Archives

All posts for the month December, 2009

hark the heraLd angeLs sing…

Published December 25, 2009 by hypocrisyoftheday

Srengenge nyunar kanti muLya..

Angine midhit kLawan rena..

Manuke ngoceh ana ing wit-witan..

Kewane nyenggut ana ing pasuketan..

Kabeh padha muji ALLah kang muLya..

Kabeh padha muji ALLah kang muLya..

beLum Lagi bait pertama seLesai diLantunkan, kau akan muLai merinding.. dan ketika pujian diserukan, “GLoria in exeLcis Deo”, setiap tetes darah daLam tubuhmu pun berdesir.. kau ingat bukan, sensasi yang kau rasakan tiap kaLi mendengar nyanyian choir keLas dunia.. tapi tidak, tidak kaLi ini.. bukanLah choir tanpa cacat itu, kawan.. bukan sopran yang meLengking jernih, aLto yang penuh warna, tenor yang menyejukkan hati dan bass yang mendentum Langsung ke sanubari..

dengarkan unisono mereka yang memaksamu menyunggingkan senyum.. benarkah unisono? Kau akan dengar, kawan.. ada satu-dua suara atau Lebih yang membandeL meninggaLkan rangkaian nada yang seharusnya.. tapi itu tak akan jadi masaLah ketika kau meLihat wajah mereka.. dengan sungguh-sungguh mereka bernyanyi mempersembahkan pujian bagi Sang Raja..

semarak pagi ini, kawan, karena organis terbaik kami mewarnai masing-masing Lagu dengan sentuhan pop, jazz, bahkan irama musik spanyoL yang meghentak-hentak.. tentunya tak ketinggaLan gegap gempita Lagu-Lagu andaLan seperti Gita Sorga Bergema dan Hai, Mari Berhimpun..

dan tentu kau tak akan bisa menahan tawa ketika jumLah para ‘maLaikat’ itu berLipat ganda.. Sang GembaLa umat teLah memanggiL mereka memenuhi muka aLtar.. sesungguhnya kawan, bahkan aLtar yang Luas itu tak sanggup menampung banjir suka cita pagi ini.. penuh semangat mereka bertepuk tangan dan bernyanyi “seLamat uLang Tahun”..

kau akan dengar, kawan.. bahwa choir terbaik di seLuruh dunia takkan bisa mengaLahkan mereka.. Lengkingan suara yang berasaL dari daLam hati, tanpa terkekang kunci nada, tempo dan birama.. kau akan dengar, sering kaLi tak bersama mereka bernyanyi, seoLah ingin berLomba-Lomba menyanyikan pujian kepada IdoLanya.. kau akan meLihat kepoLosan dari wajah mereka yang menoLeh ke kanan dan ke kiri seoLah mencari sang Ibu.. juga gerak tangan mereka dengan sepenuh hati bertepuk.. ya kawan, tangan-tangan mungiL, bibir mungiL itu yang menyemarakkan pagi ini..para maLaikat keciL yang mengundang air mata untuk memuLai petuaLangannya menyusuri pipi..

dan kurasa sama denganku, kau akan muLai membayangkan GabrieL bersama para MaLaikat Agung memimpin baLa tentara Surgawi menari riang dan bersorak memuLiakan Sang Maharaja.. dan kau tak kan heran, sama tak herannya denganku, biLa Sang Maharaja sendiri kini tersenyum berLinang air mata bahagia.. ketika Gita Sorga bergema..

“SeLamat ULang tahun, Yesus..”

pos – isi barang dan kertas koran

Published December 15, 2009 by hypocrisyoftheday

bisa kuingat, minggu LaLu adaLah kaLi ketiga aku mengirim barang Lewat pos.. waLaupun di dekat kosan ada tiki yang menurut testimoni banyak orang Lebih terjamin dan Lebih cepat, biaya yang Lebih murah membuat kantor pos yang Letaknya agak jauh menjadi piLihan.

biLa membandingkan dengan kaLi pertama memanfaatkan jasa pengiriman barang via pos (yang sejujurnya sudah tak ingat Lagi kapan kejadiannya), tampaknya prosedur pengiriman barang sekarang Lebih ketat. weLL, sebenarnya prosedurnya sama saja.. hanya petugasnya yang Lebih tegas.. duLu waktu mengirim barang ditanya, “isinya apa, mbak?” dengan terus terang kujawab tak tahu isinya karena cuma titipan pun, sang petugas dengan baik hati bersedia berimprovisasi dan tetap memproses permintaanku. namun minggu LaLu, ketika kembaLi aku berniat mengirim 3 buah bungkusan ke medan, dimana 2 di antaranya adaLah titipan, ceritanya berbeda dengan yang sebeLumnya. kembaLi mas petugas bertanya, “isinya apa?” tidak tahu, jawabku. detik berikutnya, benar-benar sangat cepat, tangkas dan tegas mas petugas menyahut, “harus tahu.”

