31.01.10

setelah beberapa saat cukup aktif memberdayakan blog yang judulnya susah dibaca ini, ya rupanya memang demikian, sekitar satu minggu terakhir ini wordpress nyaris tak tersentuh. satu alasan utamanya adalah dimulainya rangkaian diklat yang diawali dengan diklat prajab. dari senin sampai sabtu ada kelas dari pagi sampai sore yang menyebabkan selepas makan malam mata ini tak bisa lagi diajak kompromi. padahal ada begitu banyak hal menarik yang ingin kutulis.
yah, apa boleh buat lah.
setelah ini masih ada 3 hari kuliah, dan kamisnya ujian.
hip hip! semangat!
ow, by the way, satu yang agak mengejutkan, walau ditinggal sekian lama malam ini statistik dashboard ku masih membentuk gambar rumput. wow. terima kasih, yang sudah meluangkan waktu mengintip blog ini.

Leave a comment »

fenomena diskon

Satu hal yang kurasa kita semua tahu pasti, semua orang suka diskon. Harapan untuk mendapatkan barang dengan harga yang lebih murah membuat pengunjung tergoda untuk mampir ke display yang mungkin sebenarnya bahkan tak direncanakan untuk dikunjungi. Yes, everybody loves discount.

Yang lucu adalah ketika kecintaan terhadap diskon tersebut mendarah daging sampai-sampai diaplikasikan dalam aspek kehidupan selain kegiatan belanja. Misalnya, kegiatan belajar-mengajar di bangku perkuliahan. Dalam pengalaman saya 3 tahun kuliah, sama sekali tidak sedikit dosen yang begitu murah hati memberi diskon, dari 2,5 jam kuliah didiskon 2,5% atau bahkan 50%. Bahkan kadang didiskon sampai 75%, plus 20% pula. Benar-benar cuci gudang. And yes, everybody loves discount. Tentu saja mahasiswa senang dapat diskon seperti itu. Bisa pulang cepat, dengan absen tetap tenang.

Bicara soal diskon, fenomena diskon rupa-rupanya terkadang diaplikasikan pula dalam kehidupan beragama. Namun sebelum pembahasan ini dilanjutkan, mengingat bahwa pembahasan lintas agama cenderung sensitif dan memicu tanggapan negatif, perlu kita garis bawahi bersama bahwa saya tidak bermaksud menyerang agama atau orang-orang tertentu. Saya hanya akan menyampaikan apa yang saya lihat dan dengar dan mengaitkannya dengan fenomena diskon yang sedang kita bahas. Bila anda setuju, silakan lanjutkan membaca. Namun bila tidak, tentu saja anda boleh menutup tab ini segera J.

Well.. where to start? Bagaimana kalo kita mulai dari kejadian yang memancingku untuk menulis post ini? tadi pagi, saya sedang berada dalam taksi ketika seorang rekan seperjalanan saya menelepon keluarganya. Rekan saya tersebut beragama Islam, maka sudah bisa diduga bila dia mengawali percakapan dengan salam. Mohon dikoreksi bila saya salah, salam tersebut seharusnya berbunyi ‘assalamualaikum’. Namun pada kenyataannya yang terdengar di telinga saya seperti ini: ‘muleikum’. Seketika kejadian ini mengingatkanku pada kejadian-kejadian lain yang serupa ketika orang-orang menjawab dengan ‘kumsalam’ saja alih-alih ‘waalaikumsalam’. (lagi, mohon dimaafkan bila saya salah menuliskannya.)

Dan sekali lagi pula, saya tak sedikit pun berani mengkritik apalagi menyalahkan bentuk-bentuk penyingkatan tersebut. Di benak saya, tentunya itu merupakan suatu bentuk kebiasaan atau penyingkatan agar lebih enak atau lebih mudah. Sama halnya kata ‘sudah’ dalam bahasa jawa krama yang seharusnya ‘sampun’, biasa dipersingkat menjadi ‘pun’ saja. Dan karena saya tidak tahu pasti, pagi ini saya lantas bertanya kepada beberapa orang kawan yang beragama Islam tentang hal ini. dan berikut tiga jawaban di antaranya:

  • itu semacam kebiasaaaan dialek aja
  • kuwi salah ngucapke. kudune lengkap. (itu salah ngucapin, harusnya lengkap)
  • untuk penyingkatan itu gak ada sebenarnya hanya kebiasaan dan adat temen2x aja tapi untuk salam tetap standard assalamualaikum saja atau lebih afdol lengkap… lain2xnya ngawur.. hehe

semoga ketiga jawaban tersebut cukup mewakili rekan-rekan Islam lainnya.

