Archives

All posts for the month June, 2011

the five panels excitement

Published June 29, 2011 by hypocrisyoftheday

Kalau biasanya, timeline-ku diwarnai dengan pertanyaan, “Pump itu apa sih?”, sekitar weekend lalu pertanyaannya berubah menjadi, “Lho, Pump ada kejuaraannya juga toh?” Lho.. tentu saja ada. Bukannya itu salah satu cara marketing biar mesinnya (makin) laku ya? Oke, jadi singkat cerita, kejuaraannya itu namanya World Pump Festival (WPF). Siapa yang berhak  ikut WPF? Yaitu wakil-wakil terbaik dari masing-masing negara. Nah, pertanyaan berikutnya tentu saja adalah: “Bagaimana menentukan siapa wakil terbaik dari masing-masing negara, atau dalam hal ini, Indonesia?” Jawabannya simpel saja kan, yaitu dengan menyelenggarakan kompetisi tingkat nasional dengan nama Indonesia Pump Festival (IPF). Adapun biasanya, preliminary round untuk IPF diselenggarakan di kota-kota besar di Jawa dan Sumatera. Namun, di minggu-minggu terakhir, keluarlah keputusan, pulau Sulawesi juga diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam IPF. Lebih tepatnya, kota yang diberi kesempatan untuk berpartisipasi adalah Manado.  

day 1 – speeder category

Inti dari kategori ini adalah menginjak pad yang tepat di waktu yang tepat. Seluruh peserta diharuskan memainkan lagu yang sama, yang ditentukan melalui sistem random dari mesin Pump dan pemenangnya ditentukan dari skor tertinggi. Kategori ini juga dibedakan lagi menjadi 2, yaitu female speeder dan male speeder. Kategori female speeder diikuti oleh 3 orang saja, yaitu Gaby (Sapphire Crew), Acid (MPC), dan  Chen-chen (MPC). Dan karenanya, pemilihan lagunya dilakukan dengan sistem random untuk kelompok lagu women’s semifinal. Kerumunan penonton yang setengahnya dipadati oleh pumper (yang otomatis tahu betul tingkat kesulitan masing-masing lagu) seketika berteriak kencang ketika hasil random yang keluar adalah lagu Necromancy Double Level 18 (D18) dan Wanna D17. Adapun untuk finalnya, lagu yang muncul adalah DJ Otada D22. Frustrasi langsung membebani para speeder, bahkan mereka yang tidak mengikuti lomba. Dan walaupun untuk lagu DJ Otada ketiganya mendapat nilai F, berdasarkan perolehan skor, Gaby lah yang muncul sebagai Juara I, Acid Juara II dan Chen-chen juara III.

  

Kategori berikutnya yang dilombakan hari itu, yaitu male speeder ternyata berlangsung lebih seru. Kategori ini diikuti oleh 4 orang, yaitu Ricky (aku ngga tahu dia club apa, mungkin sih MPC), Vincent (MPC), Arneldi (Sapphire Crew), dan Ando (MPC). Sama seperti sebelumnya, pemilihan lagu dilakukan melalui sistem random untuk men’s semifinal. Daaaaaan… lagi-lagi teriakan membahana dari para pumper ketika lagu yang muncul adalaaaaaaah… Cleaner D20. Sebanding dengan bilangan levelnya yang tinggi, lagu ini dikenal dengan tingkat kesulitannya yang bikin frustrasi. Rusuhnya makin menjadi-jadi ketika giliran Vincent yang memainkan lagu ini. Seratus… dua ratus… tiga ratus… kedua kakinya terus menari di kesepuluh pad dengan kecepatan yang membuat speeder lain geleng-geleng kepala. Tanpa miss satu pun. Empat ratus.. lima ratus.. tiap digit depannya bertambah, histeria dan pitch sorakan penonton pun makin bertambah. Dan akhirnya, ketika combo-nya mencapai angka 1000, semua orang menjerit-jerit dan tak putus sampai akhir lagu. Bahkan ketika Vincent turun dari pad, semua rekan-rekannya langsung mengerumuninya, dan menepuk-nepuk pundak, kepala atau punggungnya, masih bersorak-sorak.

