Terbangun di pagi hari, bersiap untuk memuLai harimu, benda apa yang pertama kaLi kau cari?
Bersiap keLuar dari rumah, benda wajib apa seLain dompet yang seLaLu kau bawa?
Saat teringat dan merindukan seseorang, benda apa yang pertama kaLi terLintas di kepaLamu?
Bagiku, hampir daLam tiap kesempatan, jawaban untuk ketiga pertanyaan itu adaLah handphone.
kaLau dipikir-pikir, teknoLogi ini seperti pedang bermata dua. Di satu sisi, hape membantu kita untuk dapat secara praktis berkomunikasi dengan orang Lain. Terutama sangat membantu bagi mereka yang sibuk dan sangat mobiLe. Hape bisa membantu mengurangi homesick dan rasa kangen dengan kawan-kawan Lama. Bahkan, sekarang tak jarang Lagi hape digunakan sebagai media penyebaran firman. Ini saja aku baru bicara tentang fasiLitas teLepon dan SMS. Jaman sekarang hape sudah canggih, bukan Cuma sarana teLpon dan kirim pesan singkat saja.
Tapi di sisi Lain hape juga dapat memicu penurunan kuaLitas interaksi sosiaL kita dengan orang Lain. Sedikit-sedikit sms – pesan tertuLis eLektronik yang singkat dan dingin, dibandingkan dengan percakapan teLepon atau tatap muka yang menuntut interaksi dan memberikan feedback secara Langsung. Aku maLah pernah smsan dengan teman kos yang kamarnya Cuma di seberang ruangan, gara-gara kami sama-sama maLas keLuar kamar.
kaLau dipikir-pikir, sejak punya gadget satu ini, aku sudah jadi sedemikian tergantung padanya. Berada jauh dengannya saja membuatku geLisah. Jangankan jauh-jauh. Dipegang tapi daLam kondisi mati saja resah – kaLau ada sms bagaimana, jangan-jangan nanti ada yang teLpon. Seakan-akan hape sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidupku.
Dan tiba-tiba datangLah ide itu. Aku akan mencoba hidup tanpa hape. (I know, i know..kedengarannya kurang kerjaan banget, memang.. just keep on reading….)
Mengingat track record-ku sebagai orang yang mudah menyerah dan jago mencari pembenaran, aku harus minta bantuan seseorang. Sejak jumat maLam yang LaLu aku menitipkan kedua hapeku ke seorang temanku.
awaLnya terasa Sangat aneh. Pagi hari terbangun bukan karena Lagu Pandangan Pertama dari RAN seperti biasa (yang sengaja dipiLih sebagai aLarm karena panjang – 5 menit, bo!), tapi oleh bunyi ‘pipipipippippipipipippip’ beruLang dari aLarm jam dindingku (yang sengaja kutaruh di samping kepaLaku waktu tidur). seteLah membuka mata tidak mengecek sms. Waktu mau berangkat kuLiah pun mengecek isi tas apakah ada yang tertinggaL, aneh rasanya tidak ada hape di daLam situ. padahaL biasanya isinya Cuma satu buku bacaan, kunci kos, hape dan dompet. Sepanjang hari, ada saat-saat aku jadi kebingungan ketika tubuh secara refLeks mencari benda keciL yang biasanya seLaLu Lekat dengan badan itu.
awaLnya terasa aneh. Dan resah seperti biasa. Sepanjang hari terpikir, jangan-jangan ada sms. Siapa kira-kira yang mungkin menghubungiku hari ini? Rasanya sama sekaLi berbeda antara tidak bisa memfungsikan hape karena rusak dengan tidak bisa memfungsikan hape karena tidak ada di tanganku. Kadar keresahannya berbeda. Ternyata susah sekaLi meLepaskan hape.
Di hari ketiga, perasaan aneh itu masih ada tapi terasa jauh Lebih ringan. kaLau dipikir-pikir, rasanya jadi Lebih tenang, tidak perLu sedikit-sedikit mengecek Layar hape apakah ada pesan baru atau tidak (karena speaker-ku agak ngaco, jadi kadang ringtone-nya ngga bunyi). Tidak perLu menentengnya kemana-mana. Cuma sesekaLi saja membuka kabinet 757 buat ngecek jarkom. Tidak perLu takut kecopetan. (asumsi: posko dan secara khusus kabinetnya 757 aman).
DuLu, aku kesaL karena ada teman yang sudah di rumah, tapi hapenya tetap di-siLent sementara dia berkeLiaran kemana-mana dan hape tergeLetak jauh darinya. Jadinya, kaLau aku sms, seringkaLi dia ngga sadar dan berjam-jam berikutnya baru dia baLas. Tapi kaLau sekarang kupikir-pikir, justru karena hape itu seLaLu ada di sebeLahku, aku jadi terprogram untuk secara berkaLa memeriksa Layarnya, dan Langsung bereaksi kaLau mendengar nada deringnya. aku terprogram untuk resah.
KaLau kata Bang Assue (memory serves….), menurut teori psikoLogi, untuk membentuk suatu habit baru atau mengubah habit Lama itu perLu waktu sekitar 3 buLan. Jadi kaLau ditanya apa aku sudah terbiasa hidup tanpa hape, ya jeLas beLum Lah! Buktinya aku masih secara berkaLa membuka kabinet 757. Aku masih sering bertanya-tanya, ada yang sms ngga ya. KaLau orang rumah teLepon gimana ya….
Ternyata aku masih terikat dengan benda keciL ini. Bukannya aku mau sok sip mencoba ngga butuh hape sih (note this, to!). kaLau ditanya, ngapain aku iseng banget nitipin hape ke orang, ah, aku juga bingung sebenarnya tujuanku apa. Tapi sejak 3 hari LaLu, aku sering berpikir, apa poin yang bisa diambiL dari hari-hari tanpa hape ini? (waLau secara teknis sesekaLi aku masih menerima dan mengirim sms).
Ini baru hape. Bagaimana dengan ‘seseorang’?
Saat ia yang seLaLu mengiringi Langkahmu tak Lagi di sisimu, bisakah kamu meLepasnya?
Tidak ada orang yang bisa bertahan hidup tanpa bantuan orang Lain. hanya saja, beberapa orang menjadi begitu bergantung pada orang Lain, sementara beberapa orang Lain dapat dengan mudah ‘meLepaskan’. Beberapa orang Lain Lagi hanya menarik manfaat.
*speciaL thanks to Butho757 atas jasa penitipannya
hem.. aku juga pernah loh nyoba hal yang sama. pengen lepas tanpa hp. dulu ceritanya karena berantem ama cowoku. huhu. aku pengen matiin hape 3 hari. hape-nya aku matiin. batrenya aku lepasin. aku taro di lemari. aku kunci. kunci itu aku umpetin juga.
tapi.. belum juga sehari. hati udah resah ga karuan. kaya ada yang kehilangan. hem. kaya candu aja ya. kan kalo ga dapet obat, resah2 begitu juga ye. wuus. tidur resah. ahh. akhirnya malem2 itu aku cari kunci. kalah deh gw..
kayanya aku bukan orang yang dengan mudah bisa ‘melepaskan’.
salut deh buat kamu. berhasil ga memperpanjang track recordna. hohoho.
By: muthia on October 23, 2008
at 8:37 am