apakah bentuk penyingkatan atau diskon dalam praktik keagamaan hanya ada dalam agama Islam? Tentu tidak. Dalam agama Katolik pun ada. Saya ingat beberapa tahun yang lalu dalam kotbahnya seorang pastor pernah membahasnya. Contoh sederhananya adalah ritual berlutut dengan satu kaki sebelum duduk di bangku dalam gereja sebelum misa dan sebelum meninggalkan bangku seusai misa. Sejauh yang saya tahu, tidak ada aturan baku untuk ritual ini. namun tentu anda pun akan setuju dengan saya, bahwa melakukan sesuatu tidak boleh setengah-setengah. Maka mari bicara kondisi ideal. Dalam kondisi idealnya seharusnya umat menekuk salah satu lutut sampai atau hampir menyentuh lantai. Namun pada praktiknya, seringkali umat hanya menekuk sedikit saja lutut mereka sebelum duduk atau meninggalkan bangku. Yang idealnya antara paha dan betis membentuk sudut 90° diobral menjadi 150° bahkan sampai 160°.

Tidak, saya juga tidak mengkritik atau menyalahkan mereka. Siapa tahu mereka menderita radang sendi, atau rematik, atau mengenakan rok ketat yang menghambat pergerakan. Pun saya akui terkadang saya enggan untuk menempelkan lutut saya ke lantai yang dingin.

Sekarang saya jadi tergoda untuk menelaah semua yang saya telah saya tuliskan tadi.

  • Tradisi berlutut adalah bentuk penghormatan kepada Sakramen Mahakudus.
  • Seorang rekan menjelaskan dengan singkat tentang salam dalam Islam sebagai berikut: “baiklah lengkapnya semoga keselamatan, serta kasih serta berkah darinya untukmu sesama muslim, untuk assalamualaikum itu cuman doa keselamatan”.
  • Euforia para mahasiswa yang bisa pulang cepat bagaikan kabut yang menutupi mereka dari pertanyaan yang selayaknya dipertanyakan: bukankah yang didiskon adalah ilmu yang seharusnya ditransfer oleh dosen kepada mahasiswa?

Jadi, apa yang sudah kita dapat sejauh ini? transfer ilmu yang didiskon, doa yang didiskon, penghormatan yang didiskon. Apakah semua itu terlalu mengada-ada dan terlalu jauh berandai-andai? Bagaimana dengan diskon dalam dunia perdagangan? Saya pernah mengalami hal ini, dan mungkin anda pernah mengalaminya juga: bayangkan suatu hari anda berjalan-jalan di sebuah kawasan pertokoan dan melihat sepasang sepatu seharga 90.000 namun anda belum punya uang. Beberapa bulan berikutnya anda melihat sepatu tersebut diskon 50%+20% dan anda pun berpikir, “waaah, lumayaaan.” Dengan hati gembira anda menghampiri sepatu tersebut dan tertegun mendapati sepatu tersebut kini seharga 225.000 dan anda pun tersadar, perusahaan tidak mungkin menerbitkan harga maupun diskon yang membuat mereka rugi.

Apakah anda diuntungkan atau dirugikan dengan adanya diskon? Well, you choose

Comments (1) »

13.01.10

cara sempurna menghabiskan hari. mati gaya di balai kota. pikiran melayang entah kemana. tumpukan dokumen berserakan di seluruh penjuru ruangan. seharian duduk. disembur kencangnya ac. dingin sampai minum pun lupa. di penghujung hari nyeri pinggang menandakan betapa hari ini dilewati dengan sangat membosankan dan.. tanpa arti..

Leave a comment »

ketika itulah aku masuk tipi

sebelumnya aku minta maaf, bahwa dua post sebelumnya aku menyebut-nyebut tentang aku masuk tv, tapi aku tidak menceritakan dengan jelas kronologis kejadiannya.

pada malam itu, ketika aku masih berstatus mahasiswa tingkat 2 spesialisasi akuntansi pemerintahan, tidak seperti malam-malam biasanya, aku menghabiskan waktu di kosan. biasanya aku akan kelayapan mengunjungi siapapun yang bisa kuisengi. tapi tidak malam itu. aku duduk di ruang tamu kosanku, dengan remote control televisi di tangan kananku. malam itu trans tv sedang memutar film the beach. dan tentu saja iming-iming wajah tampan Leonardo di caprio membuatku anteng di depan tv. sementara itu di ruangan lain, para penghuni kosan sedang asik dengan aktivitasnya masing-masing. ada yang belajar, ada yang ngobrol dengan pacarnya masing-masing.