Dia baru saja menyelesaikan lagu tersebut dengan skor S silver, perfect combo. Dari awal sampai akhir lagu, tak satu step pun yang miss.

Melihat itu, beberapa orang spontan menoleh ke Arneldi, peserta berikutnya yang sibuk tertawa-tawa dan geleng-geleng kepala. Bercanda, dia pun berkata, “Aku mundur aja deh. Aku pulang aja deh.”

Here’s the video Vincent memainkan lagu Cleaner D20:

and here’s the video Arnel memainkan lagu Hello William D21.. Seriously, I’d never seen such a “Man, I’m screwed” expression on his face like one he had that day.. :)

Betul saja, bukan cuma lagu Cleaner, untuk lagu Hello William D21 pun Vincent yang memperoleh skor tertinggi di antara keempat peserta. Begitu pula waktu Final dengan lagu Final Audition EP 2-x. Kesimpulannya? Yak, benar sekali. Dia lah yang muncul sebagai Juara I. Sedangkan juara II dan juara III secara berturut-turut diraih oleh Arneldi dan Ando.

Day 2 – freestyle category

Nah, kalau kategori ini.. yang diutamakan adalah koreografi peserta sesuai lagu yang dipilih. Mmm… kalau yang satu ini, percuma juga diuraikan panjang lebar.. silakan lihat sendiri performance sang juara I, Grey (MPC)

Para juara inilah yang berhak untuk ikut final round melawan juara dari regional lain di Jakarta. Dan pemenang dari final round tersebut nantinya akan mewakili Indonesia di WPF di Cina. Nah nah.. ternyata banyak cara untuk membawa nama negeri ke tingkat dunia kan?

sekejam ciremai, sebasah kencana

Published June 9, 2011 by hypocrisyoftheday

Salah satu “beauty of technology” adalah ketika posisimu di ujung belalai Pulau Sulawesi, kamu tetap bisa tahu kabar terbaru dari teman-temanmu di berbagai penjuru negeri, termasuk kabar bahwa masing-masing dari mereka telah menetapkan pilihan petualangannya di super long weekend yang lalu. Dari twitter kamu bisa tahu kalau Depex dan beberapa adek-adek STAPALA-mu sedang dipenuhi adrenalin dan euforia menyambut pendakian gunung tertinggi di pulau Jawa. Dari SMS kamu tahu kalau Moset dan rombongannya berencana ke Krakatau. Dari BBM kamu tahu Jati dan teman-teman di Aceh siap menyambangi Sabang. Dan satu-satunya cara untuk mencegah “beauty of technology” berubah menjadi “evil of technology” adalah dengan merencanakan petualanganmu sendiri sehingga kamu tidak perlu menghabiskan satu minggu berikutnya menahan desakan untuk membanting blackberry-mu karena iri oleh catatan perjalanan mereka. And so, that was exactly what i did. I went on my own adventure. Aku mendaki Gunung Klabat.

Mungkin namanya tak terdengar segagah Semeru atau seeksotis Krakatau. Bahkan, mungkin sebagian besar dari kalian belum pernah mendengar nama gunung ini. Now, ain’t that a coincidence? Maka dengan membaca post ini, pengetahuan kalian akan bertambah.

Terletak di Airmadidi, Kabupaten Minahasa Utara, Gunung Klabat merupakan gunung tertinggi di Sulawesi Utara. Oke, rajam saja aku atas apa yang akan kutulis berikutnya, karena harus kuakui aku tak tahu pasti berapa ketinggian gunung ini. Beberapa catatan perjalanan yang kubaca di internet menyebutkan variasi antara 1.995 mdpl, 2.000 mdpl, dan 2.100 mdpl. Yang jelas, berkisar di 2.000 mdpl. Yang menarik adalah, berbeda dengan gunung-gunung Jawa Barat yang sebelumnya kudaki, start point pendakian gunung ini tergolong rendah, bisa dipastikan di bawah 500 mdpl. Dengan kondisi tersebut, tidak mengherankan kalau dibutuhkan waktu sekitar 8 jam untuk mencapai puncaknya. Faktor ketinggian, dan faktor jalur. Silakan lanjut membaca.