aku mencoba menjeLaskan bahwa itu adaLah kado titipan dan aku sama sekaLi tak tahu apa isinya. tapi dia tetap berkeras tak mau memproses karena demikian Lah prosedur yang harus dipenuhi. aku pun dengan kesaLnya menyibukkan diri dengan handphone, mencoba menghubungi orang yang menitipkan barang tersebut. sayang, no hp nya terhapus. bagus sekaLi. akhirnya berkat saran bapak Dije yang mengantarku ke kantor pos, kuputuskan untuk berimprovisasi.

“isinya sepatu.”

petugas itu, nyaris tanpa ekspresi kembaLi bertanya, “harganya berapa?”

kujawab dengan ekspresi baLas menantang, “dua ratus Lima puLuh ribu.”

dan demikian Lah dia akhirnya memproses pengiriman barang tersebut. sementara aku terus memikirkan apa yang membuat mereka sekarang begitu tegas dengan prosedur pengiriman barang tersebut? yang sebenarnya dengan mudah dimengerti.

biLa kita sempatkan untuk membaca baik-baik bukti pengiriman barang, maka akan kita temukan:

1. kotak bertuLiskan ‘pernyataan pengirim’ dengan rincian di antaranya meLiputi isi kiriman, dan harganya.

2. keterangan yang menyatakan bahwa PT Pos Indonesia tidak bertanggung jawab apabiLa isi kiriman tidak sesuai dengan pernyataan pengirim.

bayangkan saja biLa pak pos yang baik hati sedang daLam perjaLanan mengirim barang terkena razia poLisi dan didapati bahwa saLah satu barang berisikan barang iLegaL. masa si bapak yang baik hati yang harus bertanggung jawab..? waLaupun secara pribadi menurutku orang kaLau sudah niat berbuat buruk akan berusaha mencari ceLah dari ketentuan yang ada. dengan berimprovisasi sepertiku, misaLnya. namun dengan adanya kedua pernyataan di atas, PT Pos Indonesia bisa terLepas dari tanggung jawab atas peLanggaran tersebut.

ya, perihaL pernyataan pengirim memang mudah dimengerti. namun ada satu Lagi kebijakan PT Pos Indonesia yang sampai sekarang masih suLit kumengerti.

sekitar buLan LaLu, aku mengirim 2 paket. keduanya kubungkus dengan koran dan kuLapisi dengan pLastik. bungkusan pertama dengan pLastik tebaL warna merah, sedang yang kedua dengan pLastik transparan. yang tak bisa kumengerti adaLah ketika petugas mengembaLikan bungkusan kedua dan memberitahuku bahwa bungkusan dengan koran tidak bisa mereka terima dan aku harus menggantinya dengan kertas poLos warna cokLat. sedangkan bungkusan pertama tetap mereka proses. aLasannya: karena yang pertama dibungkus dengan pLastik warna geLap yang menyamarkan penampakan korannya.

ada apa dengan koran? kenapa tidak boLeh mengirim dengan dibungkus koran? masa iya karena nanti korannya dibaca pak pos nya? memangnya gaji tukang pos demikian keciL sampai tak bisa beLi koran sendiri? sempat berpikir agak rumit, jangan-jangan untuk menghindari penyampaian informasi iLegaL meLaLui kode-kode daLam bentuk kertas koran? ah, berLebihan sekaLi. LagipuLa biLa demikian kenapa asaL korannya tak nampak tak apa? mungkinkah demi aLasan estetika? Lho, kan tugas mereka cuma menyampaikan kiriman, kenapa harus mempeduLikan keindahan barangnya? sungguh sampai sekarang tak jua kutemukan aLasannya.

terLepas dari semua itu, ada beberapa haL menarik Lain sehubungan dengan 2 insiden pos tersebut:

1. waLaupun kepercayaan masyarakat pengiriman barang dengan tiki Lebih cepat daripada pos, pada kenyataannya pengiriman barang dari jakarta ke medan dengan pos pun bisa sampai daLam waktu 1 hari saja. dengan harga yang Lebih murah.

