perjaLanan panjang
ini adaLah perjaLanan keduaku ke puLau sumatera. Sama seperti perjaLanan sebeLumnya, yang jadi tujuan adaLah pantai di provinsi Lampung. Hanya saja, kaLau sebeLumnya kami mengunjungi pantai mutun yang notabene adaLah saLah satu pantai wisata yang terkenaL di Lampung, kaLi ini yang menjadi tujuan kami adaLah puLau condong. Sebuah pulau kecil yang masih alami dan eksotis.
Dari Jakarta aku berangkat berdua saja dengan Gatot (797/SPA/2006) karena seLain tempat tujuannya jauh sehingga biayanya cukup besar dan membuat orang-orang yang kami tawari untuk ikut kebanyakan menoLak, memang perjaLanan ini juga cukup mendadak. Tadinya kami berencana berangkat tanggaL 14 agustus, tapi sayang sekaLi temannya yang jadi guide tidak resmi kami disana harus ke jogja pada tanggaL itu. jadiLah jumat siang sekitar pukul 12.00 kami berangkat dari kosanku di daerah utan kayu, Jakarta Timur. Sebenarnya ada 2 piLihan terminal yang bisa kami tuju, yaitu terminal pulogadung dan kampung rambutan. Tapi kami Lebih memiLih untuk ke terminal kampung rambutan karena di puLogadung agak suLit untuk mencari bus AC. Dan begituLah kami naik metromini no 46 dengan ongkos 2000 rupiah ke kampung meLayu, dan Lanjut dengan busway menuju kampung rambutan, tentu saja seteLah membayar 3.500 di Loket. Ternyata oh ternyata kawan, dengan rute seperti itu, jarak dan waktu tempuhnya jauh Lebih Lama dibandingkan biLa naik busway saja dari haLte pramuka Lia atau pramuka bpkp, transit di matraman Langsung menuju kampung rambutan. Yah, apa boLeh buat, ituLah ganjarannya ketika males jaLan ke halte busway yang memang agak jauh dari kosan. Singkat kata, sekitar pukuL 13.00 kami sampai di terminal kampung rambutan dan Langsung menaiki sebuah bus AC tujuan merak. seteLah bus berjaLan sekitar 20 menit, seseorang berjaLan menghampiri para penumpang satu demi satu demi meminta ongkos bus. Kami membayar sebesar 17.000 per orang, LaLu memutuskan untuk tidur.
Aneh sekaLi, rasanya sudah cukup Lama kami tertidur tapi kok beLum sampai juga ya. Kami tengok jam, aLamak, sudah jam 4 sore dan kami baru memasuki daerah serang padahal normaLnya kami bisa sampai daLam kurang Lebih 2 jam saja. Rupanya bus yang kami naiki berjaLan Lambat seperti merayap saja. beLum Lagi adanya perbaikan jaLan yang membuat jadi macet. Aduh, bisa-bisa kami baru sampai Lampung tengah maLam nih. biLa sudah begini, ada baiknya untuk kembaLi tidur saja.
Sekitar satu setengah jam kemudian kami sampai di peLabuhan merak. Tadinya kami mau naik kapaL cepat untuk menghemat waktu. Sayangnya, jam segitu kapaL cepat sudah tidak beroperasi. padahaL kalau dengan kapaL cepat yang ongkosnya 3 kaLi Lipat dari kapaL biasa, kami bisa menghemat waktu kurang Lebih sepertiganya. Tapi tak apaLah, kami akhirnya naik kapaL biasa dengan ongkos 10.000 saja. kapaL ini muLai bergerak dari peLabuhan merak sekitar pukul 18.00. ngomong-ngomong, ongkos 10.000 itu adaLah harga untuk keLas ekonomi. Sementara di kapaL ini disediakan pula kelas bisnis dengan tambahan biaya 6.000. seLain itu ada pula keLas VIP dengan tambahan biaya 30.000. nah, kami memiLih untuk masuk di ruang bisnis demi kenyamanan. Waw, rupanya kami sedang hoki. waLau masuk ruang ini, entah kenapa tidak ada petugas yang meminta tambahan biaya. Lumayan.
kapaL merapat di peLabuhan bakauheni sekitar pukuL 21.00. seteLah menunaikan panggiLan aLam, kami muLai mempertimbangkan untuk naik bus atau travel dan akhirnya kami memiLih naik travel. Memang sih, ongkosnya Lebih mahaL dari bus, tapi Lebih cepat (apaLagi kebetuLan kami dapat travel yang bagus dan nyaman). Dengan membayar Rp 25.000/orang, kami sampai di pantai Pasir Putih daLam waktu sekitar 90 menit.
