A Facebook-Reminded Birthday

“Sedikit yang ingat tidak masalah, daripada ingat gara-gara terpampang di home FB dan hal tersebut malah menjadikan tidak bermakna.”
(Christ Immanuel (@superr_christ) 1/21/12 1:23 AM)

Aku membacanya beberapa kali. Memikirkannya beberapa saat. Dan bahkan sampai sekarang, di akhir kalimat, masih saja satu kata yang segera terlintas di kepalaku: “Masa?”

Beberapa hari sebelum hari ulang tahunku, aku juga sempat memikirkan hal yang sama. Tanggal ulang tahunku tercantum di kolom info di profile facebook dan itu artinya ketika tiba harinya, akan ada notifikasi di homepage teman-temanku untuk mengingatkan mereka akan event setahun sekali ini.

Sejujurnya, yang pertama kali terpikir olehku adalah repotnya membalas satu per satu ucapan yang masuk ke wall-ku. Belum lagi kalau yang menulis ucapan adalah orang-prang yang sebenarnya tak benar-benar kukenal, yang ku-confirm semata-mata demi asas kesopanan berdasarkan mutual friends. Selama beberapa hari aku sempat galau, antara hendak dan tak hendak menghilangkan informasi tersebut dari profile-ku. Dan pada akhirnya, tak seperti Christ, profile facebook-ku tetap mencantumkan hari lahirku. Semata-mata karena aku malas mengubahnya. Iya, sesederhana itu aku mengakhiri kegalauanku.

Di malam sebelum hari ulang tahunku, aku pulang ke rumah menjelang tengah malam setelah lembur. Kelelahan. It was the night of my birthday dan kuputuskan, sebelum rasa galau itu makin menjadi-jadi, i’d just sleep through it.

Tapi tunggu dulu. Galau kenapa? Karena tambah tua? Oh, well.. it’s an inevitability. Karena currently single? Muahahaha.. for God’s sake.. i am relatively content with my being at the present. Strangely, what really bothered me was that… i couldn’t be happy about my birthday as much as i was about new year. Padahal kalau dipikir-pikir, dua-duanya basically sama: annual event. Perayaan untuk memperingati tanggal yang sama setiap tahunnya. Apalagi ulang tahunku bulan Januari. My birthday comes as soon as new year does. Kalau di malam pergantian tahun Masehi, aku bisa dengan bahagia mengingat setahun ke belakang, dan merasa sangat sangat puas karena telah belajar begitu banyak hal, bertemu banyak teman dan saudara baru, kenapa tidak demikian di malam pergantian usia? It was really bothersome for unknown reasons. That was why i decided to sleep thorugh it.

But some didn’t approve my plan.

Tengah malam, belum lagi genap satu jam aku terlelap, aku merasakan sesuatu menyentuh kakiku. Setengah sadar, aku berguling dan membuka mata. Masih setengah sadar, secara refleks aku menjerit. Kencang.

Aku selalu menjerit setiap kali terbangun dalam keadaan ruangan gelap gulita. Tapi kalau biasanya jeritanku disambut hening sepekat gelapnya, kali ini gelak tawa tiga orang yang menyambutnya, beserta tarian lidah api di atas dua buah lilin yang melayang di atas pangkuan tangan salah satu sumber gelak tawa tersebut. Salah seorang dari mereka menekan saklar lampu dan disanalah, masih tertawa terbahak-bahak, Arnel, Inda dan Kasuk berdiri di depanku. Oh, it’s a midnight birthday surprise, i see.

Entah karena midnight surprise-nya, atau karena kadonya (bantal garfield dan satu set DVD Godfather yang mematahkan hatiku setahun yang lalu karena harganya yang mahal setengah mati), my birthday was less bothersome.

Seperti yang bisa diduga, sepanjang hari di tengah asistensi handphone-ku bergetar dan menunjukkan push notification ucapan selamat ulang tahun dari teman-teman baik di facebook, twitter, maupun di BBM. Menariknya, ternyata tak lebih dari 5 ucapan dari orang-orang yang tergolong stranger. Masing-masing menuliskan ucapan yang unik, sesuai most frequent interaction kami. Seperti Engel yang bilang “jangan insomnia lagi” karena sering kutelpon tengah malam; Boyo yang tiba-tiba mengingatkan tentang animarium, nama kelompok kami waktu diklat stapala 4 tahun yang lalu, Jatmiko yang sampai sekarang masih memanggilku “ari-ari”, dan pastinya Butho yang hanya dalam occasion tertentu memanggilku “sis”. And i know when he calls me that, he means it.

Aku tahu, sebagian besar dari mereka tahu ulang tahunku dari facebook. But i happened to smile at every post. Ternyata hal itu tidak membuat setiap ucapan kurang bermakna seperti yang tadinya kukira. Think about it. Dari sekian ratus teman di facebook yang mendapat notifikasi yang sama, mereka meluangkan waktu untuk sekedar mengucapkan “selamat ulang tahun”. Ketika membaca notifikasi tersebut, untuk sesaat mereka berhenti dari aktivitas mereka dan mengingatku. Beberapa jelas berkelana dalam kenangan di masa lalu yang mereka lewatkan bersamaku dan kemudian menuliskannya di wall/timeline-ku. And i find it precious.

Teman sekarang belum tentu teman nanti. Ini kenyataan. Dan bukan hanya karena faktor umur, semakin hari semakin sedikit yang bisa kita ingat. Seringkali karena faktor jarak, padatnya aktivitas, begitu banyaknya orang yang datang dan pergi dalam kehidupan kita, mereka yang dulunya teman-teman dekat pun mulai terlupakan. Jangankan hal kecil seperti hari ulang tahun, kadang orangnya yang mana pun bisa sempat terlupakan. Dan percayalah, ketika semua faktor itu menyerang bersama-sama, we do need reminder. Seperti sebuah lampu merah di persimpangan jalan yang sekilas menyebalkan, tapi ternyata sangat berjasa. Kurang dari satu menit saja, kita berhenti dari lajunya arus, dan mengingat mereka, yang dulu pernah tertawa terbahak-bahak bersama.

So, yeah… i’m getting older. And i’m trying to be happy about it. And every wishes on my phone screen i smiled at got to be a huge help to make a start. So here’s my gratitude to every one of you who wrote it. Cheers..!

P.S. As for Christ, whose tweet mentioned at the top, i’m not trying to negate it. I put it there simply because it’s what made me start thinking about all this at the first place. So, well… again.. Cheers..! happy birthday to us.. :)

Gratitude and Apology behind the Massive Fun in Surabaya – Dedicated to My Insanely Generous Friends

It’s just like.. Everyday i believe a little less.. And a little less.. And a little less.. And that….. Sucks.. (Ted Mosby, How I Met Your Mother)

Bulan Agustus yang lalu, lewat telepon Arnel cerita tentang bagaimana dia semacam overwhelmed karena keluarganya Mas Jo, salah satu seniorku di STAPALA. Arnel menyebut mereka ‘baiknya ngga masuk akal’. Mendengar itu, aku sih cuma tertawa. Lah, memang anak-anak STAPALA begitu semua. Aku sudah terbiasa.
Tapi sebenarnya, kalau mau jujur, aku tidak terbiasa dengan orang-orang non-STAPALA, kalau pinjam istilahnya Arnel, yang ‘baiknya ngga masuk akal’. Hey! Bukan berarti aku menganggap cuma anak-anak STAPALA yang bisa baik! Tapi karena memang selain di STAPALA, aku jarang berada dalam komunitas yang sedemikian (mudah) akrab. Maka dari itu saudara-saudara, bolehlah aku disebut lebay, tapi liburanku ke Surabaya Desember lalu membawaku bertemu orang-orang yang demikian.
Semalam sebelum keberangkatanku ke Surabaya, sambil packing aku smsan dengan salah satu teman yang akan kujumpai sesampainya di Kota Pahlawan tersebut. Lebih tepatnya, kujumpai untuk pertama kali. Jadi saudara-saudara, awalnya aku kenal si teman yang bernama Wisnu ini dari facebook. Selain kami sama-sama hobi main game pump it up, ternyata dia ini teman SMA dari teman kuliahku. Nah loh, dunia sempit ya.