sebenarnya ada yang aneh malam itu. sungguh penuh kebetulan. yang pertama, aku di kosan! ini sangat kebetulan sekali. pada masa itu, di masa mudaku, sangat jarang aku ada di kosan sebelum jam 11 malam! tapi malam itu kebetulan aku sedang tidak mood jalan-jalan. yang kedua, teman-temanku yang lain di kosan! ini juga sangat jarang terjadi. biasanya kosan kami selalu sepi karena tiap penghuninya punya kegiatan masing-masing. jarang-jarang 3 pasangan itu ada di kosan di waktu yang sama seperti itu. yang ketiga, pintu kosan terbuka! ini sangat sangat kebetulan. karena hampir sepanjang waktu pintu depan kosan kami selalu dan selalu tertutup. terutama sejak kosan kami dijarah maling beberapa saat sebelumnya.

malam itu, dengan ketiga kondisi tersebut di atas, aku duduk dengan satu kaki diangkat seperti yang biasa dilakukan orang-orang di warteg, aku menikmati ketampanan wajah Leo. dan ketika itu juga Lah, dari arah pintu depan kosan bersinar cahaya terang menyilaukan yang sempat membuatku bengong. ditambah lagi, di belakang cahaya menyilaukan itu menyusul beberapa malaikat berjubah berkilau dan bersayap perak melantunkan senandung nada sorgawi.

oke, salah.

di belakang cahaya menyilaukan itu menyusul beberapa orang berpakaian hitam-hitam dengan lambang trans corps di lengan kanan. dan pimpinan rombongan itu seorang wanita dengan make up tebal. wanita itu bernama.. nnnngg.. wanita itu bernama.. tahu kan, dia dulu terkenal.. wanita itu bernama.. yah, sebut saja nona X. cahaya menyilaukan itu mendekat dan aku cuma bisa bergumam, “oh my God” berulang kali. beberapa waktu kemudian, temanku mengatakan temannya berkata (ribet deh) bahwa reaksiku kampungan. weLL, yang dia tidak dengar adalah dalam otakku, gumaman itu berlanjut, “oh my God, acara ini beneran ada toh? gimana caranya mereka tiba-tiba masuk ke rumah kayak maling begini?”

jadi begitulah ceritanya, kami seisi kosan ‘dipaksa’ berjajar di ruang tamu dan bersorak senang karena dapat TV 21″ (lupa mereknya apa, tapi lumayan bagus kok) dan satu dus slai o’lai sementara mereka merekam semuanya.

dan selama 1-2 minggu berikutnya aku harus bertahan dari celetukan temanku yang tiap kali berpapasan denganku selalu berseru, “cieee.. masuk tipi…”

kemudian tv tersebut dijual kepada keluarga teman kosanku.

dan mereka hidup bahagia selamanya. kecuali kalau mati lampu.

tamat.

Leave a comment »

rupanya aku memang tidak masuk tipi lagi ^_^

selamat siang rekan-rekan sebangsa dan senegara yang berbahasa satu, bahasa Indonesia. post kali ini masih berhubungan dengan post sebelumnya, ketika kukira aku masuk tipi lagi..

singkat cerita, kawan, ketika aku baru sampai di kosan setelah kejadian tersebut, jujur aku masih mempertanyakannya. dalam hatiku masih bertanya-tanya dalam hati, aku kena tipu ngga ya? si gendut sih bilangnya yaudah, yang penting aku udah kasih. biasa itu, katanya. aku pun menyadari jaman kuliah dulu ketika masih menumpang di rumah eyangku di rempoa, seringkaLi harus pinjam uang kepada teman untuk sekedar ongkos pulang dari kampus ke rempoa. sedih memang.

pagi berikutnya, aku menceritakan kejadian bapak kemeja kotak-kotak itu kepada seorang kawan bernama inda. dan tahukah anda apa yang dia katakan? dia bilang, “kayaknya lagi musim deh disitu.” rupanya dia pernah mengalami kejadian serupa dengan pelakunya seorang wanita. sama dengan yang kualami, orang tersebut juga berkata dompetnya dicopet dan tidak punya ongkos untuk pulang. yang membuatnya mencurigakan justru usahanya untuk ‘terlihat baik’ ketika dia berkata,”nanti saya kembalikan deh, mbak. alamat rumah mbak dimana?” reaksi teman saya? persis seperti yang bisa kita duga bersama-sama, “ngga punya uang, bu.” Lalu ngeloyor begitu saja.