sesampainya di pasir putih, kami tidak Langsung masuk, tapi nongkrong duLu sambiL menunggu rombongan teman-temannya gatot. Dibilang rombongan pun, mereka ternyata hanya bertiga: edo, radin, dan bertus a.k.a ntuz. Mereka tiba sekitar pukuL 11.35 dan Langsung saja kami masuk ke daerah wisata pantai paLing terkenaL di Lampung ini. Tiket masuknya Rp 4.000/ orang saja Lho, tambah parkir 2 motor masing2 6.000, jadi total yang harus kami bayar Rp 26.000 tapi ditawar edo jadi 25.000 saja (?). aiiiih….
Kami memanfaatkan sebuah gubug terbuka di tepi pantai untuk beristirahat maLam itu. Yah, tepatnya sih untuk begadang. sambiL ditemani kopi dan bunyi gemerincing hiasan gantung dari kerang, kami memecah keheningan maLam dengan petikan gitar dan nyanyian yang Lebih sering faLs daripada merdu. Sementara tubuh kami diterpa angin kencang yang dingin, di seberang Lautan terLihat jeLas tempat tujuan kami, puLau condong.
Kami baru berhasiL tidur sekitar jam 4 pagi, dan terbangung jam 7 pagi karena Lapar. seteLah ditegur untuk mengosongkan gubug sebeLum jam 8, kami mencoba memasak sarapan tapi karena males, akhirnya kami putuskan untuk membeLi nasi uduk sebanyak 1 nesting dan gorengan 9 buah seharga Rp 25.000. seteLah makan dan beberapa sesi foto2, kami memanggiL tukang perahu yang akan mengantar kami ke puLau condong. Biaya menyeberang dari pantai pasir putih ke puLau condong ini biasanya pp 25.000/orang tapi berkat keLihaian edo daLam menawar, akhirnya kami dapat juga 20.000/orang. Sebenarnya ini cukup mencengangkan, mengingat rekor sebeLumnya dia menawar hanya turun 1.000 saja. Hahaha…
dimuLai dari penyeberangan menuju puLau condong ini, kami sudah dibius dengan cantiknya bentangan laut yang kami Lewati. Gradasi warnanya dari hijau jernih, beranjak menjadi hijau toska, LaLu biru kehijauan yang pekat dan kemudian di tepi pantai puLau condong kontras secara drastis kembaLi menjadi hijau jernih. Sungguh, airnya begitu jernih, membuat saya tergoda untuk menceburkan diri ke daLamnya. Untungnya saya tidak bisa berenang. Ombaknya yang cukup besar mengombang-ambingkan perahu sembari kami menertawakan candaan kami yang sempat berpikir untuk berenang saja. Memang, ketika maLam puLau condong terLihat sangat dekat dari pantai pasir putih, tapi ternyata paginya kami perLu sekitar 15 menit dengan perahu untuk mencapainya.
puLau condong ini bentuknya seperti batok keLapa terbaLik dan dipenuhi pepohonan yang sangat Lebat. waLau di siang hari banyak orang memancing dan menyewakan ban, yang tinggaL di puLau ini tampaknya hanya sepasang kakek-nenek yang bisa dibiLang penjaga puLau ini. Mereka membuka sebuah warung keciL dan berjuaLan hiasan dari kerang dan bunga karang. Oh iya, setiap pengunjung puLau condong ini harus membayar Rp 3.000 untuk one day visit dan Rp 15.000/hari pLus menitipkan satu tanda pengenaL bagi yang ingin kemping. Kami memiLih Lokasi camp di pojok sebeLah kanan, agak jauh dari rumah tinggaL kakek-nenek itu.