Aku sempat tertegun ketika tiba-tiba dia menanyakan apakah ada yang menjemputku di bandara. dan kemudian, ketika kujawab tidak ada, diluar dugaanku, dia membalas, “Yoweslah, tak jemput..” JENG JENG…!! Seketika aku terbelalak, berdiri, kemudian kayang diikuti salto 7 kali dan ditutup dengan pirouette saking kagetnya. Dan tentu saja itu bohong.
I knew he’s generous but could somebody be that generous? Karena seingatku jarak dari bandara ke kota itu jauh sekali. Dan dia sendiri bilang waktu tempuhnya sekitar 40 menit. Jadi PP berapa lama? Pintar sekali..! Belum lagi kalau dia harus nunggu karena lama turun dari pesawatnya atau apalah. Dan itu untuk menjemputku, yang belum pernah ketemu lho. Way too generous. Karena ngga enak hati, dengan sangat menyesal dan penuh rasa bersalah, aku baru membalas smsnya setelah landing di Bandara Juanda. Dan naik taksi ke kosan Nez.

Siangnya barulah aku dijemput Wisnu, ketemuan sama Arnel, makan siang sambil ketawa-ketawa dan kemudian ke BG Junction buat main pump. Disinilah ketemu satu orang lagi yang baik ngga masuk akal, Josephine. Selain kenalan si Wisnu, Josephine ini ternyata anggota Sapphire Crew sama seperti Arnel. Jadilah mereka langsung heboh aja gitu bertiga. Awalnya kukira aku bakal terjebak di suasana awkward di antara mereka. Tapi dasarnya emang semuanya gila kali ya, we surprisingly got along quite well. Dan ketika Josephine bertanya, “Kalian pulang jam berapa?” Aku dan Wisnu langsung tertawa dan menjawab, “Kita ngga pulang..!” Dan dia melongo.

Ini gara-garanya Nez, anak STAPALA yang kutumpangi selama di Surabaya, sebelumnya bilang kalau dia mau keluar sama temen-temennya sampai pagi. Jadi aku pun berencana demikian. Dan Wisnu pun bilang mau nemenin aku. How generous is that? But wait til you hear what Josephine said next: “Nginep di tempatku aja gimana?”
DOUBLE JENG JENG…!!
She knew me for what.. an hour or two and already, without hesitation she nonchallantly invited me to stay at her place for the night??? Emang mereka yang baiknya keterlaluan atau akunya yang terlalu sering berada di sekitar orang yang cuek? Entahlah. Yang jelas, aku sih memang berencana nginap di Nez. Dan akhirnya, bukan cuma Wisnu, Josephine pun ikut nemenin aku nongkrong sampai pagi..! Bertiga, kami pergi ke sebuah cafe dan ngopi sambil ngobrol ngalor-ngidul dan ngakak-ngakak sampai dilihatin semua orang.
And really, nothing beats the fun of being with friends, sipping coffee and laughing our asses off over practically everything. Dan sepanjang malam itu aku setengah takjub setengah merasa beruntung, ngga nyangka bisa segitunya having fun sama orang-orang yang baru kenal, karena walaupun semua orang yang kenal aku pasti memprotes keras dan tidak setuju, sebenarnya aku ini orangnya pendiam dan pemalu*. Dan aku merasa beruntung banget bisa ketemu orang-orang sebaik mereka.

Sebenarnya seandainya ditanya, kalau aku jadi mereka, apakah aku akan menawarkan hal yang sama – jemput, ngundang nginap, nemenin nongkrong sampai pagi – maka aku akan menjawab “ya”. Tapi giliran aku jadi orang yang ditawari, entah kenapa kok rasanya ngga enak hati dan sungkan -__-“. Maybe i need to learn to stop being so uptight. Maybe i need to enjoy a bit more, this little world-without-stranger of mine. Whichever it is, I had huge fun back in Surabaya, and i owe it all to them both. And to Arnel as well, of course.

Oh, by the way, sepulang dari Surabaya, yaitu tanggal 24 Desember 2011, aku mengirim friend request ke Josephine di facebook**. Beberapa hari berselang, ngga di-approve. Bahkan sampai tahun berganti, tak di-approve juga. Hahaha.. yasudahlah, toh aku juga memang lebih sering aktif di twitter.
Eh! Tiba-tiba, baru kemarin, 3 Januari 2012, ada notifikasi “Josephine Kho accepted your friend request.” Segera saja kusapa dia, siapa tahu sudah lupa samaku. Honestly, i was expecting responses like, “Ehalo, apa kabar?” atau “Kapan ke surabaya lagi?” atau apalah yang agak-agak basa-basi cheesy begitu. Instead, balasannya Cuma satu kata: “kangen2..!!”
Wait, what? Seriously? I mean, like… seriously? We met only once and you said you miss me?? Really?

Hahahaha.. I think i deserve a big slap on my face. i shouldn’t have doubted my friends, right? And now i owe them an apology for that. A massive one.
Can’t wait to see them again next time..
:)

“what do i do about that, Scherbatzky?”
“well, you’re Ted Mosby. You start believing again.”

*tapi kalau udah kenal malu-maluin :D
**si nona ga punya twitter sih.. –”

P.S. Even if i’m proud of my friends mentioned in this post, i am really not proud of myself writing it.. Tepat setelah aku menulis draft post ini, aku dapat kabar sidang Mas Bejo, salah satu senior STAPALA yang dikenain tuduhan Tipikor tengah berlangsung..seketika aku langsung muram dan mataku panas..secara spontan langsung mengajak se-timeline untuk mendoakan Mas Bejo. Dan aku pertama kali dan hanya sekali bertemu Mas Bejo bulan Agustus 2010 yang lalu. Dan Pak Dosko menulis di twitter: “pasti ada ikatan batin yang kuat diantara kalian.Saya yang ga penah bertegur sapa aja merasa dekat katena dulu tiap tiap hari melihatnya di kppn 2.” Seketika aku sadar, ada yang salah denganku ketika memikirkan semua yang telah kutulis di atas. That wasn’t me.

I don’t know what had happened to me. I don’t know what had made have gone so cold and bitter when i was writing the draft of this post. Apparently, for a moment, i myself had turned into a stranger in this little world-without-stranger of mine.

Alhamdulillah ya, Mahoro itu sesuatu banget..

“Kalau kita mau pulang dari Mahoro trus hujan gimana dong? Kalo ga hujan sih, alhamdulillah ya..tapi kalau hujan, sesuatu banget tuh!” kata Inda sebelum kami berangkat ke Pulau Mahoro. Dan kami pun cuma tertawa mendengarnya.

Dari dulu aku selalu percaya bahwa “it’s not the destination that matters, it’s the journey”. namun baru bulan lalu aku benar-benar memahami makna kalimat tersebut.  Ternyata, ketika destination-nya begitu indah pun, yang kemudian terasa paling berkesan tetaplah journey-nya.

It’s not the destination that matters, it’s the journey. Dan salah satu bagian terpenting dari journey tersebut adalah orang-orangnya, alias partner perjalanannya. And i couldn’t ask for better partners than those who went there with me: Inda, Basten, dan Arnel. Berempat, kami membuat perjalanan tersebut memorable dengan canda di setiap suasana. Mengisi waktu dengan bermain kartu di kapal, saling hina saling cela, dan saling mengutip ayat Alkitab untuk menghibur pemain yang kalah. Menertawakan Arnel yang paling penuh tipu muslihat, namun paling sering ngocok kartu. Sampai sekarang pun, saat berkumpul kami masih sering mengingat dan menertawakan candaan kami selama di kapal. Sampai saat ini tawa itu berderai kencang sampai terkadang air menitik di ujung mata kami.

