I went sane and returned insane
Setelah setengah tahun pindah kerja ke Manado, satu setengah bulan lalu akhirnya aku berhasil “mencuri waktu” untuk menikmati 5 hari di rumah. Di Klaten. Dalam 5 hari tersebut, akhirnya aku menyadari, bahwa betapapun dalam agenda harian PNS libur 5 hari itu terhitung panjang, ternyata tidak demikian rasanya ketika dijalani. Di hari keempat di rumah, aku menyempatkan diri ketemuan sama mas Ade. Dan dalam percakapan tersebut, kami sempat membahas tentang ‘penempatan jauh’. Dan entah bagaimana, aku terpancing; sebelum kusadari, terucap dari bibirku, “belum pengen” ketika dia menyebut tentang mutasi ke jawa tengah atau jogja. Aku ingat dia tertawa kencang sekali, kemudian menyebutku ‘menghibur diri’. Dengan kecut, aku mengakui, hal itu setengahnya benar. Yah, siapa sih yang menolak kerja dekat rumah, dengan tingkat biaya hidup yang relatif murah. Di Manado, penghasilanku terhitung pas-pasan. Tapi kalau di Jawa Tengah atau Jogja, jelas masih bisa menabung.
Little did i know, yang setengah itu akhirnya hilang juga sebulan kemudian. Ketika aku dapat penugasan ke Tahuna.
Tahuna adalah ibukota dari Kabupaten Kepulauan Sangihe. Kepulauan ini letaknya di atasnya pulau Sulawesi. Kami berangkat dari Manado naik pesawat Wings Air. Penerbangan dari Bandara Sam Ratulangi, Manado menuju bandara Naha kami tempuh dalam waktu sekitar 45 menit yang sangat menarik. Menarik karena pesawat yang kami naiki adalah pesawat kecil dengan baling-baling dan kapasitas sekitar 50 orang saja. Menarik karena sepanjang penerbangan sekujur badanku bergetar. Bukan karena takut, bukan karena excited, tapi memang dikarenakan getaran pesawatnya. Menarik karena sepanjang penerbangan pikiranku tak bisa lepas dari bayangan metromini di Jakarta. Menarik karena ini adalah kali kedua kuamati pesawat jenis ini tidak punya bangku dengan nomor row 13 dan 14. Menarik karena setelah 6 bulan, akhirnya kesampean juga dapat tugas ke tahuna.

ini... letaknya Sangihe..
Pemandangan yang menyambut kami begitu mendarat di Naha pun tak kalah menariknya. Pemandangan yang khas yang selalu kulihat sejak pindah ke Sulawesi Utara: dataran luas yang dikelilingi bukit-bukit hijau dan ratusan pohon kelapa yang berderet. Dan.. oh! I couldn’t help grinning ketika melihat bandara Naha. Bulan sebelumnya, ketika kami berkesempatan mengunjungi bandara Gorontalo, satu-satunya respon yang terlintas di kepala adalah, “ih, bandaranya kayak terminal bus”. Dan bandara Naha? Lebih kecil dan jauh lebih sederhana dari bandara Gorontalo. Barang-barang penumpang pun diangkut dari bagasi pesawat menggunakan mobil pick up dan ditumpuk begitu saja di pojok ruang arrival, siap diambil masing-masing pemiliknya.

getarannya sangat mantap sekali

ini bandara, bukan terminal

unloading
Dari Naha, kami dijemput dengan mobil dan segera saja melaju menuju pusat pemerintahan kabupaten ini, yaitu di Tahuna. Perjalanan Naha-Tahuna ditempuh dalam waktu kurang-lebih 1 jam (damn! aku selalu lupa memastikan waktunya.) Pemandangannya? Jenis pemandangan yang dulunya semasa masih kuliah dan magang di Jakarta mesti menyisihkan waktu dan uang buat ngeliatnya. It always takes my breath tiap kali melintasi punggungan bukit, dan memandang ke hamparan lembah yang dipenuhi ratusan pepohonan yang setinggi apapun mereka menjulang, tetap tak bisa menjangkau ujung kaki kita. Belum lagi bila dipadukan dengan warna biru yang membentang di seberang sana, yang berkilau keperakan disinari cahaya mentari, dengan titik-titik kecil yang tak lain dan tak bukan adalah kapal-kapal atau perahu nelayan. Dalam tiap kesempatan seperti ini, tanpa bisa kukontrol, pasti aku langsung berubah jadi seperti anak kecil yang excited waktu diajak jalan-jalan orang tuanya. Tolah-toleh kanan-kiri dengan cengiran lebar walaupun yang jalanan yang tengah dilalui adalah jalanan sempit di tengah hutan yang jelas tidak sudi kulewati sendirian. Terutama di malam hari. Terima kasih.