Banyak cara untuk mencapai start point pendakian, yaitu Polsek Airmadidi, dari kota Manado. Mulai dari motor, bawa mobil sendiri, taksi, jalan kaki, dan tentu saja selalu ada angkot, moda transportasi yang kami pilih kemarin. Dari samping Gereja Sentrum, kami naik angkot menuju terminal Paal 2 selama kurang lebih 15 menit, dilanjutkan dengan angkot Paal 2-Airmadidi selama kurang lebih 30 menit. Dari terminal Airmadidi hanya dibutuhkan 5-10 menit jalan kaki untuk mencapai Polsek, dimana kita wajib lapor sebelum memulai pendakian. Hanya lapor dan mengisi buku register pendaki, tanpa dipungut biaya apa pun. Dan setelah melapor, you’re good to go.

Start Point – Pos 1
Seperti yang sudah kusebutkan sebelumnya, dibutuhkan waktu sekitar 8 jam untuk bisa mencapai puncak gunung Klabat. Dan dalam rentang waktu 8 jam tersebut, kita akan melewati 6 pos dengan karakteristik dan jalur yang berbeda-beda. Pos pertama, atau Pos 1, berada kurang lebih sejauh 60 menit perjalanan dari start point. Untuk mencapai Pos 1 ini, kita akan melewati jalan aspal sejauh kurang lebih 10-15 menit, sebelum kemudian memasuki jalan setapak dan perkebunan penduduk yang agak tricky. Kenapa? Karena artinya disini banyak persimpangan. Adapun entrance jalur pendakian adalah blok jalan paving sejauh sekitar 500 meter yang bisa ditemukan setelah 10-15 menit meninggalkan jalan aspal.

Dengan disebut-sebutnya jalan aspal, perkebunan penduduk, dan blok paving, bisa disimpulkan bahwa jalur dari start point menuju Pos 1 tergolong masih ringan. Silakan simpan tenaga untuk kejutan berikutnya.

Pos 1 – Pos 2
Hampir semua catatan perjalanan dan testimoni pendaki yang kutemukan sebelum pendakian menyebutkan bahwa jalur terberat adalah jalur Pos 5 – Pos 6, sedangkan jalur Pos 1 – Pos 2 digambarkan dengan “jalan setapak di antara pohon-pohon besar”. Tidak, aku tidak bilang mereka bohong, karena memang kondisi itu benar sekali. Yang tidak mereka sebutkan adalah adanya bebatuan di sepanjang jalur yang membuatnya terjal. Dan menggoda pendaki untuk mulai scrambling. Selama sekitar 1 – 1, 5 jam.

Apa? Baru Pos 1 ke Pos 2 sudah harus scrambling, katamu? Ya memang! Mungkin itu sebabnya, beberapa pendaki memilih untuk rehat dulu begitu mencapai Pos 2, buka tenda dan nge-camp sebelum memulai pendakian lagi hari berikutnya. Pos 2 berupa daerah yang terbuka, dan cukup luas untuk setidaknya 2 tenda. Selain itu, juga terdapat sumber air yang bisa ditemukan di dekat Pos 2.

Oh ya, rekan-rekan KPA Adventure dan Tunas Hijau sudah cukup berbaik hati memasang tanda “Pos 2” dan panah penunjuk lokasi air di pos ini. Jadi kalau kamu menemukan daerah terbuka tanpa salah satu maupun kedua tanda tersebut, maka itu bukan pos 2, melainkan pos bayangan. Jangan menyerah!

Pos 2 – Pos 3
God is fair. He always is. Maka dari itu, setelah lelah scrambling sebelumnya, jalur Pos 2 ke Pos 3 tergolong cukup ramah dengan waktu tempuh kurang lebih sama dengan Pos 1 ke Pos 2. Pos 3 ini juga cukup luas, muat untuk 2-3 tenda dan juga terdapat sumber air. Hanya saja, airnya berwarna agak kuning, sehingga ketika paginya aku meminumnya dan dilihat oleh beberapa mahasiswa Universitas Klabat, mereka sempat bercanda mengira itu Cap Tikus. Seriously, don’t they know drunk-hiking could kill?