Sampai saat ini aku masih sering mengomeli Arnel yang dengan pedenya tidur dalam posisi full fetal sehingga makan banyak tempat ketika yang lain sudah tidur dalam posisi lurus kaku. Ya, untuk menghemat biaya, kami berempat hanya menyewa satu kamar hotel saja sehingga kami berempat tidur berdesak-desakan di atas satu ranjang single. Dan sampai saat ini dia masih terus mengelak dengan berseru, “tapi kan masih muat!”

di sela sempit itu saya kemudian tidur -___-"

Namun bagaimana pun juga, bagian yang paling membuat perjalanan tersebut tak terlupakan, pastinya bagian ketika kami harus menyeberang dari Ulu ke Mahoro menggunakan kapal katinting di bawah guyuran hujan. Bagai kucing disiram air, kami berempat menggigil kedinginan, sambil sesekali menjerit-jerit karena tertampar cipratan air laut. Kami berempat pun meringkuk, mencoba menghindari cipratan air laut tersebut dengan sepotong terpal berukuran 2×1,5 meter.

itu katintingnya. ga ada yang close up karena hujan.

Bahkan di tengah guyuran hujan pun, alam tak berhenti membuat kami terpukau. Ketika air laut berubah warna dari hijau jernih menjadi biru kelam pekat, menyembunyikan keagungannya dalam-dalam. Sementara itu, pulau-pulau kecil  berderet berselimut kabut. Agak lama kami tertegun melihat Pulau Buhias, salah satu dari pulau berpenghuni di cluster tersebut. bagaimana tidak, baru saja pulau tersebut tertangkap pandangan mata, kami langsung disambut dengan tulisan besar di atas atap sebuah bangunan: “SMP N 2 SITIMSEL”. Aku pun spontan menoleh memandang sekeliling, ke lautan luas yang mengelilinginya. Bangunan itu tak lepas dari mataku sampai akhirnya perahu berbelok untuk menuju Mahoro, melewati beberapa pulau batu dan pulau-pulau dengan tepian bertebing, membuatku membayangkan para pemanjat menjajalnya.

Langit tak berhenti menangis bahkan sampai kami sampai di Pulau Mahoro. Namun itu tak menghentikan kami dari berteriak histeris begitu menjejakkan kaki di pantainya yang sangat bersih, pasirnya yang lembut dan berwarna terang, saling beradu dengan riak-riak ombak berwarna hijau jernih.

karena hujan, lebih hangat di dalam air daripada di pantai

Sekali lagi, i couldn’t ask for better partners. Normalnya, mungkin orang akan bete dengan situasi yang kami alami waktu itu. Sudah jauh-jauh pergi menyeberang laut untuk bersantai di pantai, eh, malah hujan. Perjalanan dengan katinting pun rasanya jauh dari nyaman. But we all agreed, there was no use in being grumpy, might as well we enjoyed all the situation. So we did.

Lelah bermain air, kami kembali menggigil kedinginan. Untungnya ada sebuah cerukan di tebing yang bisa kami gunakan untuk berteduh dan bersembunyi dari terpaan angin. Disitu lah kami makan dan foto-foto dengan berbagai gaya. Dan kemudian sebuah ide iseng terlintas di kepala kami. Di tengah rintik gerimis, di pulau terasing, di usia kepala 2, kami berempat main engklek. That’s just one of our ways to enjoy our time.

ceruk tempat kami berteduh

engklek bahasa indonesianya apa sih ya?

bukan lagi marahan

Walaupun cuma sebentar saja kami di Mahoro, rasanya betul-betul memuaskan. Dan melelahkan. Tak seperti waktu berangkat ke Siau dimana kami menyewa 2 kamar kapal dan end up menggunakan satu saja sebagai basecamp untuk main kartu, pulangnya kami hanya menyewa 1 kamar untuk berhemat. Tapi pada akhirnya belum juga jangkar diangkat, kami sudah tertidur. Dengan posisi yang somehow tidak normal.

Sampai sekarang Arnel masih sering tertawa terbahak-bahak kalau menceritakan gelinya dia terbangun dan melihat Basten tidur di ranjang atas sementara Inda duduk meringkuk bersandar dinding di dekat kakinya. Kemudian dia cuma bakal nyengir kalau kuingatkan dia dengan kurang ajarnya tahu-tahu menumpuk semua bantal dan guling di kakiku dan dengan entengnya tidur di atasnya. Setelah 10 menit, kubangunkan karena kakiku mulai mati rasa, masih dengan mata tertutup dan nada cuek dia cuma menyahut, “kenapa? Kedinginan lagi?” Betul-betul durhaka memang anak itu.

Perjalanan kemarin mungkin bukanlah perjalanan yang paling ideal ataupun nyaman. Tapi aku sangat menikmatinya. Segala kesulitannya justru membuatnya lebih berkesan dan tak terlupakan. Di masa mendatang, mungkin aku atau ketiga temanku itu akan datang kembali ke Mahoro, atau berpetualang ke tempat-tempat indah lainnya. Bisa jadi juga ke tempat yang lebih indah dan tak kalah berkesan dari Mahoro. Namun persis seperti yang dikatakan Arnel di pagi sepulang dari Mahoro, ketika aku mengantarkannya ke Paal 2 tempat dia menunggu angkot kembali ke Airmadidi,

"tapi emang beneran ya.. kemaren itu sesuatu banget.." :D

Mahoro Island – hidden paradise in North Sulawesi

“Ke Pulau Mahoro yuk!”

Terhitung hanya 5 hari saja berselang antara kali pertama ide tersebut tercetus dan hari keberangkatan kami ke salah satu pulau di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro ini. Diwarnai galau dan khawatir karena minimnya informasi mengenai akses ke pulau tersebut, setengah ragu setengah nekat, berangkatlah kami berempat – aku, Arnel, Inda, dan Basten – berpetualang ke Mahoro.

Untuk mencapai Pulau Mahoro, sebelumnya kami harus naik kapal ke Pulau Siau, letak dari pusat pemerintahan dari kabupaten ini. Dari Manado, ada 2 pilihan kapal menuju Siau, yaitu dengan kapal cepat dan kapal malam. Kapal cepat berangkat dari pelabuhan Manado pukul 09.00 WITA dengan harga tiket sebesar Rp 150.000,00 dan sampai di Siau sekitar pukul 13.00 WITA. Namun karena satu dan lain pertimbangan, kami memutuskan untuk naik kapal malam yang berangkat pukul 18.00 WITA. Dengan membayar Rp 60.000,00, penumpang bisa melewatkan perjalanan diranjang susun yang berderet bagaikan barak. Namun, kalau mau lebih nyaman, bisa juga sewa kamar ABK dengan tambahan biaya sebesar Rp 180.000,00/kamar, dimana 1 kamar bisa digunakan oleh 2 orang.

Perjalanan menggunakan kapal malam menuju Siau kami tempuh dalam waktu kurang lebih 7 jam. Sekitar pukul 01.00 WITA, kapal pun akhirnya merapat ke Pelabuhan Sawang, Pulau Siau. Nah, berhubung kami sampai dini hari, kami memutuskan untuk mencari penginapan terlebih dahulu. Di pulau ini masih belum banyak hotel maupun penginapan. Yang paling sering dikunjungi adalah Hotel Jakarta di Ulu dengan tarif paling murah Rp 300.000,00/malam. Ada juga penginapan Wisata Bahari dengan tarif Rp 75.000,00/malam yang juga terletak di Ulu. Kebetulan, untuk mencapai Mahoro memang harus menyeberang dari Ulu. Nah, dari Sawang ke Ulu ini kami naik mobil angkutan yang kata kenalan di Siau bilang, namanya mobil daster. Entah deh itu mobil jenis apa. Bentuknya sih seperti bemo besar kali ya, masuknya dari belakang, duduknya di bangku panjang, hadap-hadapan. Kenapa namanya mobil daster? Katanya sih karena kalau diberdirikan motifnya jadi seperti daster. Masalahnya, siapa coba yang begitu isengnya ngeberdiriin mobil?

Untuk mencapai Pulau Mahoro dari Pulau Siau belum ada angkutan tetapnya, tapi kita bisa menyewa perahu nelayan atau speedboat. Sebelumnya kami sempat bertanya pada pegawai hotel berapa kisaran biaya untuk sewa perahu tersebut dan katanya, untuk perahu katinting kecil sekitar Rp 250.000,00, sedangkan speedboat Rp 450.000,00. Hanya saja, ketika berusaha nego dengan sang nelayan, dia ngotot bertahan di harga Rp 500.000,00 untuk perahu katinting dengan alasan sudah 3 hari mereka kekurangan pasokan bensin. Karena sudah terlanjur sampai di Siau, kami pun akhirnya sepakat di harga Rp 400.000,00. Terutama setelah melirik antrian panjang di pompa bensin kecil di samping pasar. Jangan bayangkan SPBU besar dan bersih seperti di kota besar, disini pompa bensin yang dimaksud penampakannya seperti warung kecil dengan logo pertamina, entah disebelah mana tangkinya berada.