Terbius oLeh keindahan pantai di hadapan kami, segera saja kami dirikan tenda dan tanpa basa-basi Lagi, para pria giLa itu Langsung membuka kaos dan menceburkan diri ke air Laut yang Luar biasa jernihnya. Sementara aku yang tidak bisa berenang ini kebagian jatah memotret mereka sambiL berjaLan menyusuri pantai. Ternyata pasir pantainya putih bersih dan Luar biasa Lembutnya, seperti tepung saja.
menjeLang siang, aku, gatot, radin dan bertus memuLai ekspLorasi keLiLing puLau sementara edo memutuskan untuk tinggaL di tenda. berjaLan ke arah kanan dari Lokasi camp kami, ada tumpukan karang yang memanjang menyerupai dermaga (tampaknya memang sengaja disusun seperti itu). Ketika air Laut surut, kami sempatkan untuk berjaLan di menyusurinya, dan ternyata… wow! Di ujung ‘dermaga karang’ itu tampakLah pemandangan yang sangat cantik. Bunga-bunga karang berwarna kecokLatan di baLik air Laut berwarna toska jernih dan ikan-ikan keciL yang sesekaLi tampak berenang-renang ceria serta Kepiting mengintip maLu-maLu di seLa karang. Tentu saja tak Lupa si buLu babi yang memamerkan duri-duri tajamnya.
Terus berjaLan kea rah kanan, hampir setiap kaLi kami berhenti untuk foto-foto karena memang setiap sudut dari puLau ini memiLiki wajah yang berbeda-beda. puasLah kami menyaLurkan bakat narsis kami. muLai dari foto di pantai terbuka, di antara dahan-dahan pepohonan yang tumbuh di garis pantai, sampai di sudut puLau yang dipenuhi karang-karang besar. Di Lokasi ini kami mengakhiri ekspLorasi sisi kanan, karena matahari makin tinggi dan medannya cukup menuntut energi ekstra untuk diLanjutkan. Namun, debur ombak dan jernihnya air Laut yang berwarna biru kehijauan itu membuat bertus dan Radin tergoda untuk berenang Lagi. Rupanya ombak disini jauh Lebih besar daripada di depan Lokasi camp kami. Mungkin itu dipengaruhi oLeh arah angin. Atau mungkin juga karena factor Lain. Apapun itu, dari wajah mereka aku bisa meLihat betapa puasnya mereka. Ah, jadi menyesaL aku tak bisa berenang. They seemed to be having so damn much fun!!!
Puas berenang, kami berempat kembaLi ke tenda. Wah, rupanya edo sudah siap dengan satu nesting mi goreng. Pengertian sekaLi. sambiL berjemur agar baju kering, aku tiduran di depan tenda, beraLaskan matras. Wah, tidak seperti kaLau ke pantai Lain, di condong ini waLau baru saja nyebur sampai basah kuyup seLama Lebih dari 1 jam, tidak terasa Lengket Lho! padahaL biasanya paling ngga betah kaLau habis main air di pantai, bawaannya Langsung pengen mandi saja. waLau terasa Lembab dan kurang nyaman, tetap saja akhirnya aku tertidur.
– dikepung, diserang, dan dirampok –
Tengah hari, ketika baju yang kupakai sudah kering, aku terbangun dan ternyata para pria sudah berkumpuL di depan kompor, keLaparan. Gatot sedang masak nasi sementara edo menggoreng temped an nugget. Radin jadi seksi sibuk dan bertus menunaikan tugasnya dengan sangat baik: tiduran di tenda sambiL ngecengin edo habis-habisan, hahaha… tiba-tiba, kami menyadari ada yang sedang mengawasi kami dari beLakang tenda, dari arah hutan. Segera kami menjadi waspada dan mendiskusikan strategi. Tamu kami itu semakin mendekat dan gatot, edo dan radin muLai meLangkah mundur sambiL berseru-seru, “syuuuh! Syuuuh!” di tangan mereka tergenggam sendok, siap dijadikan senjata untuk meLawan. Tamu kami semakin mendekat dan bertambah jumLahnya, menjadi tiga. “timpuk aja! Timpuk aja!” entah edo atau gatot, saya Lupa, membuat gerakan seoLah hendak menimpuk mereka dengan sendok namun tiba-tiba satu yang paling besar mengangkat Lengannya dan membuka muLut Lebar-Lebar, memamerkan taring dan baLas menggertak dengan suara mengancam. Langsung saja kami mundur takut. Pun bertus yang tadinya sok tenang di daLam tenda Langsung keLuar dan ikut memasang muka panic. Sementara itu, si pengancam tadi berLari kencang kea rah kami dan daLam gerakan secepat kiLat yang tak terduga LaLu menyambar sesuatu dari beLakang tenda kami LaLu berLari menjauh.
meLihat semua itu, kami semua syok dan Cuma bisa meratapi nugget yang seharusnya menjadi makan siang kami setengahnya berceceran di tanah sedang sisanya jatuh ke tangan ‘musuh’. Dan semua pun memaki-maki, “monyet siaLan!!!”. Ya, begitu Lah, di condong ini memang banyak monyetnya dan mereka masih Liar. Pun serangan nugget itu bukan Lah yang terakhir. Tak cukup memuaskan satu geromboLan, si bos monyet itu tadi kembaLi mendekat diiringi 2 pengawaLnya di sisi kanan dan kiri. Jauh di beLakang, di batas hutan, kami meLihat jumLah mereka makin banyak. Gawat!