secara pribadi aku tidak terlalu mempermasalahkan kejadian itu. dan berencana membiarkannya berlalu seiring ingatanku yang makin lama makin menyedihkan. ketika itu aku hanya berpikir, ya sudahlah, yang penting kan sudah kukasih. kalau dia memang pakai untuk pulang ke kebon jeruk ya semoga sampai di rumah dengan selamat tapi kalau tidak, biarlah itu menjadi perkaranya dengan Si Bos. antara aku dan dia adalah urusan perdata, dia dan Tuhan adalah perkara pidana, begitu pikirku. namun rupanya tadi pagi, secara tidak sengaja aku menemukan sebuah post menarik (bisa dicek disini) tentang kejadian seperti ini yang ditulis seorang kawan yang sekarang bertugas di sumatera barat. dan blog kawanku itu membuatku terhenyak sesaat dan kupikir, “wow, tentu aku tak bisa mengungkapkannya dengan lebih baik lagi.”

maka pertanyaan berikutnya adalah, kenapa hal seperti ini bisa menjadi ‘musim’? kenapa dalam waktu yang berdekatan di satu tempat yang sama terjadi dua kejadian serupa dengan ‘pelaku’ yang berbeda? apakah mereka berteman? atau kebetulan saja ada dua orang dengan pemikiran yang sama?

atau rupanya benarlah Indonesia adalah bangsa yang ramah tamah, dan memiliki semangat gotong royong yang tinggi. dan tentu saja religius. bukankah dikatakan dalam Matius 7:7, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu”? sungguh iman yang kuat :)

Comments (1) »

kukira aku masuk tipi Lagi

sore ini, daLam keadaan pusing karena rambut sendiri yang terLaLu wangi akibat creambath dan karena saLdo atm kian menipis, aku berjaLan menyusuri jaLan pengayoman menuju kosan. penampiLanku saat itu adaLah seperti ini: rambut berkibar-kibar ditiup angin, kaos favorit warna ungu yang sudah 2 hari tidak ganti (karena terpaksa menginap tanpa bawa baju ganti), ceLana jeans, sandaL gunung (yang beLum pernah dibawa naik gunung kecuaLi waktu menyiksa anak orang). di punggungku ada sebuah mini daypack karrimor 10L warna biru dan tangan kananku menenteng sebuah tas pLastik berisi sLeeping bag dan raincoat pinjaman.

oke, cukup pendahuLuannya. singkat cerita, aku sedang berjaLan sambiL meLamun ketika dari arah beLakang kudengar suara seorang Laki-Laki memanggiL-manggiL.

“mbak, mbak.”

aku menoLeh dan disanaLah dia. seorang LeLaki, kuperkirakan umurnya 30-35 tahun, dengan kemeja kotak-kotak, ceLana panjang dan sepatu. dia mengatakan sesuatu dengan sangat cepat dan peLafaLan yang sama sekaLi tidak jeLas. satu-satunya haL yang jeLas adaLah bahwa ia terLihat panik. dan satu-satunya reaksi yang keLuar dari muLutku adaLah:

“ha?”

dia menguLang kembaLi kata-katanya dan kurang Lebih berkata demikian, “mbak, boLeh minta toLong ngga? saya abis iLang dompet, ngga bisa puLang ke rumah. rumah saya di kebon jeruk.” (sebagai catatan saja, posisi kami saat itu di jaLan pramuka, jakarta timur). dia juga menambahkan dengan mengeLuarkan 2 Lembar uang dengan nominaL Rp 2000,00. wajahnya benar-benar panik dan bingung.

dan aku pun ikut bingung. sembari otakku mencoba memproses kejadian ini, si bapak itu terus saja bergumam, “buat ongkos puLang aja, mbak. saya habis iLang dompet.” daLam benakku justru terpikir, “wah, jadi ingat masa-masa kuLiah ketika harus meLintas jakarta dengan 2.000 di kantong.”

kutanya ke bapak itu, “bapak puLang kemana? biasanya naik apa, pak?”

dan dia menjawab, “ke kebon jeruk. 4 kaLi busdari sini.”

akhirnya karena kasihan, mengingat pengaLaman pribadi, dan harapan agar semua segera berakhir, aku mengeLuarkan uang di kantong jeansku. kaLau yang dia maksud bus itu metromini atau mayasari, maka 4 kaLi naik artinya hanya butuh 8.000 saja. tapi masa iya kuberi 10.000? akhirnya kuuLurkan 20.000.