Dalam cuaca cerah, perjalanan dari Siau ke Mahoro dengan perahu bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih satu jam saja. Selepas dari Ulu, menoleh ke belakang, kita akan bisa melihat gagahnya Gunung Karangetan di Pulau Siau, lengkap dengan selarik warna hitam yang menandakan jalur lavanya, menambah kesan garang. Gunung vulkanik ini sampai sekarang masih aktif. Bahkan, di malam hari kita bisa melihat lahar berwarna merah menyala di puncaknya.

Memandang sekeliling, warna air dalam sekejap berubah menjadi biru pekat. Di kanan-kiri banyak pulau-pulau, mulai dari pulau besar yang memang tempat kehidupan masyarakat seperti Pulau Buhias, sampai pulau-pulau batu yang menjadi tempat peraduan ombak. Beberapa di antaranya bahkan membentuk tebing yang membuatku penasaran, kira-kira bisa dipanjat atau tidak ya. Namun karang-karang yang bercokolan di sekelilingnya seketika membuat nyaliku ciut. Sedangkan Mahoro sendiri.. Ah, betapa girang kami berempat ketika pulau kecil ini terlihat.

Begitu perahu merapat ke pulau, kami serentak meloncat keluar, disambut air laut berwarna hijau jernih, yang menambah eksotisme pasir putih lembut yang membuat kami bersorak girang begitu menyentuhkan telapak kaki ke atasnya. Bukit yang dipenuhi pepohonan hijau pun menambah asrinya pemandangan. Tanpa mempedulikan gerimis yang menerpa, kami berlarian kesana-kemari bagai anak kecil. Dan ketika dingin mulai merayapi kulit, kami pun berhambur ke air laut. Ah, sayangnya karena hari itu hujan, tak banyak foto yang bisa kami ambil.

Hari itu matahari bersembunyi di balik awan kelabu, namun bahkan kabut pun tak mampu menyembunyikan keindahan di sekeliling Pulau Mahoro dan pulau-pulau di sekitarnya.

Hari itu, aku memandang ke sekeliling, lautan yang luas, pulau-pulau tak berpenghuni, pantai-pantai dengan pasir putihnya yang lembut, dan sekali lagi aku diingatkan, Indonesia itu indah, kawan! Berpetualanglah!

will we remain to be friends as we grow old and gray?

Tadi malam, sebuah tweet membuatku jadi galau:

LaurentAde @donnacorle and officially i should say: gudbai jogjahh.. :)

Satu tweet itu entah kenapa seketika memancing banyak sekali pertanyaan dan pemikiran di kepalaku. Meskipun semuanya bersumber dari sebuah kalimat tanya, train of thoughts yang mengikutinya ternyata sangat random. Maka maafkan kalau post kali ini terasa begitu acak. Dan dari sinilah semua bermula:

How do we measure friendship?

By the length of time we know the person? By the amount of time we spend together? By how frequently we hang out together? Geographicly? or by any other standards?

Case 1 – Rahmanti.
Sad to say, indeed, I didn’t have any close friends until my third year of junior high. And her name was Rahmanti. Dulu kami berdua bener-bener nyambung. Kemana-mana sama-sama. Selera musik, bacaan, dan leluconnya sama. We finished each other’s sentences. Bahkan setelah lulus kami pisah sekolah pun, kami masih sering sama-sama. Sampai aku kuliah di Jakarta pun, kami masih sering surat-suratan. Tapi sekarang? Nyaris nothing. I still care for her, it’s just not so easy to pick up what we left off.

Case 2 – Laurentius Ade.

Dia adalah senior KMK STAN. Dia lulus waktu aku masuk tingkat 1. Kalau diingat-ingat, ga bisa ingat lho gimana kami bisa saling kenal dan jadi dekat, selain karena sering ketemu di Hiu 6. Padahal kalau cuma itu, lha disana lho banyak kakak-kakak senior lain. Dulu waktu aku masih tingkat 1, hampir tiap hari kami sms-an. Pertama kali aku naik gunung pun, karena disubsidi sama dia :) . Sampai dia penempatan di Saumlaki pun, kadang kami masih smsan. The friendship remains walau dia sempat tinggal ngesot sampai ke Australia. Sampai akhirnya 4 tahun kemudian dia di-mutasi ke Jogja, kami jadi makin sering kontak, jalan bareng tiap aku pulang kampung, bbm-an. Dan ketika dengar kabar dia bakal mutasi ke Jakarta, i just know Jogja won’t feel the same anymore.

Case 3 – Jati Nugroho.


Sama-sama senasib sial, jadi bagian dari 150 orang penempatan BPKP yang pengangkatannya tertunda setahun. Lucunya adalah, selama sama-sama di DKI 1, kami berdua nyaris ngga pernah ngobrol. Dia di lantai 3, aku di lantai 4. Sekali-sekalinya ngobrol, karena ada orang pemda jajahannya mau konsultasi soal SIMDA dan telponnya ke aku. Waktu diklat di Ciawi pun, dia di gedung baru dan aku di gedung lama. Disinilah kami mulai ngobrol. Itu pun, ngobrolnya lewat twitter. Setelah penempatan, jadi makin sering ceng-cengan di twitter, becandaan di Y!M, dan setelah aku beli blackberry, sempat hampir tiap hari bbm-an ngga jelas. Bahkan, untuk suatu perkara, dia lah yang kuajak sharing. Padahal, aku di ujung utara Indonesia, dianya di ujung barat.

Case 4
Beberapa teman KMK di Manado. yang mana KMK itu adalah singkatan dari Keluarga Mahasiswa Katolik. Yang mana yang menjadi bagian dari Keluarga itu adalah saudara. Namun pada kenyataannya, walau 3 tahun sama-sama menjadi bagian dari sebuah Keluarga waktu di kampus, walau penempatan di kota yang sama, kami nyaris ngga pernah ketemu. Kami nyaris ngga pernah kumpul-kumpul, sekedar Gereja bareng atau ngegosip. Kadang kalau kumat sih kepikiran, so much for a family.

Case 5 – Engelbert.

Si tengil ini juga bagian dari KMK. Tapi dia KMK kabur-kaburan. Jarang ikutan kumpul, jarang ikutan doa bareng. Baru akhir-akhir aja dia entah bagaimana cerita awalnya, tahu-tahu jadi bagian dari crew Pectria, buletinnya KMK, sama-sama denganku. Lucunya adalah, kalo kami bareng, nyaris ngga pernah ngga ribut. Yang lebih lucu lagi adalah, 2 tahun setelah lulus, setelah aku penempatan ke Manado, tiap aku ke Jakarta, dia yang kuajak ketemuan. Dan….. walau tetap menyebalkan dan ngajak ribut, eh, ternyata dia bisa jadi baiiiiik banget kalo lagi jalan berdua :) . Sampai-sampai aku bingung, ini beneran Engel kan? Dan walau dia selalu ngomel-ngomel, dia juga selalu bikin ngakak tiap aku insomnia dan kumat isengnya, nelpon dia tengah malam. Dan ini yang paling bikin aku ngga bisa ngga senyum kalau inget dia: tiap ada gempa atau gunung meletus atau apapun di Sulut, dia yang ngga pernah absen ngetwit, “Ron, lo masih idup kan? Lo baik-baik aja kan?”

Case 6 – Arneldi.