2. pernah suatu ketika teman berusaha mengirim barang ke daerah kutacane (kaLau ngga saLah ingat) dengan menggunakan tiki. yang terjadi adaLah barang tersebut dikembaLikan karena mereka tidak menemukan aLamat yang dimaksud. baruLah seteLah dikirim dengan pos, barang tersebut berhasiL sampai ke tujuan.

3. petugas jasa pengiriman barang, baik pos maupun tiki seringkaLi suka berbohong. mereka biLang kiriman akan sampai daLam waktu 2-3 hari. pada kenyataannya, 1 hari saja sampai. hahaha..

4. barang titipan temanku itu isinya ternyata benar sepatu.

5. jawaban atas pertanyaan ada apa dengan koran itu sebenarnya mudah saja untuk ditemukan : cukup tanya ke petugas pos. maybe Later.

absen Lantai4

Published December 7, 2009 by hypocrisyoftheday

berhubung hari ini aku ngga ke baLkot.. ngga bawa buku.. masakanku di cafe worLd pun beLum mateng.. mau dengar musik earphone mati sebeLah.. mau ngecengin doni, eh doni nya ngga ada..dan berbagai aLasan tak penting Lainnya, maka akhirnya kuputuskan buat bikin ini:

absen Lantai 4 hari ini

aka, putri, dyah, di depan satu Laptop.. bergunjing.. bergosip.. entah apa yang dipergunjingkan.. tampaknya biLa ditiLik dari aktivitas facebook seLama satu jam terakhir, putri sedang mengunggah foto kondangan di garut kemaren.. satu per satu.. sangat rajin..

toni.. anak ini.. suLit dimengerti dengan naLar,, dari tadi mutermuteeeer muLu.. sambiL senyum seLaLu.. dengan suaranya yang khas.. dan kata yang seoLah jadi trade mark nya: “aastagaa..”

rengganis.. as aLways.. di depan Laptop dengan headset di teLinga.. jarang sekaLi bicara.. dan akhir-akhir ini aku baru sadar namanya itu adaLah sebutan untuk puncak gunung argopuro.. puncak rengganis.. waLau tak jeLas juga apakah orang tuanya memang merujuk kesitu atau ke kesenian drama tadisional yang berkembang di Banyuwangi..

doni pratomo.. yang duLu disebut doni kopaja.. tapi kini sudah naik keLas jadi doni iPod.. di depan Laptop sambiL bercengkerama dengan toni..

hendra ardiansyah.. yang duLu disebut hendra ganteng, sebagai perbandingan dari hendra aditya pratama yang disebut hendra jeLek (kasian si, ndra..) tapi sejak si hendra jeLek ditransmigrasikan ke kaLimantan timur, dia cukup dipanggiL hendra saja.. bukan, bukan “hendra saja”.. tapi “hendra” saja.. ah, ribet dah.. anyway, si hendra ini sekarang sedang di depan Laptop, bercengkerama dengan fitria.. tampaknya mereka sedang main game.. ya, apaLagi kaLau bukan game simda.. biasa, pegawe di akhir tahun, kerjaan numpuk.. waLau beLum punya sk sekaLipun.. sedih sih..

berikutnya ada si Rendy.. diam saja dia dari tadi.. membungkuk di depan Laptop.. seoLah sedang bercengkerama dengan Laptopnya.. membisikkan kata-kata cinta.. yang tak boLeh didengar orang Lain.. oke, saya Lebay..

si mono ngintip2 di depan pintu.. ngapain sih.. masuk aja sih.. eh, dia beneran masuk.. trus keLuar Lagi.. apa sih?? ternyata dia Lagi ‘survey tkp’.. seteLah dirasa cocok, baruLah dia tiba-tiba nongoL Lagi.. kaLi ini Lengkap dengan bawaan tas dan perangkat Laptop nya..

gege tampak serius sekaLi di depan Laptop dengan muka ditekuk.. suara rob thomas terdengar membahana dari Laptopnya.. kira2 sedang apa dia? ngebut kerjaan seperti hendra dan fitria kah..? atau ngaskus? coba tebak…

muji.. aduh.. berpangku tangan.. seoLah berat sekaLi hidupmu nak.. apakah atau siapakah yang kau pandangi di Layar Laptop 12″ itu..? sehingga begitu serius raut wajahmu..?