“segini cukup ngga, pak?”

dia kembaLi bergumam tentang cuma untuk ongkos puLang atau semacamnya ketika dia menambahkan, “dua ribu lagi ada ngga, mbak?”

jiaaaaaaaaah… ada-ada aja.. kuuLurkan 2 lembar seribuan kepadanya. dan dia menambahkan Lagi, “mbak ikhLas ngga mbak?” jaeLaaah.. batinku, kaLo ngga ikhLas udah kutinggaLin dari tadi, om..

sementara itu, otakku tetap saja terus bekerja dan mempertanyakan, “what the heLL is going on???” ada bagian keciL dari hatiku yang bertanya-tanya, jangan-jangaaaan.. ini adaLah shooting reaLity show yang sempat terkenaL itu. apa namanya? ‘toLong’ ya? jangan-jangan nanti dia akan menyaLamiku sambiL tertawa Lebar kemudian serbuan crew dan kamera dan semacamnya, seperti kejadian dapat tv dari trans tv sekitar 3 tahun yang LaLu. haha..

tapi rupanya, yang ada bapak itu menampiLkan ekspresi Lega kemudian mengucapkan terima kasih LaLu berbaLik dan berLaLu.

wew.. semoga sampai di rumah dengan seLamat ya, pak..

dan sambiL meLanjutkan perjaLanan ke kosan, aku kok terbayang Tuhan Lagi duduk di atas kursi, bertopang dagu, memandangi kejadian ini sambiL senyum-senyum geLi..

haduuh, ada-ada aja sih, si Babeh ini.. udah tau buLan ini anak-Nya Lagi kere, tc beLum turun.. ahahaha.. tengkyu ya, Beh… berkati si bapak kemeja kotak-kotak itu..

Comments (2) »

hey, twitter, facebook, dan wordpress..you guys make such a team..!

sungguh patut disayangkan, bahwa sekarang, dengan adanya Laptop dan modem yang memberikan koneksi internet yang bisa dikatakan nyaris 24/7, statistik di dashboard wordpress ku tak menggambarkan peningkatan aktivitas yang signifikan..

banyak yang bisa disaLahkan untuk ini.. kita bisa memuLai dari aktivitas keuangan pemerintah daerah yang sangat padat di sekitar pergantian tahun.. kita bisa meLanjutakannya dengan game cafe worLd on facebook yang sangat menggoda dan menyita minat dan waktu.. atau satu set ChronicLes of narnia yang memikat dengan cara yang suLit dijeLaskan.. tentu saja kita juga bisa menyaLahkan paket big bang theory season 2, samantha who season 2, dan how i met your mother season4.. namun pada akhirnya, you can aLways stare at me and teLL what the reaL probLem is..

yep, me..

banyak haL menarik yang terjadi di sekeLiLing hidupku akhir-akhir ini dan aku sangat sangat sangat ingin menceritakannya.. weLL, anda sendiri tahu apa artinya ingin.. ingin sangat berbeda dengan mencoba, dan mencoba sangat berbeda dengan meLakukan.. and here i am..

Lebih Lanjut, mari kita bicara tentang twitter.. seperti biasa, aku mengenaL twitter dari teman-teman sma.. pada awaLnya i was Like, “hey, we’ve got facebook aLready”.. LaLu ketika aku menemukan satu segmen yang membicarakan twitter di saLah satu episode desperate housewives, dan bahwa twitter sarana komunikasi dengan geng sma yang rupanya lebih efektif daripada sms dan facebook, i went Like, “oh, heLLo LittLe bird, did you know that bob marLey wrote a song about you and your two LittLe friends?”

banyak orang menyebut twitter sebagai sarana ‘microbLogging’.. to write things that one finds interesting.. and apparentLy, some peopLe find it interesting to post some kind of ruLes about what you can and what you can’t tweet.. tapi tentu saja, itu urusan mereka.. i don’t find it interesting to go on with it..

so, apa hubungan twitter dengan semua ini..? untuk menjawab itu, kita harus meLoncat mundur sejauh kurang Lebih 2 tahun.. pada saat itu, di G112 sebeLum dihancurkan, aku dan seorang teman sedang membicarakan bLog-ku di friendster.. dan dia menyebutnya ’sangat seperti buku harian’.. dia juga berkata seharusnya aku membuat artikeL yang ‘berguna bagi orang Lain’.. (dan dia meLanjutkan dengan menunjukkan bLog nya sendiri yang rupanya berisi daftar beberapa rumah makan di jakarta, di masing-masing kodya.. dengan aLamat Lengkapnya.. sungguh sangat berguna.. next time i get hungry, i’LL check my bLogroLL..)