First saw him on the panel on December 2010. Setelah beberapa kali cuma bisa kagum liat dia jago main pump, pada pertengahan Januari dimulailah hari-hari random kami. Kebetulan dia duduk sendirian nunggu giliran main. Iseng, aku duduk di sebelahnya. Sambil dalam hati mikir-mikir, “hmmm.. mau bilang apa ya?”, eh, dianya celingak-celinguk terus. Dan before i knew it, udah keucap aja, “gelisah amat?”. Dia yang kaget karena tau-tau kuajak ngomong langsung noleh dan dengan ramahnya senyum ala Nyong Manado dan jawab, “iya, nunggu temen soalnya.” Mendengar logatku (or lack thereof), dia pun sadar aku bukan orang Manado, dan karena dia sendiri pun bukan, mulailah kami commiserating soal merantau di Manado. dan ternyata obrolan kami nyambung. Kali ketiga ketemu, kami tukeran nomor hp. Dan sejak saat itu, kami hampir selalu nongkrong bareng. Dia ngajarin aku main pump, aku bayarin credit-nya -____-“. Being with him is so refreshing, pure fun. Dan walau baru kenal belum lagi genap setengah tahun, bisa dibilang aku lebih dekat dengannya daripada dengan orang-orang lain yang mungkin sudah kukenal bertahun-tahun. Berdua, kami bisa ngobrolin begitu banyak hal yang terkadang bisa jadi sangat random, bahkan bisa ngga putus-putus semalam suntuk. Yah, walau anaknya kadang bisa jadi sangat menyebalkan. Misalnya kalau udah mulai ngaret. Padahal aku paling kesel sama orang yang ngaret.

Case 7 – Bustanul Maftuhin.

Ah, capek cerita soal dia. Baca ulang disini aja deh.

Case 8 – Buchori Nahar.


He’s one of my closest dearest friends and most respected seniors. Walau rentang umur kami sangat jauh, dan geographically juga sekarang sangat jauh, dia salah satu orang pertama yang sering kumintai pendapat kalau aku lagi galau :D . We share many random things, mulai dari teori-teori psikologi, sampai my love life (or, again, lack thereof). Kadang aku mikir, duh, kekanak-kanakan banget semua ceritaku ini, pasti abangnya bosen ngebacanya dan mikir labil banget sih anak ini, ngga penting banget sih. Yet, dia selalu menyimak ceritaku, dan ngasih feedback yang kadang ngga terduga. Dan… sering banget bikin nangis.. :D Whenever i think of him, i thank my Lord. Hey, ngga semua orang punya kesempatan bisa ngobrol nyantai sama senior yang dikenal galak dan nyebelin dan banyak maunya kan? Dengan entengnya ngeceng-cengin pula… :D dan dia selalu bikin aku terpingkal-pingkal tiap dia cerita soal Rana, anaknya, yang ternyata bertipe Corleone mentok akut. Sama sepertiku.

Case 9 – Andreas Avelinus Nova Kharismawan.


Yak, entah kenapa memang dari dulu teman dekat ku itu ya teman berantem. Yang ini dari jaman SMP, malah. Dengan kata lain, kami sudah saling kenal dan saling hina selama lebih dari satu dekade. Dengan kurang ajarnya, aku menyebutnya budak seumur hidup. Tentu saja dia menyangkal. Tapi walau kami jarang sms-an/telpon-telponan/bbm-an, dia selalu paling bisa diandalkan buat nemenin kemana-mana tiap aku pulang kampung. Bahkan, jadi sopir ke Magelang waktu nikahannya Terong-Uka kemarin. Dan dia… selalu ngasih feedback yang jujur. No sugar-coating cuma buat nyenengin atau ngejaga perasaanku. For that, i should be grateful.

Last case, for it gets boring.


Masyhur Aziz Hilmy, Marchelina Cindy Kumala Hayati, Retno Ayuningtyas, Nurul Istiningdyah Triadanti, dan Arry Mukti Prabowo. Atau dengan kata lain: Corleone. Aku takut kata-kata justru akan gagal menggambarkan betapa besar arti mereka dalam hidupku. Yang jelas, karena dulu aku ikut kelas Aksel, otomatis masa SMA-ku Cuma 2 tahun. Dan karenanya banyak yang bilang, “kasian banget kamu, masa SMA kan paling menyenangkan, 3 tahun aja kurang.” Tapi kalau aku disuruh memilih antara 3 tahun SMA tanpa Corleone dan 2 tahun SMA dengan Corleone, aku pilih yang kedua. Padahal Corleone baru terbentuk dan mulai sering jalan bareng di tengah tahun terakhirku di SMA. Walau sekarang kami terpencar dimana-mana – Kyoto, Cirebon, Jakarta, Jogja, Sumbawa, dan Manado – aku selalu merasa Corleone selalu bisa jadi tempat untuk “pulang”. Lucunya, walau terhitung jarang kontak-kontak, aku merasa bahwa ikatan di antara kami tetap kuat. Terbukti dari waktu ke waktu, bergantian, ada saja yang mention seluruh Corleone di twitter untuk sekedar bilang, “aku kangen.”

Beberapa saat yang lalu, kubaca di update status BBM Puspa kurang lebih begini: “you know him for less than a year and you call him your brother?”. Dan seketika terpikirlah si Arnel. Yes, why not? (padahal bukan buatku juga itu status, sok ge er aja sih). Karena ternyata banyak juga teman-teman yang kukenal bertahun-tahun, tapi jangankan sharing ini itu, sekedar diajak makan malem bareng aja kayaknya belum tentu mau.

Tak lama kemudian, Inda pun nge-twit, “some friends come, and some friends go.” Sad to say, it’s an evitability. Teman kemana-mana sekarang ternyata belum tentu bakal tetap keep in touch 5 tahun ke depan. You never know what evil time and distance can do to your life. Bahkan sekarang pun ketika hampir tiap hari hang out sama Arnel and we seem to be so close, kadang aku bertanya-tanya, kira-kira 10 tahun lagi kita masih kontak-kontak ga ya? Masih bisa se-random ini ngga ya? Masih temenan ngga ya? Sama seperti status bbm-ku beberapa minggu lalu: will we remain to be friends as we grow old and gray? (Dan sama seperti waktu baca tweet-nya Engel, mau ngga mau aku jadi nyengir karena waktu aku bilang gitu ke Arnel, dia jawab, “Tenang aja, pasti masih kok, selama aku masih hidup.”)

So how do we measure friendship? I don’t think we can.

Untuk saat ini, cukuplah buatku bahwa kalau ada orang yang bisa kuajak makan bareng, atau sms-an, atau bbm-an, atau telpon-telponan, ngobrol ini itu, curhat, ceng-cengan, atau main pump sampai berdarah-darah (literally, it happened last night) dan selama itu aku bisa enjoy, then i should be grateful. Life isn’t easy, life isn’t fair, dan selama ada mereka buat jadi tempat buat “pulang”, buat “nyandar”, buat ngebikin aku nangis ketika semua udah bener-bener depressing, then i should be grateful.

And if there’s a similarity between twitter and my relationship with my friends, it is that things don’t always have to be mutual. All i know is i care for them and that they mean so much to me, whether or not they feel the same about me. However insignificant i might be in their lives.

the five panels excitement

Kalau biasanya, timeline-ku diwarnai dengan pertanyaan, “Pump itu apa sih?”, sekitar weekend lalu pertanyaannya berubah menjadi, “Lho, Pump ada kejuaraannya juga toh?” Lho.. tentu saja ada. Bukannya itu salah satu cara marketing biar mesinnya (makin) laku ya? Oke, jadi singkat cerita, kejuaraannya itu namanya World Pump Festival (WPF). Siapa yang berhak  ikut WPF? Yaitu wakil-wakil terbaik dari masing-masing negara. Nah, pertanyaan berikutnya tentu saja adalah: “Bagaimana menentukan siapa wakil terbaik dari masing-masing negara, atau dalam hal ini, Indonesia?” Jawabannya simpel saja kan, yaitu dengan menyelenggarakan kompetisi tingkat nasional dengan nama Indonesia Pump Festival (IPF). Adapun biasanya, preliminary round untuk IPF diselenggarakan di kota-kota besar di Jawa dan Sumatera. Namun, di minggu-minggu terakhir, keluarlah keputusan, pulau Sulawesi juga diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam IPF. Lebih tepatnya, kota yang diberi kesempatan untuk berpartisipasi adalah Manado.  

day 1 – speeder category

Inti dari kategori ini adalah menginjak pad yang tepat di waktu yang tepat. Seluruh peserta diharuskan memainkan lagu yang sama, yang ditentukan melalui sistem random dari mesin Pump dan pemenangnya ditentukan dari skor tertinggi. Kategori ini juga dibedakan lagi menjadi 2, yaitu female speeder dan male speeder. Kategori female speeder diikuti oleh 3 orang saja, yaitu Gaby (Sapphire Crew), Acid (MPC), dan  Chen-chen (MPC). Dan karenanya, pemilihan lagunya dilakukan dengan sistem random untuk kelompok lagu women’s semifinal. Kerumunan penonton yang setengahnya dipadati oleh pumper (yang otomatis tahu betul tingkat kesulitan masing-masing lagu) seketika berteriak kencang ketika hasil random yang keluar adalah lagu Necromancy Double Level 18 (D18) dan Wanna D17. Adapun untuk finalnya, lagu yang muncul adalah DJ Otada D22. Frustrasi langsung membebani para speeder, bahkan mereka yang tidak mengikuti lomba. Dan walaupun untuk lagu DJ Otada ketiganya mendapat nilai F, berdasarkan perolehan skor, Gaby lah yang muncul sebagai Juara I, Acid Juara II dan Chen-chen juara III.

