Posted by: hypocrisyoftheday | October 31, 2008

serba-serbi pemberkasan

berhubung saya sudah tamat DIII Akuntansi Pemerintahan yang artinya sudah waktunya negara menagih janji pada saya yang sudah dididik gratis bersama kambing-kambing berbahagia, saya mau tak mau harus tetap mau menjawab tagihan itu dan muLai menyibukkan diri dengan mengurus berbagai surat-surat yang diperLukan untuk mengukuhkan status saya sebagai caLon budak pegawai negeri.

hari ini saya muLai dengan mengurus surat keterangan catatan kepoLisian atau yang Lazim disebut SKCK. untuk bikin surat ini saja perLu yang namanya surat pengantar, muLainya dari RT. berbekaL surat pengantar dari RT ini, saya meLaju menuju kantor keLurahan. disana dibikinkan surat keterangan baru. ditanyai macam-macam. tapi saya maLes jawab. jadi dijawab sekenanya. eh, ternyata disana ada om saya. baru tahu ternyata om saya kerja disana. surat pengantar tadi ditandatangani pak Lurah (kayaknya),, trus dikasihken ke saya. Lho? masih ada tempat kosong. ternyata surat itu harus dimintakan tanda tangan pak camat. waduh, jauh Lagi kantor camatnya. tak apa. sampai sana, surat diserahkan ke pak sekretaris. dicatat di buku register, dikasih cap no NIP pak camat, trus dimintakan tanda tangan ke pak camat. sudah, dicap Lagi. kaLi ini cap kecamatan. mungkin, tidak saya perhatikan tadi.

untung saya ke kantor kecamatan itu sama mama saya. kaLo sendiri, mungkin saya tidak akan menyadari maksud kotak yang ada di meja pak sekretaris itu. baru ngerti saya, waktu mama memasukkan sejumlah uang – tidak tahu jumlahnya – ke dalam kotak itu. oh, itu kotak untuk ’sumbangan suka reLa atas jasa peLayanan’ yang ramai dibicarakan itu toh? Lain kaLi kaLau mengurus surat-surat akan saya perhatikan ada kotak atau tidak.

seteLah surat pengantar tadi penuh tanda tangan dan cap, saya ke poLsek, yang ternyata tidak jauh dari kantor kecamatan. disana Langsung disambut beberapa orang yang terLihat gahar pakai seragam poLisi.. waw, batin saya. Langsung ditanyai, mau bikin SKCK ya? saya jawab iya. LaLu disuruh masuk. sampai di tempat peLayanan pembuatan SKCK, saya membatin ‘waw’ Lagi. antara saya dan bapak petugas itu dipisahkan oLeh jeruji besi. seperti penjara. bapak itu terLihat gaLak. badannya gempaL, mukanya buLat, kumisnya tebaL, persis seperti image puLisi yang di sinetron-sinetron itu. saya ditanyai, mau meLamar ke swasta atau negeri? saya jawab negeri. dimintai foto 3×4 sebanyak 1 Lembar saja. ditanyai nama papa saya. saya jawab Rafael Widi Dahanapati. bapak itu tuLis di bukunya Rafael Widi Danapati. saya protes, Dahanapati. dibetulkan oLeh si bapak. LaLu bapak itu mengambiL sebuah kertas, dipasang di mesin tik. iya, mesin tik. yang berisik itu. bunyinya ctok ctok ctok teketektektektektek jegreeeekk ctok ctok begitu terus. si bapak pakai sebelas jari. tangan kiri kadang jari telunjuk kadang jari tengah. tapi tangan kanan selalu jari tengah. sudah seLesai mengetik, kertas tadi diberikan pada saya sambiL biLang, “sepuLuh ribu”. saya kasih seLembar uang warna merah. kembaLian tidak saya minta karena memang uangnya pas.

kertas itu tadi Lantas saya bawa ke PoLres. disana saya mengisi bLangko berisi pertanyaan2 tentang saya (masa tentang anjing saya? wong saya tidak punya anjing.). seteLah itu saya tidak tahu. karena papa saya yang berkeras ingin mengurusnya. saya tidak meLawan. ngaLah. biar orang tua saja yang maju. jarang-jarang seperti itu. jadi biarkan saja. yang saya tahu, berikutnya saya sudah pegang yang namanya SKCK. ada foto saya disitu. karena itu SKCK punya saya.

berikutnya saya mengurus yang namanya kartu kuning. ke depnaker. cepat juga. diminta ijasah, ktp dan foto. dikasih bLangko Lagi dan seLembar kartu, warnanya kuning. namanya saja kartu kuning. mengisinya dipandu bapak-bapak yang baik hati. dicap, difotokopi, di cap Lagi. sudah seLesai. tidak bayar. di depan pintu sudah ada tuLisan besar, “gratis coooyyy,,,”

memang seperti itu harusnya peLayanan masyarakat.


Leave a response

Your response:

Categories