kata-kata temanku itu, yang sebenarnya sangat tidak perLu diambiL hati (considering the List is not reaLLy heLpfuLL), tapi nyatanya, sedikit banyak kejadian itu membuatku sedikit merasa enggan untuk ‘curhat’ di bLog.. not that a Lot of peopLe wouLd read it, though.. tapi sejak saat itu, sebagai saLah satu pembeLaan atas rasa maLasku, aku baru bersemangat membuka wordpress ketika ada sesuatu yang benar-benar menarik.. ketika aku berkata pada diriku sendiri, “hey, this is reaLLy cooL, i’m a genius..” ha!

kembaLi pada masaLah twitter, secara tidak resmi aku teLah membuatnya satu tim dengan facebook dan wordpress.. tentu saja daLam tim masing-masing punya perannya sendiri.. wordpress, seperti yang sedikit dijeLaskan pada paragraf sebeLumnya, memiLiki peran untuk menampung topik yang cukup menarik (bagiku) untuk dibahas reLativeLy panjang Lebar.. tapi ketika aku menemukan haL menarik tapi tak terLaLu menarik untuk dibahas Lebih Lanjut, it goes to twitter.. dan juga dia sangat membantu menjaga kegiLaan the oLd mafia famiLy.. sementara facebook Lebih seperti tempat sampah.. menampung nyaris semuanya.. semua yang akan diLupakan seiring jarum jam bergeser.. dan kaLau 140 karakter di twitter tak cukup mengungkapkannya..

weLL, pada akhirnya, pada titik ini aku mendapati bahwa otakku sudah dipenuhi jaring-jaring Laba-Laba sampai-sampai kemampuan berhitungku Lebih payah daripada ketika aku masih smp.. (tanyakan saja pada sopir taksiku kemarin..) so here i am, my brain ceLLs need some workout.. and i’LL (try to) keep on writing.. and if you don’t find my bLog interesting OR heLpfuL, you don’t aLways have keep reading.. and if i may, Ladies and gentLemen, pLease don’t waste your time writing such ruLes about what to post in a bLog.. you can just continue with your ‘Lampu hijau’..

thank you very much..

Leave a comment »

from the deviL wears prada to max Lucado

2 januari 2010..pukuL 21.00.. sebuah stasiun teLevisi menayangkan sebuah fiLm bertajuk ‘the deviL wears prada’..dikisahkan daLam fiLm tersebut,sang tokoh utama bercerita kepada rekan kantornya,betapa bos mereka membuatnya kesaL.. dia merasa ketika pekerjaannya seLesai dengan baik,dia sama sekaLi tak dihargai..sementara ketika dia membuat kesaLahan waLau keciL,dia Langsung dihina. . jawaban sang rekan Lah yang membuatku sesaat terhenyak..
‘you are not trying.. you’re whinning..’
tentu kaLimat tersebut diikuti beberapa kaLimat yang memperjeLas maksudnya,namun aku tak Lagi memperhatikan fiLm tersebut karena seketika aku teringat kepada satu cupLikan dari fiLm Lain,tepatnya dari seriaL big bang theory season 1..pada cupLikan tersebut SheLdon berbisik kepada Leonard yang sedang menyandarkan kepaLa ke dinding karena frustrasi pada SHeLdon yang sedang bersih2..bersih2 apartemen tetangganya..tanpa ijin..
‘you have time to Lean,you have time to cLean..’
tidak berhenti disitu,berikutnya aku teringat secuiL Lirik Lagu dream theater berjuduL Surrounded..
‘i know it’s easier to waLk away than Look it in the eye’..
pada titik ini aku berpikir, ‘wow..bukankah ini aLur berpikir yang sangat aneh?’
dan seoLah merangkum semuanya,pagi ini,pastor membacakan surat gembaLa dari romo administratif diosesan,dan mengutip sebuah ayat
‘bersyukurLah daLam segaLa haL’..
kemudian aku ingat max Lucado pernah membahas ayat ini daLam bukunya..ketika dikatakan segaLa haL,maka artinya benar2 segaLa haL..tidak seperti anak keciL piLih2 makanan..
oke,kataku daLam hati..itu tadi benar2 aLur pikir yang tak terduga

Leave a comment »

hark the heraLd angeLs sing…

Srengenge nyunar kanti muLya..

Angine midhit kLawan rena..

Manuke ngoceh ana ing wit-witan..

Kewane nyenggut ana ing pasuketan..

Kabeh padha muji ALLah kang muLya..