naha-tahuna
And so the road takes us to…..
Tahuna!
Ketika teman bertanya, “Tahuna kayak gimana sih?”. Reaksi pertamaku adalah ‘panas’ dan yang kedua adalah ‘sepi’. Anehnya, entah kenapa, ada sesuatu yang terasa exciting ketika menyusuri jalanan pusat kotanya. Yang dipenuhi deretan toko-toko dan, di beberapa sudut, lapak-lapak DVD bajakan. Satu-satunya swalayan besar di Tahuna namanya Megaria. Itupun besarnya tak lebih dari Harmony di Ceger atau Fiesta di Jl. Sam Ratulangi, Manado. Tak jauh dari Megaria, ada sebuah warung makan bernama ‘Malioboro’. Tampaknya tempat makan ini yang paling terkenal di Tahuna. Dalam tugas kami di Tahuna, kami mengunjungi tiga dinas, dan ketiganya – ulangi, KETIGANYA – menjamu kami di Malioboro. Mungkin karena menunya yang variatif, mungkin karena harganya yang lumayan reasonable, dan sangat dimungkinkan juga, karena rasanya yang boleh dibilang lumayan.
pusat kota..memory serves..

see that guy? he's my friend, adit..
Bicara soal tugas, awalnya bukan aku yang ditugaskan ke Tahuna, tapi si Firman. Sayangnya, kalau bukan untungnya, Firman harus ikut ujian Jabatan Fungsional Auditor di tanggal yang sama sehingga pada akhirnya, sebagai satu dari dua anggota tim yang sedang free, akulah yang dikirim kesana. Yang kemudian, dengan berat hati harus kusesali. Dikarenakan beberapa alasan yang tidak etis bila diungkapkan disini, alasan-alasan yang akan kusimpan sendiri, beberapa kali aku begitu desperate berharap bisa memutar waktu ke satu bulan lalu, dan tidak usah pergi ke Tahuna. Namun, teman, tahukah kamu, ketika pikiran tersebut terlintas, seketika itu juga teringatlah aku pada hari kelimaku disana. Sore itu hpku berbunyi dan nama ‘Adit Bogor’ 1) terpampang disana. Bunyi smsnya adalah: “Ron, jam 7 malam ini mau kemana?”.
Before any of you get excited, No, silly! He wasn’t asking me out.
Adit adalah teman kuliahku di STAN, beda spesialisasi 2), tapi cukup akrab karena kami sama-sama tergabung di Keluarga Mahasiswa Katolik. Setelah lulus dari STAN, dan beberapa saat magang di KPP Gambir 4, dia ditempatkan di KPP Pratama Tahuna. Terbawa kebiasaan STAPALA mengontak kenalan di tempat tujuan dinas, jelas dia salah satu orang pertama yang kuhubungi ketika aku dapat tugas ke Tahuna.
Mungkin kalian juga tahu, sebagaimana juga diketahui oleh Adit, aku adalah anggota STAPALA. Dan rupanya SMS lanjutannya adalah untuk memberitahu bahwa di Tahuna ada juga seorang senior STAPALA dan lewat dia mengajakku untuk saling bertemu. Dan begitulah kami bertemu. Aku ingat puas sekali tertawa lepas ketika mendengar reaksi Bang Jabrix. Aku meneleponnya karena seniorku yang bernama Mas Bejo itu adalah angkatan 92, yang artinya didiklat oleh bang Jabrix. Dan aku tahu betul bagaimana reaksinya kalau berhasil kembali menjalin kontak dengan kenalan-kenalan lamanya. Awalnya Bang Jabrix bingung dan berusaha mengingat siapa Bejo yang kumaksud ini, tapi berikutnya yang kudapat persis seperti yang kubayangkan: teriakan “ooooooooohhh…!!!” yang sangat panjang, kencang, dan diikuti tawa keras yang memuaskan.
Bicara soal senior STAPALA, tak pernah sekalipun aku tak terkesan. Tak juga kali ini, ketika berkenalan dengan Mas Bejo di sebuah studio musik. Bukan hanya karena ternyata Mas Bejo, sama sekali diluar dugaanku, adalah KEPALA KPPN Tahuna, tapi juga karena rupanya kami berkumpul di studio musik tersebut karena beliau menulis sebuah lagu dan mereka akan bersama-sama menggarap aransemennya. Malam itu kami habiskan di studio, dengan aku yang tak bisa berhenti ternganga kagum. Serius deh, aku kenal dua orang senior STAPALA yang jadi kepala Kantor, dan dua-duanya sangat-sangat-sangat keren sekali. Aku masih ingat jelas bagaimana suasana outbond G4, dimana Bang Yond terlihat begitu mingled dengan anak buahnya. Malah, suasananya terasa semakin hangat melihat bagaimana mereka dengan entengnya meledek bosnya itu. Sedangkan Mas Bejo? Oh, kekagumanku terus berlanjut.