  

Kategori berikutnya yang dilombakan hari itu, yaitu male speeder ternyata berlangsung lebih seru. Kategori ini diikuti oleh 4 orang, yaitu Ricky (aku ngga tahu dia club apa, mungkin sih MPC), Vincent (MPC), Arneldi (Sapphire Crew), dan Ando (MPC). Sama seperti sebelumnya, pemilihan lagu dilakukan melalui sistem random untuk men’s semifinal. Daaaaaan… lagi-lagi teriakan membahana dari para pumper ketika lagu yang muncul adalaaaaaaah… Cleaner D20. Sebanding dengan bilangan levelnya yang tinggi, lagu ini dikenal dengan tingkat kesulitannya yang bikin frustrasi. Rusuhnya makin menjadi-jadi ketika giliran Vincent yang memainkan lagu ini. Seratus… dua ratus… tiga ratus… kedua kakinya terus menari di kesepuluh pad dengan kecepatan yang membuat speeder lain geleng-geleng kepala. Tanpa miss satu pun. Empat ratus.. lima ratus.. tiap digit depannya bertambah, histeria dan pitch sorakan penonton pun makin bertambah. Dan akhirnya, ketika combo-nya mencapai angka 1000, semua orang menjerit-jerit dan tak putus sampai akhir lagu. Bahkan ketika Vincent turun dari pad, semua rekan-rekannya langsung mengerumuninya, dan menepuk-nepuk pundak, kepala atau punggungnya, masih bersorak-sorak.

Dia baru saja menyelesaikan lagu tersebut dengan skor S silver, perfect combo. Dari awal sampai akhir lagu, tak satu step pun yang miss.

Melihat itu, beberapa orang spontan menoleh ke Arneldi, peserta berikutnya yang sibuk tertawa-tawa dan geleng-geleng kepala. Bercanda, dia pun berkata, “Aku mundur aja deh. Aku pulang aja deh.”

Here’s the video Vincent memainkan lagu Cleaner D20:

and here’s the video Arnel memainkan lagu Hello William D21.. Seriously, I’d never seen such a “Man, I’m screwed” expression on his face like one he had that day.. :)

Betul saja, bukan cuma lagu Cleaner, untuk lagu Hello William D21 pun Vincent yang memperoleh skor tertinggi di antara keempat peserta. Begitu pula waktu Final dengan lagu Final Audition EP 2-x. Kesimpulannya? Yak, benar sekali. Dia lah yang muncul sebagai Juara I. Sedangkan juara II dan juara III secara berturut-turut diraih oleh Arneldi dan Ando.

Day 2 – freestyle category

Nah, kalau kategori ini.. yang diutamakan adalah koreografi peserta sesuai lagu yang dipilih. Mmm… kalau yang satu ini, percuma juga diuraikan panjang lebar.. silakan lihat sendiri performance sang juara I, Grey (MPC)

Para juara inilah yang berhak untuk ikut final round melawan juara dari regional lain di Jakarta. Dan pemenang dari final round tersebut nantinya akan mewakili Indonesia di WPF di Cina. Nah nah.. ternyata banyak cara untuk membawa nama negeri ke tingkat dunia kan?

sekejam ciremai, sebasah kencana

Salah satu “beauty of technology” adalah ketika posisimu di ujung belalai Pulau Sulawesi, kamu tetap bisa tahu kabar terbaru dari teman-temanmu di berbagai penjuru negeri, termasuk kabar bahwa masing-masing dari mereka telah menetapkan pilihan petualangannya di super long weekend yang lalu. Dari twitter kamu bisa tahu kalau Depex dan beberapa adek-adek STAPALA-mu sedang dipenuhi adrenalin dan euforia menyambut pendakian gunung tertinggi di pulau Jawa. Dari SMS kamu tahu kalau Moset dan rombongannya berencana ke Krakatau. Dari BBM kamu tahu Jati dan teman-teman di Aceh siap menyambangi Sabang. Dan satu-satunya cara untuk mencegah “beauty of technology” berubah menjadi “evil of technology” adalah dengan merencanakan petualanganmu sendiri sehingga kamu tidak perlu menghabiskan satu minggu berikutnya menahan desakan untuk membanting blackberry-mu karena iri oleh catatan perjalanan mereka. And so, that was exactly what i did. I went on my own adventure. Aku mendaki Gunung Klabat.

Mungkin namanya tak terdengar segagah Semeru atau seeksotis Krakatau. Bahkan, mungkin sebagian besar dari kalian belum pernah mendengar nama gunung ini. Now, ain’t that a coincidence? Maka dengan membaca post ini, pengetahuan kalian akan bertambah.

Terletak di Airmadidi, Kabupaten Minahasa Utara, Gunung Klabat merupakan gunung tertinggi di Sulawesi Utara. Oke, rajam saja aku atas apa yang akan kutulis berikutnya, karena harus kuakui aku tak tahu pasti berapa ketinggian gunung ini. Beberapa catatan perjalanan yang kubaca di internet menyebutkan variasi antara 1.995 mdpl, 2.000 mdpl, dan 2.100 mdpl. Yang jelas, berkisar di 2.000 mdpl. Yang menarik adalah, berbeda dengan gunung-gunung Jawa Barat yang sebelumnya kudaki, start point pendakian gunung ini tergolong rendah, bisa dipastikan di bawah 500 mdpl. Dengan kondisi tersebut, tidak mengherankan kalau dibutuhkan waktu sekitar 8 jam untuk mencapai puncaknya. Faktor ketinggian, dan faktor jalur. Silakan lanjut membaca.

Banyak cara untuk mencapai start point pendakian, yaitu Polsek Airmadidi, dari kota Manado. Mulai dari motor, bawa mobil sendiri, taksi, jalan kaki, dan tentu saja selalu ada angkot, moda transportasi yang kami pilih kemarin. Dari samping Gereja Sentrum, kami naik angkot menuju terminal Paal 2 selama kurang lebih 15 menit, dilanjutkan dengan angkot Paal 2-Airmadidi selama kurang lebih 30 menit. Dari terminal Airmadidi hanya dibutuhkan 5-10 menit jalan kaki untuk mencapai Polsek, dimana kita wajib lapor sebelum memulai pendakian. Hanya lapor dan mengisi buku register pendaki, tanpa dipungut biaya apa pun. Dan setelah melapor, you’re good to go.

Start Point – Pos 1
Seperti yang sudah kusebutkan sebelumnya, dibutuhkan waktu sekitar 8 jam untuk bisa mencapai puncak gunung Klabat. Dan dalam rentang waktu 8 jam tersebut, kita akan melewati 6 pos dengan karakteristik dan jalur yang berbeda-beda. Pos pertama, atau Pos 1, berada kurang lebih sejauh 60 menit perjalanan dari start point. Untuk mencapai Pos 1 ini, kita akan melewati jalan aspal sejauh kurang lebih 10-15 menit, sebelum kemudian memasuki jalan setapak dan perkebunan penduduk yang agak tricky. Kenapa? Karena artinya disini banyak persimpangan. Adapun entrance jalur pendakian adalah blok jalan paving sejauh sekitar 500 meter yang bisa ditemukan setelah 10-15 menit meninggalkan jalan aspal.

