capek, sama seperti kami kemarin, harapan itu terkadang datang terlalu awal.

Gunung ini menipu! Beberapa kali kami mendongak, melihat pohon yang rendah di bawah langit terbuka dan berseru dipenuhi excitement, “wah! Habis!” untuk kemudian dipatahkan dengan kejamnya, “Sial, masih ada lagi..” selama beberapa kali.

setelah rela ngga rela dibangunin jam 4 pagi, nemenin jalan dari pos 5 ke puncak :)

Pos 6 sendiri berupa daerah terbuka dan datar. Sekilas, daerah ini terlihat sempit, namun kalau kita berjalan sedikit melewati jalan setapak di tengah alang-alang, ternyata masih ada lagi tempat untuk membuka tenda. Setidaknya 7 tenda bisa didirikan di area Pos 6. Selain itu, di dekat Pos 6 terdapat sumber air yang cukup bersih. Dan yang paling menyenangkan dari pos 6 adalah fakta bahwa puncak gunung hanya tinggal 30 menit jauhnya.

Puncak
Tiga puluh menit saja waktu yang dibutuhkan untuk bisa mencapai puncak dari Pos 6. Tiga puluh menit tanpa scrambling walau masih ada beberapa batang pohon melintang di jalan. Hutan yang sedari Pos 2 masih begitu rapat, hijau dan lembab, kini mulai merenggang. Jarak antar pohon pun semakin melebar, seolah membuka jalan.

Sedikit lagi. Sedikit lagi.
Tak ada yang bisa menyampaikan pesan itu dengan lebih jelas dari sentuhan lebatnya alang-alang yang berayun ditiup dinginnya angin puncak di kulitmu. Tidak ada tanjakan setan seperti di Gunung Gede via cibodas, atau bau belerang yang menusuk seperti di Ciremai. Hanya alang-alang dan embun pagi yang mereka sentuhkan, membasahi sekujur badanmu. It was almost like playing hide and seek. Dan kemudian…

Satu tanjakan terakhir. Dan kamu pun sampai di puncak Gunung Klabat.
Dataran terbuka yang luas dan dipenuhi alang-alang. Putar badanmu, dan dengan matamu kamu akan bisa melihat landscape Airmadidi dan Manado. Sebentuk garis lengkung dan warna biru yang mengikutinya menunjukkan air laut yang tenang. Di seberangnya, pulau-pulau kecil terlihat damai. Pun Gunung Manado Tua tampak gagah di tengah lautan. Sesekali angin dingin berhembus, bukan hanya membuatmu meringkuk menggigil, tapi juga membawa selimut kabut yang menyembunyikan indahnya pemandangan tersebut dari matamu.

Dan sekali pun puncaknya tak seagung kawah Gunung Gede yang pernah kudaki, tak semegah samudera angkasa Ciremai yang sampai sekarang masih membuatku merinding tiap mengingatnya, juga mungkin tak semengesankan puncak tertinggi Pulau Jawa yang dijejaki sahabatku tepat di waktu yang sama, hari itu ketika aku berbaring di atas matras, di tengah alang-alang dan menatap birunya langit, hanya satu kalimat yang bisa kuungkapkan: it felt reaaaaalllly great.

Setelah pacet yang menghisap darah dari sela-sela jari kakiku disingkirkan, tentunya.