Lana, jefry, ragiL dan arga senyum-senyum di beLakang soLikin dan Saripan yang sedang bertanding pes.. kira-kira apakah yang membuat mereka tersenyum begitu..? mungkinkah jauh di daLam Lubuk hati mereka mendukung saLah satu dari yang sedang bertanding dengan tuLus tanpa terungkapkan..? ah, siapakah yang bisa menduga apa yang bisa terjadi di Lantai4..?

baru tadi siang si hendro yang seLama ini tampiL dengan rambut gondrong awutawutan tibatiba muncuL dengan kepaLa botak! astaganaga..

rupanya kurang Lebih setahun sudah orang-orang ini dengan [terpaksa] setia menempati Lantai4.. dari yang duLunya ruangan di Lantai ini terasa begitu pengap dan horor karena jarang digunakan..

percayakah kaLian.. bahwa pernah aku diajak survey ke viLa saLah seorang senior STAPALA yang duLunya pegawai BPKP (dan sekarang eseLon I BPK.. wew..), ketika kubiLang kita sekarang menempati Lantai4 dki1, beLiau cuma menanggapi dengan 1 kaLimat: “banyak hantunya disitu..” apa coba??

tapi sekarang Lantai4 benar-benar ramai.. iyaLah ramai.. pada teriak-teriak main pes.. atau dota.. atau ngecengin doni.. atau si aka tiba-tiba nyanyi.. heeuuff..

so many things happen here.. bahkan ketika kita semua berharap untuk segera hengkang dari tempat ini.. memori Lantai4 dan semua kegiLaannya terLaLu sayang untuk diLupakan..

kerinduanku

Published December 6, 2009 by hypocrisyoftheday

januari 2009..

di tengah kesadaran yang begitu cepat menguap dirampas pengaruh obat.. di tengah Langkah gontai antara ruang keLas dan ruang makan, aku seLaLu menyempatkan diri berhenti seLama beberapa menit, memandang ia yang gagah di sana.. siapakah dia, tanyaku daLam hati.. kuat ia seoLah memanggiLku..

“pangrango kah?” tanyaku kepada seorang yang tengah menyapu..

“Gede..” jawabnya..

kembaLi ia kupandang.. kerinduan memenuhi dadaku.. seiring kian kuat ia memanggiL.. seoLah bertanya kapankah aku kembaLi mengunjunginya..

kereta fajar meLaju kencang.. bagaikan tak sabar menyongsong yogyakarta yang menjadi tujuannya.. di tengah hiruk pikuk pedagang asongan, kudengar seseorang berseru kencang, “cirebon.. cirebon..”

seruan ituLah menjadi pertanda padaku untuk memusatkan perhatian ke sisi kanan.. seruan itu memberitahuku, tak Lama Lagi akan bisa kuLihat ia yang agung disana.. sendirian ia disana, tegak menantang semua.. ia tampak gaLak.. menyimpan keindahan yang mampu mencuri heLa nafas mereka yang mencapainya.. guLungan mega di bentangan biru, bagaikan ombak di samudera angkasa..

ia yang agung itu bernama ciremai..

meski baru 2 gunung kudaki.. meski aku seLaLu merepotkan orang Lain tiap kaLi mendaki.. meski seLaLu sakit kurasakan daLam tiap perjaLanan.. menggigiL kedinginan di surya kencana.. hampir menabrak pohon di ciremai  karena kepayahan dan nyeri di kedua kaki menyebabkan pandangan jadi kabur.. (berujung tak Lagi berani berLari ketika turun.. dan makin sakit kedua kaki ini).. meski tak ada cerita heroik yang bisa kusampaikan.. jiwaku seLaLu merasakan rindu..

aku rindu tawa yang mengiringi semangat kami menuju puncak.. aku rindu desah nafas ketika meLaLui tanjakan.. aku rindu suasana di camp.. meringkuk di depan kompor, menyeduh kopi dan memasak makanan aLa kadarnya.. bercengkerama, bercerita.. aku rindu nuansa kekeLuargaan yang mewarnai..

aku rindu suara penuh semangat berseru, “Puncaaaaak!!!”..

aku rindu rasa tenang ketika berada di ketinggian.. udara yang bercampur beLerang.. bentang warna biru dan guLungan mega yang menghiasi.. angin segar yang berhembus, meniup seLuruh kepenatan yang menumpuk.. kedamaian berada jauh dari  hiruk pikuk dunia..

tiap kaLi kupandang agungnya gunung di kejauhan, kubayangkan ketika aku menapaki punggungnya.. dan berdiri di puncaknya.. kukatakan pada diriku sendiri, betapa keciLnya aku..

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.