Entah apa yang menarik dari ruang keciL di saLah satu sudut Gedung G Kampus STAN itu. Baru diLihat dari Luar saja, sudah terkesan kumuh. Di terasnya ada 3 meja berjejer dengan sejumLah kursi yang meLengkapinya. Kadang di atas meja itu ada beberapa geLas berisi ampas kopi (kadang sampai berjamur). Kadang di atas meja yang sama ada bungkus-bungkus rokok yang sekaLigus difungsikan sebagai asbak. Dan asbak asLi yang penuh abu dan puntung rokok. di sisi kanannya banyak sekaLi barang-barang bergeLetakan – muLai dari spanduk, ponco, bambu, sampai tangga.
Entah apa yang membuat ruang keciL yang pintunya dipenuhi stiker itu seLaLu ramai. Baru mau masuk saja sudah disambut bau sepatu dan kaos kaki dari 2 rak di depan pintunya. Itupun beruntungLah yang datang memakai sepatu. Andai datang berbekaL sandal, beLum tentu puLang pun memakai sandal. (sandal presma saja kabarnya pernah raib disitu!). tapi juga bukan berarti sepatu pasti aman. Hanya Lebih keciL kemungkinan raibnya saja.
Entah apa yang membuat ruang keciL itu begitu hidup. daLam dan Luarnya sama saja. Berantakan. Tas-tas tergantung tak beraturan di dinding sebeLah kiri sementara di pojok beLakang baju-baju bernasib sama – maLah Lebih parah. Di sisi kanan setengah dindingnya ditutupi 2 whiteboard besar dan sejumLah foto.
Entah apa yang membuat sebuah ruang itu nyaman untuk ditinggaLi. Kasur tak ada. Hanya matras di atas Lantai dingin yang kadang-kadang saja disapu. bantaL bau yang sarungnya jarang dicuci. Komputer yang beberapa kaLi error.
Memang, sejak beberapa minggu LaLu ada AC tergantung di dindingnya. Dan TV pun menjadi 21”. Tapi cukupkah itu menjadi aLasan bagi beLasan orang itu berdesak-desakan tidur seperti tumpukan ikan di ruang sekeciL itu?
Mungkin tidak.
Di ruang keciL itu kata ‘jancuk’ tak Lagi terasa kasar – karena sedemikian seringnya diucapkan.
Di ruang keciL itu seseorang bisa diceLa dengan begitu sadis tapi masih tetap tertawa bersama mereka yang menceLanya
Di ruang keciL itu seseorang bisa mengaLami penyiksaan – muLai dari digeLitiki, dipukuLi, sampai diguLung dengan kain backdrop dan diLumuri bedak atau dicekoki brotowaLi. Tapi semua kembaLi bermuara pada kata ‘jancuk’ dan tawa.
Di ruang keciL itu seorang bisa berseLisih dengan yang Lainnya. Namun bisa juga menemukan pasangan hidupnya.
Di ruang keciL itu tercermin miniatur dunia. Semua perbedaan – muLai dari gender, suku, agama – berdampingan daLam penghormatan.
di ruang keciL itu semua poLa pikir, ideaLisme, karakter terkadang berbenturan, bergesekan.
Ruang keciL itu tampaknya tak Lebih dari sekedar ruang penuh kerusuhan dan ketidakteraturan.
Entah apa yang membuat ruang keciL itu menjadi dunia bagi penghuninya.
Entah apa yang membuat kaki ini meLangkah tanpa diperintah menuju ruang keciL tempat waktu mengaLir tanpa ampun seiring geLak tawa yang berderai.
Entah apa yang membuat kaki ini enggan meLangkah meninggaLkan ruang keciL tempat orang-orang aneh dan giLa itu berkumpuL.
Entah apa yang membuat Lidah tak bisa berkata-kata ketika ditanya,
”Kenapa orang-orang begitu betah berLama-Lama di Posko STAPALA?”
Dan Cuma bisa mengucap, ”It’s not something to say.”
Sementara senyum tersimpuL seiring benak mengembara ke ruang keciL di G112.
A pLace to caLL ‘home’, dimana saudara-saudara aneh itu mungkin sedang rokokan, gitaran, main catur, ngopi, atau sekedar menyiksa Pukon.
No pLace Like home…
No home Like Posko…
sepertinya bahagia sekali….
By: septianbudi on April 22, 2008
at 8:43 am
Feels like home to me..
Fell like I’m all the way back, where I come from
Fell like I’m all the way back, where I belong
By: nestina on June 27, 2008
at 2:19 pm
waaah, kayaknya mantab kali. Mana fotonya?
By: Daris Jati on November 12, 2009
at 4:38 pm