Dengan disebut-sebutnya jalan aspal, perkebunan penduduk, dan blok paving, bisa disimpulkan bahwa jalur dari start point menuju Pos 1 tergolong masih ringan. Silakan simpan tenaga untuk kejutan berikutnya.

Pos 1 – Pos 2
Hampir semua catatan perjalanan dan testimoni pendaki yang kutemukan sebelum pendakian menyebutkan bahwa jalur terberat adalah jalur Pos 5 – Pos 6, sedangkan jalur Pos 1 – Pos 2 digambarkan dengan “jalan setapak di antara pohon-pohon besar”. Tidak, aku tidak bilang mereka bohong, karena memang kondisi itu benar sekali. Yang tidak mereka sebutkan adalah adanya bebatuan di sepanjang jalur yang membuatnya terjal. Dan menggoda pendaki untuk mulai scrambling. Selama sekitar 1 – 1, 5 jam.

Apa? Baru Pos 1 ke Pos 2 sudah harus scrambling, katamu? Ya memang! Mungkin itu sebabnya, beberapa pendaki memilih untuk rehat dulu begitu mencapai Pos 2, buka tenda dan nge-camp sebelum memulai pendakian lagi hari berikutnya. Pos 2 berupa daerah yang terbuka, dan cukup luas untuk setidaknya 2 tenda. Selain itu, juga terdapat sumber air yang bisa ditemukan di dekat Pos 2.

Oh ya, rekan-rekan KPA Adventure dan Tunas Hijau sudah cukup berbaik hati memasang tanda “Pos 2” dan panah penunjuk lokasi air di pos ini. Jadi kalau kamu menemukan daerah terbuka tanpa salah satu maupun kedua tanda tersebut, maka itu bukan pos 2, melainkan pos bayangan. Jangan menyerah!

Pos 2 – Pos 3
God is fair. He always is. Maka dari itu, setelah lelah scrambling sebelumnya, jalur Pos 2 ke Pos 3 tergolong cukup ramah dengan waktu tempuh kurang lebih sama dengan Pos 1 ke Pos 2. Pos 3 ini juga cukup luas, muat untuk 2-3 tenda dan juga terdapat sumber air. Hanya saja, airnya berwarna agak kuning, sehingga ketika paginya aku meminumnya dan dilihat oleh beberapa mahasiswa Universitas Klabat, mereka sempat bercanda mengira itu Cap Tikus. Seriously, don’t they know drunk-hiking could kill?

Pos 3 – Pos 4.
Dari Pos 3 menuju Pos 4, jalur mulai menanjak namun belum menuntut scrambling. Menariknya adalah, setelah beberapa lama berjalan, terdapat sebuah persimpangan samar yang mana kalau kita lurus, pos 4 bisa dicapai dalam waktu yang surprisingly cepat, kurang lebih 30-45 menit. Sedangkan kalau ke kanan, kita akan dihadapkan pada jalur yang sangat menantang, didominasi bebatuan terjal dengan dua kali lipat tingkat kesulitan dan waktu tempuh. So, watch your step. Seriously.

Pos 4 – Pos 5
Menariknya dari pendakian kali ini adalah bahwa setiap pos dan potongan jalur memiliki karakteristik yang masing-masing menarik. Nah, yang menarik dari Pos 5 adalah area terbukanya tergolong sempit untuk sebuah pos, mungkin hanya muat 1 tenda kapasitas 3 orang. Justru 2 pos bayangan sebelum Pos 5 yang tergolong cukup luas, cukup untuk setidaknya 2 tenda kapasitas 6 orang.
Di musim hujan, di dekat Pos 5 juga terdapat sumber air.

Kebanyakan pendaki biasanya menargetkan untuk nge-camp di Pos 6, namun setelah lelah scrambling dan perjalanan kurang lebih 1 jam dari Pos 4, pos bayangan dan pos 5 biasanya begitu menggoda iman. Apalagi dengan momok bayangan kejamnya jalur menuju Pos 6 yang menghantui.

Pos 5 – Pos 6
Dan sampailah kita pada bagian paling menyiksa dari pendakian Gunung Klabat. Selama 1,5 sampai 2 jam kemudian kita sepenuhnya scrambling di jalur yang didominasi oleh bebatuan terjal dan pepohonan yang melintang di sana-sini. Sama sekali tidak ada bonus kali ini. Selain itu, kita juga harus lebih berhati-hati karena kita berjalan melewati jalur air, sehingga jalannya agak licin.

Setelah satu jam berjalan, jalur mulai terbuka walau vegetasi masih tergolong rapat oleh pepohonan yang menjulang tinggi. Mendongaklah, dan kamu akan bisa melihat langit terbuka mulai tampak semakin dekat. Teruslah berjalan, dan kamu bisa melihat di atas sana vegetasi semakin jarang dan rendah sementara gemuruh angin terdengar semakin kuat. Seharusnya puncak sudah dekat. Tapi kalau kamu sudah terlalu capek, sama seperti kami kemarin, harapan itu terkadang datang terlalu awal.

Gunung ini menipu! Beberapa kali kami mendongak, melihat pohon yang rendah di bawah langit terbuka dan berseru dipenuhi excitement, “wah! Habis!” untuk kemudian dipatahkan dengan kejamnya, “Sial, masih ada lagi..” selama beberapa kali.

setelah rela ngga rela dibangunin jam 4 pagi, nemenin jalan dari pos 5 ke puncak :)

Pos 6 sendiri berupa daerah terbuka dan datar. Sekilas, daerah ini terlihat sempit, namun kalau kita berjalan sedikit melewati jalan setapak di tengah alang-alang, ternyata masih ada lagi tempat untuk membuka tenda. Setidaknya 7 tenda bisa didirikan di area Pos 6. Selain itu, di dekat Pos 6 terdapat sumber air yang cukup bersih. Dan yang paling menyenangkan dari pos 6 adalah fakta bahwa puncak gunung hanya tinggal 30 menit jauhnya.

Puncak
Tiga puluh menit saja waktu yang dibutuhkan untuk bisa mencapai puncak dari Pos 6. Tiga puluh menit tanpa scrambling walau masih ada beberapa batang pohon melintang di jalan. Hutan yang sedari Pos 2 masih begitu rapat, hijau dan lembab, kini mulai merenggang. Jarak antar pohon pun semakin melebar, seolah membuka jalan.

Sedikit lagi. Sedikit lagi.
Tak ada yang bisa menyampaikan pesan itu dengan lebih jelas dari sentuhan lebatnya alang-alang yang berayun ditiup dinginnya angin puncak di kulitmu. Tidak ada tanjakan setan seperti di Gunung Gede via cibodas, atau bau belerang yang menusuk seperti di Ciremai. Hanya alang-alang dan embun pagi yang mereka sentuhkan, membasahi sekujur badanmu. It was almost like playing hide and seek. Dan kemudian…

Satu tanjakan terakhir. Dan kamu pun sampai di puncak Gunung Klabat.
Dataran terbuka yang luas dan dipenuhi alang-alang. Putar badanmu, dan dengan matamu kamu akan bisa melihat landscape Airmadidi dan Manado. Sebentuk garis lengkung dan warna biru yang mengikutinya menunjukkan air laut yang tenang. Di seberangnya, pulau-pulau kecil terlihat damai. Pun Gunung Manado Tua tampak gagah di tengah lautan. Sesekali angin dingin berhembus, bukan hanya membuatmu meringkuk menggigil, tapi juga membawa selimut kabut yang menyembunyikan indahnya pemandangan tersebut dari matamu.

Dan sekali pun puncaknya tak seagung kawah Gunung Gede yang pernah kudaki, tak semegah samudera angkasa Ciremai yang sampai sekarang masih membuatku merinding tiap mengingatnya, juga mungkin tak semengesankan puncak tertinggi Pulau Jawa yang dijejaki sahabatku tepat di waktu yang sama, hari itu ketika aku berbaring di atas matras, di tengah alang-alang dan menatap birunya langit, hanya satu kalimat yang bisa kuungkapkan: it felt reaaaaalllly great.