Kabeh padha muji ALLah kang muLya..

beLum Lagi bait pertama seLesai diLantunkan, kau akan muLai merinding.. dan ketika pujian diserukan, “GLoria in exeLcis Deo”, setiap tetes darah daLam tubuhmu pun berdesir.. kau ingat bukan, sensasi yang kau rasakan tiap kaLi mendengar nyanyian choir keLas dunia.. tapi tidak, tidak kaLi ini.. bukanLah choir tanpa cacat itu, kawan.. bukan sopran yang meLengking jernih, aLto yang penuh warna, tenor yang menyejukkan hati dan bass yang mendentum Langsung ke sanubari..

dengarkan unisono mereka yang memaksamu menyunggingkan senyum.. benarkah unisono? Kau akan dengar, kawan.. ada satu-dua suara atau Lebih yang membandeL meninggaLkan rangkaian nada yang seharusnya.. tapi itu tak akan jadi masaLah ketika kau meLihat wajah mereka.. dengan sungguh-sungguh mereka bernyanyi mempersembahkan pujian bagi Sang Raja..

semarak pagi ini, kawan, karena organis terbaik kami mewarnai masing-masing Lagu dengan sentuhan pop, jazz, bahkan irama musik spanyoL yang meghentak-hentak.. tentunya tak ketinggaLan gegap gempita Lagu-Lagu andaLan seperti Gita Sorga Bergema dan Hai, Mari Berhimpun..

dan tentu kau tak akan bisa menahan tawa ketika jumLah para ‘maLaikat’ itu berLipat ganda.. Sang GembaLa umat teLah memanggiL mereka memenuhi muka aLtar.. sesungguhnya kawan, bahkan aLtar yang Luas itu tak sanggup menampung banjir suka cita pagi ini.. penuh semangat mereka bertepuk tangan dan bernyanyi “seLamat uLang Tahun”..

kau akan dengar, kawan.. bahwa choir terbaik di seLuruh dunia takkan bisa mengaLahkan mereka.. Lengkingan suara yang berasaL dari daLam hati, tanpa terkekang kunci nada, tempo dan birama.. kau akan dengar, sering kaLi tak bersama mereka bernyanyi, seoLah ingin berLomba-Lomba menyanyikan pujian kepada IdoLanya.. kau akan meLihat kepoLosan dari wajah mereka yang menoLeh ke kanan dan ke kiri seoLah mencari sang Ibu.. juga gerak tangan mereka dengan sepenuh hati bertepuk.. ya kawan, tangan-tangan mungiL, bibir mungiL itu yang menyemarakkan pagi ini..para maLaikat keciL yang mengundang air mata untuk memuLai petuaLangannya menyusuri pipi..

dan kurasa sama denganku, kau akan muLai membayangkan GabrieL bersama para MaLaikat Agung memimpin baLa tentara Surgawi menari riang dan bersorak memuLiakan Sang Maharaja.. dan kau tak kan heran, sama tak herannya denganku, biLa Sang Maharaja sendiri kini tersenyum berLinang air mata bahagia.. ketika Gita Sorga bergema..

“SeLamat ULang tahun, Yesus..”

Leave a comment »

pos – isi barang dan kertas koran

bisa kuingat, minggu LaLu adaLah kaLi ketiga aku mengirim barang Lewat pos.. waLaupun di dekat kosan ada tiki yang menurut testimoni banyak orang Lebih terjamin dan Lebih cepat, biaya yang Lebih murah membuat kantor pos yang Letaknya agak jauh menjadi piLihan.

biLa membandingkan dengan kaLi pertama memanfaatkan jasa pengiriman barang via pos (yang sejujurnya sudah tak ingat Lagi kapan kejadiannya), tampaknya prosedur pengiriman barang sekarang Lebih ketat. weLL, sebenarnya prosedurnya sama saja.. hanya petugasnya yang Lebih tegas.. duLu waktu mengirim barang ditanya, “isinya apa, mbak?” dengan terus terang kujawab tak tahu isinya karena cuma titipan pun, sang petugas dengan baik hati bersedia berimprovisasi dan tetap memproses permintaanku. namun minggu LaLu, ketika kembaLi aku berniat mengirim 3 buah bungkusan ke medan, dimana 2 di antaranya adaLah titipan, ceritanya berbeda dengan yang sebeLumnya. kembaLi mas petugas bertanya, “isinya apa?” tidak tahu, jawabku. detik berikutnya, benar-benar sangat cepat, tangkas dan tegas mas petugas menyahut, “harus tahu.”

aku mencoba menjeLaskan bahwa itu adaLah kado titipan dan aku sama sekaLi tak tahu apa isinya. tapi dia tetap berkeras tak mau memproses karena demikian Lah prosedur yang harus dipenuhi. aku pun dengan kesaLnya menyibukkan diri dengan handphone, mencoba menghubungi orang yang menitipkan barang tersebut. sayang, no hp nya terhapus. bagus sekaLi. akhirnya berkat saran bapak Dije yang mengantarku ke kantor pos, kuputuskan untuk berimprovisasi.