Pos 3 – Pos 4.
Dari Pos 3 menuju Pos 4, jalur mulai menanjak namun belum menuntut scrambling. Menariknya adalah, setelah beberapa lama berjalan, terdapat sebuah persimpangan samar yang mana kalau kita lurus, pos 4 bisa dicapai dalam waktu yang surprisingly cepat, kurang lebih 30-45 menit. Sedangkan kalau ke kanan, kita akan dihadapkan pada jalur yang sangat menantang, didominasi bebatuan terjal dengan dua kali lipat tingkat kesulitan dan waktu tempuh. So, watch your step. Seriously.

Pos 4 – Pos 5
Menariknya dari pendakian kali ini adalah bahwa setiap pos dan potongan jalur memiliki karakteristik yang masing-masing menarik. Nah, yang menarik dari Pos 5 adalah area terbukanya tergolong sempit untuk sebuah pos, mungkin hanya muat 1 tenda kapasitas 3 orang. Justru 2 pos bayangan sebelum Pos 5 yang tergolong cukup luas, cukup untuk setidaknya 2 tenda kapasitas 6 orang.
Di musim hujan, di dekat Pos 5 juga terdapat sumber air.

Kebanyakan pendaki biasanya menargetkan untuk nge-camp di Pos 6, namun setelah lelah scrambling dan perjalanan kurang lebih 1 jam dari Pos 4, pos bayangan dan pos 5 biasanya begitu menggoda iman. Apalagi dengan momok bayangan kejamnya jalur menuju Pos 6 yang menghantui.

Pos 5 – Pos 6
Dan sampailah kita pada bagian paling menyiksa dari pendakian Gunung Klabat. Selama 1,5 sampai 2 jam kemudian kita sepenuhnya scrambling di jalur yang didominasi oleh bebatuan terjal dan pepohonan yang melintang di sana-sini. Sama sekali tidak ada bonus kali ini. Selain itu, kita juga harus lebih berhati-hati karena kita berjalan melewati jalur air, sehingga jalannya agak licin.

Setelah satu jam berjalan, jalur mulai terbuka walau vegetasi masih tergolong rapat oleh pepohonan yang menjulang tinggi. Mendongaklah, dan kamu akan bisa melihat langit terbuka mulai tampak semakin dekat. Teruslah berjalan, dan kamu bisa melihat di atas sana vegetasi semakin jarang dan rendah sementara gemuruh angin terdengar semakin kuat. Seharusnya puncak sudah dekat. Tapi kalau kamu sudah terlalu capek, sama seperti kami kemarin, harapan itu terkadang datang terlalu awal.

Gunung ini menipu! Beberapa kali kami mendongak, melihat pohon yang rendah di bawah langit terbuka dan berseru dipenuhi excitement, “wah! Habis!” untuk kemudian dipatahkan dengan kejamnya, “Sial, masih ada lagi..” selama beberapa kali.

setelah rela ngga rela dibangunin jam 4 pagi, nemenin jalan dari pos 5 ke puncak :)

Pos 6 sendiri berupa daerah terbuka dan datar. Sekilas, daerah ini terlihat sempit, namun kalau kita berjalan sedikit melewati jalan setapak di tengah alang-alang, ternyata masih ada lagi tempat untuk membuka tenda. Setidaknya 7 tenda bisa didirikan di area Pos 6. Selain itu, di dekat Pos 6 terdapat sumber air yang cukup bersih. Dan yang paling menyenangkan dari pos 6 adalah fakta bahwa puncak gunung hanya tinggal 30 menit jauhnya.

Puncak
Tiga puluh menit saja waktu yang dibutuhkan untuk bisa mencapai puncak dari Pos 6. Tiga puluh menit tanpa scrambling walau masih ada beberapa batang pohon melintang di jalan. Hutan yang sedari Pos 2 masih begitu rapat, hijau dan lembab, kini mulai merenggang. Jarak antar pohon pun semakin melebar, seolah membuka jalan.

