A Facebook-Reminded Birthday
“Sedikit yang ingat tidak masalah, daripada ingat gara-gara terpampang di home FB dan hal tersebut malah menjadikan tidak bermakna.”
(Christ Immanuel (@superr_christ) 1/21/12 1:23 AM)
Aku membacanya beberapa kali. Memikirkannya beberapa saat. Dan bahkan sampai sekarang, di akhir kalimat, masih saja satu kata yang segera terlintas di kepalaku: “Masa?”
Beberapa hari sebelum hari ulang tahunku, aku juga sempat memikirkan hal yang sama. Tanggal ulang tahunku tercantum di kolom info di profile facebook dan itu artinya ketika tiba harinya, akan ada notifikasi di homepage teman-temanku untuk mengingatkan mereka akan event setahun sekali ini.
Sejujurnya, yang pertama kali terpikir olehku adalah repotnya membalas satu per satu ucapan yang masuk ke wall-ku. Belum lagi kalau yang menulis ucapan adalah orang-prang yang sebenarnya tak benar-benar kukenal, yang ku-confirm semata-mata demi asas kesopanan berdasarkan mutual friends. Selama beberapa hari aku sempat galau, antara hendak dan tak hendak menghilangkan informasi tersebut dari profile-ku. Dan pada akhirnya, tak seperti Christ, profile facebook-ku tetap mencantumkan hari lahirku. Semata-mata karena aku malas mengubahnya. Iya, sesederhana itu aku mengakhiri kegalauanku.
Di malam sebelum hari ulang tahunku, aku pulang ke rumah menjelang tengah malam setelah lembur. Kelelahan. It was the night of my birthday dan kuputuskan, sebelum rasa galau itu makin menjadi-jadi, i’d just sleep through it.
Tapi tunggu dulu. Galau kenapa? Karena tambah tua? Oh, well.. it’s an inevitability. Karena currently single? Muahahaha.. for God’s sake.. i am relatively content with my being at the present. Strangely, what really bothered me was that… i couldn’t be happy about my birthday as much as i was about new year. Padahal kalau dipikir-pikir, dua-duanya basically sama: annual event. Perayaan untuk memperingati tanggal yang sama setiap tahunnya. Apalagi ulang tahunku bulan Januari. My birthday comes as soon as new year does. Kalau di malam pergantian tahun Masehi, aku bisa dengan bahagia mengingat setahun ke belakang, dan merasa sangat sangat puas karena telah belajar begitu banyak hal, bertemu banyak teman dan saudara baru, kenapa tidak demikian di malam pergantian usia? It was really bothersome for unknown reasons. That was why i decided to sleep thorugh it.
But some didn’t approve my plan.
Tengah malam, belum lagi genap satu jam aku terlelap, aku merasakan sesuatu menyentuh kakiku. Setengah sadar, aku berguling dan membuka mata. Masih setengah sadar, secara refleks aku menjerit. Kencang.
Aku selalu menjerit setiap kali terbangun dalam keadaan ruangan gelap gulita. Tapi kalau biasanya jeritanku disambut hening sepekat gelapnya, kali ini gelak tawa tiga orang yang menyambutnya, beserta tarian lidah api di atas dua buah lilin yang melayang di atas pangkuan tangan salah satu sumber gelak tawa tersebut. Salah seorang dari mereka menekan saklar lampu dan disanalah, masih tertawa terbahak-bahak, Arnel, Inda dan Kasuk berdiri di depanku. Oh, it’s a midnight birthday surprise, i see.
Entah karena midnight surprise-nya, atau karena kadonya (bantal garfield dan satu set DVD Godfather yang mematahkan hatiku setahun yang lalu karena harganya yang mahal setengah mati), my birthday was less bothersome.
Seperti yang bisa diduga, sepanjang hari di tengah asistensi handphone-ku bergetar dan menunjukkan push notification ucapan selamat ulang tahun dari teman-teman baik di facebook, twitter, maupun di BBM. Menariknya, ternyata tak lebih dari 5 ucapan dari orang-orang yang tergolong stranger. Masing-masing menuliskan ucapan yang unik, sesuai most frequent interaction kami. Seperti Engel yang bilang “jangan insomnia lagi” karena sering kutelpon tengah malam; Boyo yang tiba-tiba mengingatkan tentang animarium, nama kelompok kami waktu diklat stapala 4 tahun yang lalu, Jatmiko yang sampai sekarang masih memanggilku “ari-ari”, dan pastinya Butho yang hanya dalam occasion tertentu memanggilku “sis”. And i know when he calls me that, he means it.
Aku tahu, sebagian besar dari mereka tahu ulang tahunku dari facebook. But i happened to smile at every post. Ternyata hal itu tidak membuat setiap ucapan kurang bermakna seperti yang tadinya kukira. Think about it. Dari sekian ratus teman di facebook yang mendapat notifikasi yang sama, mereka meluangkan waktu untuk sekedar mengucapkan “selamat ulang tahun”. Ketika membaca notifikasi tersebut, untuk sesaat mereka berhenti dari aktivitas mereka dan mengingatku. Beberapa jelas berkelana dalam kenangan di masa lalu yang mereka lewatkan bersamaku dan kemudian menuliskannya di wall/timeline-ku. And i find it precious.
Teman sekarang belum tentu teman nanti. Ini kenyataan. Dan bukan hanya karena faktor umur, semakin hari semakin sedikit yang bisa kita ingat. Seringkali karena faktor jarak, padatnya aktivitas, begitu banyaknya orang yang datang dan pergi dalam kehidupan kita, mereka yang dulunya teman-teman dekat pun mulai terlupakan. Jangankan hal kecil seperti hari ulang tahun, kadang orangnya yang mana pun bisa sempat terlupakan. Dan percayalah, ketika semua faktor itu menyerang bersama-sama, we do need reminder. Seperti sebuah lampu merah di persimpangan jalan yang sekilas menyebalkan, tapi ternyata sangat berjasa. Kurang dari satu menit saja, kita berhenti dari lajunya arus, dan mengingat mereka, yang dulu pernah tertawa terbahak-bahak bersama.
So, yeah… i’m getting older. And i’m trying to be happy about it. And every wishes on my phone screen i smiled at got to be a huge help to make a start. So here’s my gratitude to every one of you who wrote it. Cheers..!
P.S. As for Christ, whose tweet mentioned at the top, i’m not trying to negate it. I put it there simply because it’s what made me start thinking about all this at the first place. So, well… again.. Cheers..! happy birthday to us..




