Kami tak yakin apa yang harus diLakukan sehingga Cuma bisa meLongo ketika si monyet kembaLi berLari untuk menyambar nugget kami. baruLah kami agak puLih dari syok dan mendapat iLham ketika meLihat bos monyet itu terLihat tergoda namun tak berani mengambiL nugget yang sedang digoreng. “api! Api! Bikin api!” segera kami bergegas mengumpuLkan daun kering dan ranting LaLu membakarnya. Dan monyet-monyet itu pun tak berani mendekat.
Masih was-was dan deg-degan, kami meneruskan memasak makan siang. Namun ternyata peperangan beLum usai kawan! Dengan waspada kami mengawasi pergerakan mereka yang mencurigakan. awaLnya mereka hanya duduk manis di kejauhan, menatap kami, tak berani mendekat karena kobaran api di beLakang tenda. Namun tiba-tiba, 2 ekor monyet tampak perLahan bergerak kea rah kanan. Bahkan sudah muLai memanjat pohon. Aaaarrrrghh!!!! Api! Api! Segera saja kami kembaLi membakar dedaunan dan ranting kering, kaLi ini di sisi kanan tenda dan mereka pun mundur kembaLi. Akhirnya kami sibuk memasukkan semua barang bawaan kami ke daLam tenda dan begitu masakan matang, segera kami santap habis. waLau sudah tidak ada makanan Lagi di Luar tenda, tetap saja sesekaLi, ketika kami sedang tidur daLam tenda, baik siang maupun maLam, terdengar suara kresek-kresek di Luar yang menandakan seekor monyet sedang mengacak-acak pLastik berisi sampah kami. Hari berikutnya, kami baru menyadari, sebotoL minyak sayur kami pun ikut Lenyap seteLah kami semua turun ke Laut untuk berenang. Kami tak yakin apakah benar monyet yang mengambiLnya. Namun, sepertinya memang Lebih tidak masuk akaL kaLau ada manusia yang hanya menjarah minyak sayur dari tenda kami sementara disitu ada banyak hape serta dompet, dan kondisinya sedang meLompong karena kami tinggaLkan untuk mengekspLor sisi kiri Lokasi camp.
– for cLimbers –
saLah satu factor yang mengundang pengunjung ke puLau keciL ini adaLah adanya tebing yang menjadi tujuan para pemanjat. kaLau dari cerita yang kubaca sih ada 2 macam tebing di puLau ini, yaitu sport yang tingginya kurang Lebih 9 meter dan adventure yang tingginya mencapai 15 meter. kami sih kemarin tidak sampai menemukan tebing yang adventure, hanya yang sport saja. Atau Lebih tepatnya, sepertinya sih yang sport. Aku sendiri tidak yakin betuL karena kami memang bertujuan untuk jaLan-jaLan saja, jadi tidak terLaLu mencari tahu info soaL tebing. Yang jeLas, Lokasinya sih di sisi puLau yang berLawanan dari Letak Lokasi camp dan rumah kakek-nenek itu. untuk mencapainya cukup berjaLan ke sisi kiri, mengikuti Lekuk pulau condong ini. tebing yang kami jumpai dan kami jadikan obyek foto-foto ini sangat mengingatkanku pada citatah 125 yang cocok untuk artificiaL, hanya saja Letaknya pas di tepi pantai (sepertinya pemanjatan Cuma bisa diLakukan ketika air surut), dan bagian atasnya masih beLum bersih aLias masih banyak semak-semak dan katanya sih banyak uLarnya juga. Wew…
– kayak di piLem-piLem –
puLau condong ini benar-benar mengingatkan pada puLau-puLau yang di film-fiLm Lho. kaLau siang, pantainya yang bersih dan airnya yang jernih ditambah Lebatnya pepohonan membuatku teringat pada film The beach yang dibintangi Leonardo diCaprio (“kurang Ladang ganjanya aja,” kaLau kata bertus). Sementara ketika maLam tiba, suasananya berubah mencekam, hening, geLap guLita, seperti yang di PuLau Hantu saja. Samar-samar aku seoLah mendengar suara wanita bersenandung. Sempat ngeri juga, sampai akhirnya kami semua menyadari itu adaLah suara dari puLau sebeLah yang sepertinya sedang ada ‘pesta’. Oh iya, di seberang pantai pasir putih ini memang ada 2 puLau Lagi seLain puLau condong tempat kami berLibur ini. Dari yang pernah kubaca, saLah satunya bernama puLau buLe dan kabarnya merupakan puLau miLik tommy soeharto (kemungkinan puLau iniLah yang tengah berpesta saat itu). sementara Bertus dan yang Lain biLang sih di saLah satu puLau itu ada penangkaran ikan kerapu, entah di puLau buLe itu atau di puLau satunya Lagi, kurang tahu juga sih.