he's awesome.. really... :3
Di hari ketujuhku di Tahuna, kami makan malam bersama dan kali ini kami hanya berdua saja. Tadinya sih mau ajak Adit juga, tapi dia sudah keburu terbang ke ujung utara Indonesia 3). Kami berdua makan di rumah makan bernama Marina, yang letaknya tersembunyi. Karena kita sedang membicarakan daerah kepulauan, wajar saja dong, kalau aku excited menunggu hidangan ikan bakarnya. Ah, sayangnya, kali ini aku harus kecewa karena rasanya masih kalah dibandingkan dengan ikan bakar di warung Bella (lupa di daerah apa namanya, yang jelas kami selalu singgah disitu di setiap perjalanan dari dan ke gorontalo). Dari Marina ini sebenarnya kita bisa langsung melihat laut dan pelabuhan. Hanya saja, saat aku kesana, sedang ada proyek pembangunan boulevard atau apalah itu, sehingga pemandangan tersebut harus terhalang. Sayang sekali.
Sambil makan, kami bercerita banyak hal, mulai dari STAPALA, penipuan atas nama DJPB, ambisi dan visi mas Bejo, tentang keluarganya, dan berbagai macam hal yang pada akhirnya hanya membuatku semakin terpana kagum. Setelah makan, Mas Bejo pun membawaku berkeliling Tahuna. Dia membawaku ke ujung boulevard yang sedang dibangun dan ke dekat rumah sekretarisnya. Kami sampai di sebuah tempat terbuka dengan penerangan yang minim. Di tepi laut, tampak beberapa gerombolan orang. Ada juga yang berpasang-pasangan. Kubilang sama Mas Bejo, “wah, kalau ada yang bikin warung kopi disini pasti mantap sekali.” Dan dia tertawa. Katanya dia juga sudah sering bilang begitu. Tapi menurut ceritanya, orang Tahuna itu bisa dibilang ‘anget-anget tai ayam’. Seringkali orang buka usaha hanya ramai di awal-awal, berikutnya sepi, jadi rugi, dan tutup. Lagipula, kalau malam masih identik dengan orang mabuk-mabukan.
Berikutnya, kukatakan pada Mas Bejo aku mau ke ATM BRI, menarik uang untuk membayar penginapan. Eh, ternyata ATM-nya rusak, jadi Mas Bejo membawaku ke ATM Mandiri. Belum juga turun dari mobil, kami berdua langsung tertawa terbahak-bahak melihat tulisan “maaf, ATM sedang tidak dapat digunakan”. Mau tak mau, Mas Bejo membawaku kembali melaju, melewati Bank Sulut dan Bank Danamon, dan akhirnya mencapai Bank BNI. Disanalah akhirnya, setelah antrian yang cukup panjang, aku berhasil menarik uang. Yang menarik adalah, dari ketiga bank yang kami singgahi, Mas Bejo kenal dengan semua satpamnya! Walaupun mungkin cuma basa-basi, kau tak kan tahu karena cara Mas Bejo mengobrol dengan mereka sangat akrab sekali. Lagipula, berapa banyak sih, kepala kantor yang menyempatkan berbasa-basi dengan satpam? Satpam kantor lain pula!
Setelah menarik uang, kami mampir ke kantor Mas Bejo, dan dengan mata kepalaku sendiri, kusaksikan apa yang telah dihasilkannya. Apa yang tadinya hanya kudengar ceritanya. Kantornya dia atur sehingga ‘transparan’ dari depan sampai belakang, dan suasananya hangat dan nyaman. Di ruangannya ada sebuah keyboard. Dia bilang, kalau lagi stres dia memilih untuk memainkannya sebentar, teriak-teriak nyanyi sampai lega, baru lanjut kerja. Dengan semangat, dia mengenalkanku pada semua anak buahnya yang masih lembur. Dan aku merasa mukaku panas ketika Mas Bejo, dengan suaranya yang kencang berkata pada anak buahnya yang lembur, “Iya, ini mau ke pelabuhan,” lalu menunjuk padaku, “Kasihan dia, belum pernah ke pelabuhan.” Astagaaaa…