“isinya sepatu.”

petugas itu, nyaris tanpa ekspresi kembaLi bertanya, “harganya berapa?”

kujawab dengan ekspresi baLas menantang, “dua ratus Lima puLuh ribu.”

dan demikian Lah dia akhirnya memproses pengiriman barang tersebut. sementara aku terus memikirkan apa yang membuat mereka sekarang begitu tegas dengan prosedur pengiriman barang tersebut? yang sebenarnya dengan mudah dimengerti.

biLa kita sempatkan untuk membaca baik-baik bukti pengiriman barang, maka akan kita temukan:

1. kotak bertuLiskan ‘pernyataan pengirim’ dengan rincian di antaranya meLiputi isi kiriman, dan harganya.

2. keterangan yang menyatakan bahwa PT Pos Indonesia tidak bertanggung jawab apabiLa isi kiriman tidak sesuai dengan pernyataan pengirim.

bayangkan saja biLa pak pos yang baik hati sedang daLam perjaLanan mengirim barang terkena razia poLisi dan didapati bahwa saLah satu barang berisikan barang iLegaL. masa si bapak yang baik hati yang harus bertanggung jawab..? waLaupun secara pribadi menurutku orang kaLau sudah niat berbuat buruk akan berusaha mencari ceLah dari ketentuan yang ada. dengan berimprovisasi sepertiku, misaLnya. namun dengan adanya kedua pernyataan di atas, PT Pos Indonesia bisa terLepas dari tanggung jawab atas peLanggaran tersebut.

ya, perihaL pernyataan pengirim memang mudah dimengerti. namun ada satu Lagi kebijakan PT Pos Indonesia yang sampai sekarang masih suLit kumengerti.

sekitar buLan LaLu, aku mengirim 2 paket. keduanya kubungkus dengan koran dan kuLapisi dengan pLastik. bungkusan pertama dengan pLastik tebaL warna merah, sedang yang kedua dengan pLastik transparan. yang tak bisa kumengerti adaLah ketika petugas mengembaLikan bungkusan kedua dan memberitahuku bahwa bungkusan dengan koran tidak bisa mereka terima dan aku harus menggantinya dengan kertas poLos warna cokLat. sedangkan bungkusan pertama tetap mereka proses. aLasannya: karena yang pertama dibungkus dengan pLastik warna geLap yang menyamarkan penampakan korannya.

ada apa dengan koran? kenapa tidak boLeh mengirim dengan dibungkus koran? masa iya karena nanti korannya dibaca pak pos nya? memangnya gaji tukang pos demikian keciL sampai tak bisa beLi koran sendiri? sempat berpikir agak rumit, jangan-jangan untuk menghindari penyampaian informasi iLegaL meLaLui kode-kode daLam bentuk kertas koran? ah, berLebihan sekaLi. LagipuLa biLa demikian kenapa asaL korannya tak nampak tak apa? mungkinkah demi aLasan estetika? Lho, kan tugas mereka cuma menyampaikan kiriman, kenapa harus mempeduLikan keindahan barangnya? sungguh sampai sekarang tak jua kutemukan aLasannya.

terLepas dari semua itu, ada beberapa haL menarik Lain sehubungan dengan 2 insiden pos tersebut:

1. waLaupun kepercayaan masyarakat pengiriman barang dengan tiki Lebih cepat daripada pos, pada kenyataannya pengiriman barang dari jakarta ke medan dengan pos pun bisa sampai daLam waktu 1 hari saja. dengan harga yang Lebih murah.

2. pernah suatu ketika teman berusaha mengirim barang ke daerah kutacane (kaLau ngga saLah ingat) dengan menggunakan tiki. yang terjadi adaLah barang tersebut dikembaLikan karena mereka tidak menemukan aLamat yang dimaksud. baruLah seteLah dikirim dengan pos, barang tersebut berhasiL sampai ke tujuan.

3. petugas jasa pengiriman barang, baik pos maupun tiki seringkaLi suka berbohong. mereka biLang kiriman akan sampai daLam waktu 2-3 hari. pada kenyataannya, 1 hari saja sampai. hahaha..

4. barang titipan temanku itu isinya ternyata benar sepatu.

5. jawaban atas pertanyaan ada apa dengan koran itu sebenarnya mudah saja untuk ditemukan : cukup tanya ke petugas pos. maybe Later.

Comments (2) »