“Jadi gimana, kesannya abis naik Klabat?”
Pertanyaan itu diajukan oleh Arnel sembari kami berjalan dari Pos 1 menuju Polsek Airmadidi. Anehnya, pada saat itu aku sulit menemukan jawaban yang pas. Pendakian Gunung Klabat yang lalu bukanlah pendakian pertamaku. Namun, banyak “pertama” yang kualami di Klabat.
Pendakian yang lalu adalah pendakian gunung luar Jawa Barat pertamaku. Gunung Gede yang kudaki ketika aku belum bergabung dengan STAPALA, Gunung Kencana tempat kami “dididik dan dilatih” selama 5 hari, Gunung Ciremai yang kudaki ketika Masa Bimbingan, (kaki) Gunung Salak tempat kami dilantik, Gunung Papandayan tempat wisata kabut setengah hari bersama adek-adek STAPALA-ku, semuanya terletak di Provinsi Jawa Barat. Dan siapa sangka, belum lagi sempat menyambangi gunung jawa tengah dan timur, tahu-tahu aku sudah mendaki gunung Sulawesi Utara. Gunung tertinggi di Sulawesi Utara, malah.
Baca lagi paragraf di atas, adakah yang menyadari pendakian kali ini juga merupakan kali pertama aku mendaki dengan tim non-STAPALA? Setelah melewati banyak drama dan desperation (ini khusus aku sih), dari yang tadinya ramai rombongan teman-teman kantorku mau ikut naik Klabat, akhirnya hanya tinggal 7 orang saja: aku, Eko (teman sekantorku yang sampai di puncak pun tetap mewarnai pendakian dengan drama bersama istrinya), Arnel (mahasiswa Universitas Klabat yang sekarang jadi teman nongkrong sejak ketemu dan kenalan di Pump), serta 4 orang teman baru kami, lebih tepatnya teman dari teman kantor kami: Budo, Jerry, Marlen, dan Andre.
Setiap perjalanan memiliki kisahnya sendiri. Dan sering kali, faktor yang paling mempengaruhi kisah dari sebuah perjalanan adalah orang-orang di sepanjang perjalanan tersebut. Dan mereka berenam menjadi salah satu alasan terbesar kenapa pendakian tersebut spesial. Mendaki bersama mereka, terasa berbeda sekali dengan mendaki bersama SPA. Nyaris tanpa manajemen perjalanan, nyaris sepenuhnya serta merta. Walau kalau dari segi perlengkapan, yang paling menarik bukan rekan seperjalananku, tapi tim pendaki Fakultas Pertanian, Universitas Sam Ratulangi. Bertemu di Pos 2 dan kemudian sama-sama buka tenda di Pos 6, aku takjub melihat peralatan masak mereka. Alih-alih kompor portable dan nesting layaknya pendaki umumnya, mereka membawa kompor minyak tanah biasa, juga panci dan wajan biasa. How the hell did they manage to carry those stuff through the hike?? Di rombongan lain, malah ada yang bawa gitar. Seriously? Dengan kondisi jalur yang scrambling sepanjang jalan, loncat atas dan menerobos bawah pohon tumbang? Wow.
Aku tahu kalimat berikut ini akan memancing banyak komentar dan cengiran, tapi ini benar. Dari keenam orang yang membuat pendakian kemarin spesial, yang paling berperan adalah Arnel. Bukan hanya karena dari awal dia satu-satunya orang yang secara tegas dan jelas menyatakan dia positif ikut dan kalau ditanya kapan dia bisanya selalu menjawab dengan “anytime, mommy”, well, sebelumnya kita harus mundur setengah tahun, when i first met him.
Teman-temanku sering bertanya, “Kamu kenal Arnel dimana sih?” dan biasanya nonchallantly akan kujawab dengan, “di mall.” Karena memang begitulah adanya. Long story short, pertama kali aku mengenal dia adalah waktu kami sama-sama main Pump It Up di Timezone. Setelah beberapa kali lihat dia main, iseng-iseng kusapa dia waktu kami duduk sebelahan nunggu giliran main. Eh, siapa sangka ternyata nyambung, dan sejak itu kami jadi sering hang out sama-sama.
Sepanjang pendakian, terutama ketika kami berdua duluan mendaki dari pos 5 ke puncak, kadang aku merasa, wow, lucu juga ya, dari yang tadinya complete stranger yang ketemu di pump, jadi temen deket, and as time has it, dengan rela ngga rela dia sudah menemaniku summit attack di pagi-pagi buta. Ain’t it funny what a simple “hi” could do to our lives?
Anehnya, dengan semua “pertama” itu, bahkan waktu Arnel menanyakan apa yang berkesan, aku merasa pendakian kemarin seolah seperti sesi jalan-jalan biasa, seperti kali sebelumnya kami jalan-jalan ke danau Linow, hanya saja lebih panjang, lebih melelahkan, dan lebih ekstrim. Yes, it’d be memorable. Tapi bahkan setelah malam itu kami tutup dengan main pump sama Ewin, adek pump kami, tetap saja rasanya biasa saja. Sampai hari berikutnya.
Pagi hari berikutnya, untungnya hari Minggu, aku membuka mata dalam kondisi dehidrasi. Kerongkongan dan bibirku terasa kering sekali. Masih berusaha mengumpulkan kesadaran, aku menyadari air minumku ada di atas lemari di seberang ruangan. Refleks pertamaku tentu saja berusaha bangkit. Pada detik itu juga aku merasakan rasa sakit yang amat sangat di sepanjang kedua kakiku dan juga bahuku. Aku berusaha memiringkan badan, tapi betisku terasa kaku seolah terbuat dari kayu. Menyadari apa penyebabnya, seketika itu juga aku tertawa lepas. Tawaku makin lepas terutama setelah membaca beberapa twit berikut:
eck_sur Podho wae..eh,malah diajakin futsal.. RT @donnacorle: owaaaa.. my legs are killing me.. >_< *poke @eck_sur* apa kabar yang disitu?
d_gaMbLangs bgitu bangun.. hal yang pertama ku lakukan tdi ialah.. teriak, “Annnjjjrrriiitt…!! sakit bangettt…!!” byngin @donnacorle @eck_sur
dan setiap berusaha bangkit dari tempat tidur, berusaha jongkok di kamar mandi, dan terutama setiap berusaha naik-turun tangga, seketika aku tertawa terbahak-bahak. Karena justru pada saat-saat itulah aku merasa betapa spesialnya pendakian kemarin. Big hugs to brothers in pain, Arnel and Eko. Hahahaha…
P.S. Review gunungnya menyusul..