Kami menghabiskan waktu hampir 2 jam di pelabuhan, hanya mengobrol dan minum kopi. Sambil dia bercerita tentang hobinya memancing. Sambil dia menunjukkan satu spot di dekat pelabuhan yang katanya terumbu karangnya bagus sekali. Sambil dia berkali-kali bilang, sayang sekali hari Sabtu-Minggu kemarin aku harus kerja jadi tidak sempat diajak jalan-jalan. Dan harus kuakui, memang aku kecewa sekali. Setelah sekian lama berharap bisa dapat ke Tahuna, akhirnya tidak sempat juga jalan-jalan. Tidak juga mengintip pantainya. Dan dalam dua jam ngobrol dengannya itulah, aku menemukan jawabannya. Inilah alasan kenapa aku belum ingin cepat kembali ke Jawa Tengah.
Hey, aku masih sangat muda. Aku masih belum menikah jadi belum ada ikatan dan tanggung jawab keluarga. Aku masih ingin jalan-jalan menjelajahi sudut-sudut negeri ini, bertemu dengan orang-orang yang tak terduga. Merasakan fenomena “Indonesia menyempit” yang dialami lulusan Ali Wardhana. Kesana-kemari bertemu teman. Kesana-kemari bertemu saudara STAPALA. Memang, kadang sangat melelahkan membayangkan mahalnya tiket dan panjangnya perjalanan pulang, tapi sungguh, membelah hutan di Siau dan kepanasan di Tahuna benar-benar priceless. Mungkin ini semua terdengar sangat naif, kalau bukan kekanak-kanakan. Tapi memang apa salahnya?
Malam itu aku sms Adit. Entah smsnya sampai atau tidak, karena dia di sedang di Talaud, dan kata teman kantorku yang sering tugas kesana, sinyal m3 di Talaud benar-benar sangat payah. Aku bilang makasih sama dia, karena sudah mengenalkanku dengan Mas Bejo. Sambil aku tersenyum sendiri. Bila memang awalnya kehidupanku compartementalized, sekarang lingkaran-lingkaran sosial yang menjadi bagian hidupku itu kian bertabrakan satu sama lain, membentuk irisan-irisan yang tak pernah kuduga sebelumnya. Dan satu irisan kali inilah yang menghalangiku untuk berupaya mencari mesin waktu atau doraemon 4) untuk mengembalikanku ke masa satu bulan yang lalu. It’s too priceless to be gone.
Dan walaupun dua minggu ini mukaku di kantor sangat-sangat-sangat kusut sekali, frustrasi dan desperate, i hold on to those days. Maybe I left my sanity in Tahuna. But i didn’t lose it. One day, and i hope it’ll be soon enough, I‘ll get it back.
1) Dulu waktu kuliah, di angkatanku ada 2 orang yang panggilannya Adit. Satu dari Solo dan satu dari Bogor. Thus, Adit Solo dan Adit Bogor. Begitu terbiasanya manggil dia Adit Bogor, sampai sempat lupa nama aslinya.. :p
2) Spesialisasi = jurusan.
3) Talaud, tuan dan nyonya! Seriously, don’t you know that song, “dari Timor sampai ke Talaud”? makan indomie dong makanya! setidaknya nonton iklannya!
4) Also the fact that I’m just too damn lazy to move my ass looking for something that I know doesn’t really exist.