Setelah pacet yang menghisap darah dari sela-sela jari kakiku disingkirkan, tentunya.

memory masochism – pendakian Klabat 3-4 Juni 2011

“Jadi gimana, kesannya abis naik Klabat?”

Pertanyaan itu diajukan oleh Arnel sembari kami berjalan dari Pos 1 menuju Polsek Airmadidi. Anehnya, pada saat itu aku sulit menemukan jawaban yang pas. Pendakian Gunung Klabat yang lalu bukanlah pendakian pertamaku. Namun, banyak “pertama” yang kualami di Klabat.

Pendakian yang lalu adalah pendakian gunung luar Jawa Barat pertamaku. Gunung Gede yang kudaki ketika aku belum bergabung dengan STAPALA, Gunung Kencana tempat kami “dididik dan dilatih” selama 5 hari, Gunung Ciremai yang kudaki ketika Masa Bimbingan, (kaki) Gunung Salak tempat kami dilantik, Gunung Papandayan tempat wisata kabut setengah hari bersama adek-adek STAPALA-ku, semuanya terletak di Provinsi Jawa Barat. Dan siapa sangka, belum lagi sempat menyambangi gunung jawa tengah dan timur, tahu-tahu aku sudah mendaki gunung Sulawesi Utara. Gunung tertinggi di Sulawesi Utara, malah.

Baca lagi paragraf di atas, adakah yang menyadari pendakian kali ini juga merupakan kali pertama aku mendaki dengan tim non-STAPALA? Setelah melewati banyak drama dan desperation (ini khusus aku sih), dari yang tadinya ramai rombongan teman-teman kantorku mau ikut naik Klabat, akhirnya hanya tinggal 7 orang saja: aku, Eko (teman sekantorku yang sampai di puncak pun tetap mewarnai pendakian dengan drama bersama istrinya), Arnel (mahasiswa Universitas Klabat yang sekarang jadi teman nongkrong sejak ketemu dan kenalan di Pump), serta 4 orang teman baru kami, lebih tepatnya teman dari teman kantor kami: Budo, Jerry, Marlen, dan Andre.

Setiap perjalanan memiliki kisahnya sendiri. Dan sering kali, faktor yang paling mempengaruhi kisah dari sebuah perjalanan adalah orang-orang di sepanjang perjalanan tersebut. Dan mereka berenam menjadi salah satu alasan terbesar kenapa pendakian tersebut spesial. Mendaki bersama mereka, terasa berbeda sekali dengan mendaki bersama SPA. Nyaris tanpa manajemen perjalanan, nyaris sepenuhnya serta merta. Walau kalau dari segi perlengkapan, yang paling menarik bukan rekan seperjalananku, tapi tim pendaki Fakultas Pertanian, Universitas Sam Ratulangi. Bertemu di Pos 2 dan kemudian sama-sama buka tenda di Pos 6, aku takjub melihat peralatan masak mereka. Alih-alih kompor portable dan nesting layaknya pendaki umumnya, mereka membawa kompor minyak tanah biasa, juga panci dan wajan biasa. How the hell did they manage to carry those stuff through the hike?? Di rombongan lain, malah ada yang bawa gitar. Seriously? Dengan kondisi jalur yang scrambling sepanjang jalan, loncat atas dan menerobos bawah pohon tumbang? Wow.

Aku tahu kalimat berikut ini akan memancing banyak komentar dan cengiran, tapi ini benar. Dari keenam orang yang membuat pendakian kemarin spesial, yang paling berperan adalah Arnel. Bukan hanya karena dari awal dia satu-satunya orang yang secara tegas dan jelas menyatakan dia positif ikut dan kalau ditanya kapan dia bisanya selalu menjawab dengan “anytime, mommy”, well, sebelumnya kita harus mundur setengah tahun, when i first met him.

Teman-temanku sering bertanya, “Kamu kenal Arnel dimana sih?” dan biasanya nonchallantly akan kujawab dengan, “di mall.” Karena memang begitulah adanya. Long story short, pertama kali aku mengenal dia adalah waktu kami sama-sama main Pump It Up di Timezone. Setelah beberapa kali lihat dia main, iseng-iseng kusapa dia waktu kami duduk sebelahan nunggu giliran main. Eh, siapa sangka ternyata nyambung, dan sejak itu kami jadi sering hang out sama-sama.

Sepanjang pendakian, terutama ketika kami berdua duluan mendaki dari pos 5 ke puncak, kadang aku merasa, wow, lucu juga ya, dari yang tadinya complete stranger yang ketemu di pump, jadi temen deket, and as time has it, dengan rela ngga rela dia sudah menemaniku summit attack di pagi-pagi buta. Ain’t it funny what a simple “hi” could do to our lives?

Anehnya, dengan semua “pertama” itu, bahkan waktu Arnel menanyakan apa yang berkesan, aku merasa pendakian kemarin seolah seperti sesi jalan-jalan biasa, seperti kali sebelumnya kami jalan-jalan ke danau Linow, hanya saja lebih panjang, lebih melelahkan, dan lebih ekstrim. Yes, it’d be memorable. Tapi bahkan setelah malam itu kami tutup dengan main pump sama Ewin, adek pump kami, tetap saja rasanya biasa saja. Sampai hari berikutnya.

Pagi hari berikutnya, untungnya hari Minggu, aku membuka mata dalam kondisi dehidrasi. Kerongkongan dan bibirku terasa kering sekali. Masih berusaha mengumpulkan kesadaran, aku menyadari air minumku ada di atas lemari di seberang ruangan. Refleks pertamaku tentu saja berusaha bangkit. Pada detik itu juga aku merasakan rasa sakit yang amat sangat di sepanjang kedua kakiku dan juga bahuku. Aku berusaha memiringkan badan, tapi betisku terasa kaku seolah terbuat dari kayu. Menyadari apa penyebabnya, seketika itu juga aku tertawa lepas. Tawaku makin lepas terutama setelah membaca beberapa twit berikut:

eck_sur Podho wae..eh,malah diajakin futsal.. RT @donnacorle: owaaaa.. my legs are killing me.. >_< *poke @eck_sur* apa kabar yang disitu?

d_gaMbLangs bgitu bangun.. hal yang pertama ku lakukan tdi ialah.. teriak, “Annnjjjrrriiitt…!! sakit bangettt…!!” byngin @donnacorle @eck_sur

dan setiap berusaha bangkit dari tempat tidur, berusaha jongkok di kamar mandi, dan terutama setiap berusaha naik-turun tangga, seketika aku tertawa terbahak-bahak. Karena justru pada saat-saat itulah aku merasa betapa spesialnya pendakian kemarin. Big hugs to brothers in pain, Arnel and Eko. Hahahaha…

P.S. Review gunungnya menyusul.. :)

random logic

When your heart’s not able to share its feeling, it dies. When your heart doesn’t understand its own feelings, it is suicide
So, help me with the logic.
I understand my own feeling. Or so I think.
See, I’ve been struggling with this particular feeling for quite a while. After all the denial, I think I’ve finally come to a point where I have to say, there’s no more use in denying it. So, let’s just say I do understand my feeling. Therefore, my heart…. Well, actually, since my heart is basically me, so I am not committing suicide, am I?
BUT…. (of course there’s a but..) I don’t think I’m down with sharing it, this particular tingling sensation in this little thing in my chest, with the one who’s caused it. So logically saying, I am leaving it dying, no?
Now would you call that suicide?

Invictus

a dear friend of mine sent me a message this morning, saying that he bet I’d love this poem.. I’m not much into poetry, but guess what.. He was I right.. I love it..

Invictus
(William Ernest Henley)

Out of the night that covers me
Black as the pit from pole to pole
I thank whatever gods may be
For my unconquerable soul

In the fell clutch of circumstance
I have not winced nor cried aloud
Under the bludgeonings of change
My head is bloody but unbowed

Beyond this places of wrath and tears
Looms but the Horror of the shade
And yet the menace of the years
Finds and shall find me unafraid

It matters not how strait the gate
How charged with punishments the scroll
I am the master of my fate
I am the captain of my soul

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.