Sedikit lagi. Sedikit lagi.
Tak ada yang bisa menyampaikan pesan itu dengan lebih jelas dari sentuhan lebatnya alang-alang yang berayun ditiup dinginnya angin puncak di kulitmu. Tidak ada tanjakan setan seperti di Gunung Gede via cibodas, atau bau belerang yang menusuk seperti di Ciremai. Hanya alang-alang dan embun pagi yang mereka sentuhkan, membasahi sekujur badanmu. It was almost like playing hide and seek. Dan kemudian…

Satu tanjakan terakhir. Dan kamu pun sampai di puncak Gunung Klabat.
Dataran terbuka yang luas dan dipenuhi alang-alang. Putar badanmu, dan dengan matamu kamu akan bisa melihat landscape Airmadidi dan Manado. Sebentuk garis lengkung dan warna biru yang mengikutinya menunjukkan air laut yang tenang. Di seberangnya, pulau-pulau kecil terlihat damai. Pun Gunung Manado Tua tampak gagah di tengah lautan. Sesekali angin dingin berhembus, bukan hanya membuatmu meringkuk menggigil, tapi juga membawa selimut kabut yang menyembunyikan indahnya pemandangan tersebut dari matamu.

Dan sekali pun puncaknya tak seagung kawah Gunung Gede yang pernah kudaki, tak semegah samudera angkasa Ciremai yang sampai sekarang masih membuatku merinding tiap mengingatnya, juga mungkin tak semengesankan puncak tertinggi Pulau Jawa yang dijejaki sahabatku tepat di waktu yang sama, hari itu ketika aku berbaring di atas matras, di tengah alang-alang dan menatap birunya langit, hanya satu kalimat yang bisa kuungkapkan: it felt reaaaaalllly great.

Setelah pacet yang menghisap darah dari sela-sela jari kakiku disingkirkan, tentunya.

memory masochism – pendakian Klabat 3-4 Juni 2011

Published June 9, 2011 by hypocrisyoftheday

“Jadi gimana, kesannya abis naik Klabat?”

Pertanyaan itu diajukan oleh Arnel sembari kami berjalan dari Pos 1 menuju Polsek Airmadidi. Anehnya, pada saat itu aku sulit menemukan jawaban yang pas. Pendakian Gunung Klabat yang lalu bukanlah pendakian pertamaku. Namun, banyak “pertama” yang kualami di Klabat.

Pendakian yang lalu adalah pendakian gunung luar Jawa Barat pertamaku. Gunung Gede yang kudaki ketika aku belum bergabung dengan STAPALA, Gunung Kencana tempat kami “dididik dan dilatih” selama 5 hari, Gunung Ciremai yang kudaki ketika Masa Bimbingan, (kaki) Gunung Salak tempat kami dilantik, Gunung Papandayan tempat wisata kabut setengah hari bersama adek-adek STAPALA-ku, semuanya terletak di Provinsi Jawa Barat. Dan siapa sangka, belum lagi sempat menyambangi gunung jawa tengah dan timur, tahu-tahu aku sudah mendaki gunung Sulawesi Utara. Gunung tertinggi di Sulawesi Utara, malah.

Baca lagi paragraf di atas, adakah yang menyadari pendakian kali ini juga merupakan kali pertama aku mendaki dengan tim non-STAPALA? Setelah melewati banyak drama dan desperation (ini khusus aku sih), dari yang tadinya ramai rombongan teman-teman kantorku mau ikut naik Klabat, akhirnya hanya tinggal 7 orang saja: aku, Eko (teman sekantorku yang sampai di puncak pun tetap mewarnai pendakian dengan drama bersama istrinya), Arnel (mahasiswa Universitas Klabat yang sekarang jadi teman nongkrong sejak ketemu dan kenalan di Pump), serta 4 orang teman baru kami, lebih tepatnya teman dari teman kantor kami: Budo, Jerry, Marlen, dan Andre.