– Loncat dari dermaga –
Hari kedua kami di puLau condong, seteLah gagaL menyaksikan sunrise gara-gara mendung (sebenarnya sih Lebih karena males bangun karena kecapekan), paginya kami Cuma ngopi dan sarapan bubur instan sambiL tetap mewaspadai tamu tak diundang, LaLu packing. Karena kami baru akan dijemput jam 10, artinya kami masih punya sekitar 2 jam untuk berenang dan main-main. Tadinya aku Cuma mau duduk (sok) merenung di dermaga, tapi akhirnya aku tergoda seteLah meLihat Bertus dan Radin yang Loncat dari dermaga dan berenang-renang bersama ikan-ikan keciL disitu. Uuuuh… seandainya aku juga bisa berenang. Cukup Lama aku menimbang-nimbang, sampai akhirnya seteLah bertus dan radin meyakinkanku kaLau airnya dangkaL dan gatot juga ikut berenang, kuputuskan aku juga mau Loncat. Weeeeew!!! Baru kaLi itu aku Loncat ke air, apaLagi ke Laut. Seperti biasa, aku seLaLu panic kaLau kepaLaku terendam air, tapi karena dangkaL, aku bisa segera tenang Lagi. Beuuuh.. sensasinya benar-benar Luar biasa!!
– and we’ve finally Learned something –
Aku benar-benar bersyukur akhirnya kami jadi juga ke condong. perjaLanannya yang jauh dan meLeLahkan benar-benar setimpaL dengan keindahan dan petuaLangannya yang tak terniLai. Ketika perahu membawa kami meninggaLkan puLau itu, aku sungguh merasa sangat puas.
Sesampainya di Pantai Pasir Putih, aku segera ke kamar mandi untuk ganti baju. karena aku membayar dengan uang 10.000 dan penjaganya tidak punya uang kembaLian, aku harus menunggunya menukarkan uang. sambiL menunggu, ibu warung makan pun mengajakku ngobroL.
Ibu: nginep dimana tadi di puLau?
Aku: bawa tenda, bu.
Ibu: oh, bawa tenda. Cewek sendiri ya?
Aku: iya, bu.
Ibu: ngga takut?
Aku: *nyeLetuk tanpa sadar* engga, bu. Temen deket semua ini kok.
Sekitar 10 jam kemudian, ketika naik bajaj ke kosan, aku teringat percakapan itu dan tersadar. Ketiganya memang teman dekat gatot. Tapi aku sendiri baru 2 kaLi bertemu dengan edo dan bertus. Bahkan dengan radin, itu adaLah pertama kaLi kami kenaL. Kemudian kuingat-ingat juga semua kejadian seLama perjaLanan itu. betapa serunya, giLanya, penuh tawa ketika edo jadi buLan-buLanan ceng2annya bertus, panik diserang monyet, berenang sama-sama, begadang nyanyi-nyanyi sepanjang maLam dengan suara yang Lebih banyak faLsnya daripada merdu. Semuanya begitu Lepas, everybody just wanted to have fun together. Tanpa sadar aku pun tersenyum. I think we’ve Learned something priceless.
Edo, Ntuz, Radin, tengkyu banget kalian mau nemenin kami jaLan-jaLan kemaren. Tengkyu banget buat semua kegiLaan kalian. asLi, seru banget jaLan bareng kalian. Mudah-mudahan kapan2 bisa jaLan bareng Lagi yak…
Gendut.. makasih buat satu Lagi dari daftar panjang kenangan yang ngga bakaL terLupakan… kapan kita kemana Lagi? Hehe…