Setiap perjalanan memiliki kisahnya sendiri. Dan sering kali, faktor yang paling mempengaruhi kisah dari sebuah perjalanan adalah orang-orang di sepanjang perjalanan tersebut. Dan mereka berenam menjadi salah satu alasan terbesar kenapa pendakian tersebut spesial. Mendaki bersama mereka, terasa berbeda sekali dengan mendaki bersama SPA. Nyaris tanpa manajemen perjalanan, nyaris sepenuhnya serta merta. Walau kalau dari segi perlengkapan, yang paling menarik bukan rekan seperjalananku, tapi tim pendaki Fakultas Pertanian, Universitas Sam Ratulangi. Bertemu di Pos 2 dan kemudian sama-sama buka tenda di Pos 6, aku takjub melihat peralatan masak mereka. Alih-alih kompor portable dan nesting layaknya pendaki umumnya, mereka membawa kompor minyak tanah biasa, juga panci dan wajan biasa. How the hell did they manage to carry those stuff through the hike?? Di rombongan lain, malah ada yang bawa gitar. Seriously? Dengan kondisi jalur yang scrambling sepanjang jalan, loncat atas dan menerobos bawah pohon tumbang? Wow.

Aku tahu kalimat berikut ini akan memancing banyak komentar dan cengiran, tapi ini benar. Dari keenam orang yang membuat pendakian kemarin spesial, yang paling berperan adalah Arnel. Bukan hanya karena dari awal dia satu-satunya orang yang secara tegas dan jelas menyatakan dia positif ikut dan kalau ditanya kapan dia bisanya selalu menjawab dengan “anytime, mommy”, well, sebelumnya kita harus mundur setengah tahun, when i first met him.

Teman-temanku sering bertanya, “Kamu kenal Arnel dimana sih?” dan biasanya nonchallantly akan kujawab dengan, “di mall.” Karena memang begitulah adanya. Long story short, pertama kali aku mengenal dia adalah waktu kami sama-sama main Pump It Up di Timezone. Setelah beberapa kali lihat dia main, iseng-iseng kusapa dia waktu kami duduk sebelahan nunggu giliran main. Eh, siapa sangka ternyata nyambung, dan sejak itu kami jadi sering hang out sama-sama.

Sepanjang pendakian, terutama ketika kami berdua duluan mendaki dari pos 5 ke puncak, kadang aku merasa, wow, lucu juga ya, dari yang tadinya complete stranger yang ketemu di pump, jadi temen deket, and as time has it, dengan rela ngga rela dia sudah menemaniku summit attack di pagi-pagi buta. Ain’t it funny what a simple “hi” could do to our lives?

Anehnya, dengan semua “pertama” itu, bahkan waktu Arnel menanyakan apa yang berkesan, aku merasa pendakian kemarin seolah seperti sesi jalan-jalan biasa, seperti kali sebelumnya kami jalan-jalan ke danau Linow, hanya saja lebih panjang, lebih melelahkan, dan lebih ekstrim. Yes, it’d be memorable. Tapi bahkan setelah malam itu kami tutup dengan main pump sama Ewin, adek pump kami, tetap saja rasanya biasa saja. Sampai hari berikutnya.

Pagi hari berikutnya, untungnya hari Minggu, aku membuka mata dalam kondisi dehidrasi. Kerongkongan dan bibirku terasa kering sekali. Masih berusaha mengumpulkan kesadaran, aku menyadari air minumku ada di atas lemari di seberang ruangan. Refleks pertamaku tentu saja berusaha bangkit. Pada detik itu juga aku merasakan rasa sakit yang amat sangat di sepanjang kedua kakiku dan juga bahuku. Aku berusaha memiringkan badan, tapi betisku terasa kaku seolah terbuat dari kayu. Menyadari apa penyebabnya, seketika itu juga aku tertawa lepas. Tawaku makin lepas terutama setelah membaca beberapa twit berikut:

eck_sur Podho wae..eh,malah diajakin futsal.. RT @donnacorle: owaaaa.. my legs are killing me.. >_< *poke @eck_sur* apa kabar yang disitu?

d_gaMbLangs bgitu bangun.. hal yang pertama ku lakukan tdi ialah.. teriak, “Annnjjjrrriiitt…!! sakit bangettt…!!” byngin @donnacorle @eck_sur

dan setiap berusaha bangkit dari tempat tidur, berusaha jongkok di kamar mandi, dan terutama setiap berusaha naik-turun tangga, seketika aku tertawa terbahak-bahak. Karena justru pada saat-saat itulah aku merasa betapa spesialnya pendakian kemarin. Big hugs to brothers in pain, Arnel and Eko. Hahahaha…

P.S. Review gunungnya menyusul.. :)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.