Posted by: hypocrisyoftheday | November 15, 2009

“Lu kadaL banget sih..”

saya sering dikatai aneh. saya sering dibilang gila. saya pernah juga diteriaki anjing. namun hari ini saya menerima komentar yang cukup membuat benak saya terusik: “Lu KadaL banget sih?!”
emm,,singkat cerita, komentar tersebut diserukan dalam perbincangan singkat kami tadi siang, antara saya dan 3 orang kawan: mas Ato, Gobog dan Hilman. dalam kesempatan kali ini Hilman (lagi-lagi) berada dalam posisi tersudut dan agaknya dia berupaya untuk sedikit membelokkan arah pembicaraan dengan menyinggung perihal kebisuan saya dalam menyaksikan Gobog ‘membantainya’. dia berkata bahwa saya diam sedang menyusun strategi untuk membantu Gobog semakin menyudutkannya. “ini nih, bentar lagi pasti keluar ceng-cengannya,, nyerocos,,” dengan terus menyunggingkan senyum, HiLman Lantas berkata,”Lu KadaL banget sih, jagonyangeceng-cengin doang”
perlu dipahami bahwa HiLman tidak sedang mengasosiasikan saya dengan suatu reptilia. neither did he refer me as a player. KadaL yang dimaksud HiLman disini adalah reptiL berkaki empat berkLoaka dan hidup di antara semak-semak nama panggilan seorang kawan kami yang terkenal tidak banyak bicara namun (berdasar testimoni sebagian (besar) orang) sangat jago dalam hal diam, menganalisa situasi, menyusun strategi dan kemudian meluncurkan serangan tajam menunjam dalam hal ceng-cengan tersebut.
bukan siapa KadaL dan seperti apa orangnya yang jadi masaLah disini. hanya saja, komentar HiLman lantas mengingatkan saya pada komentar salah seorang kawan saya yang dilontarkan sekitar satu setengah tahun lalu: “Cah ki yen wis kenal ngenyek kok!” (“anak ini kaLo udah kenal pasti ngejekin!”)
hmmm,,, dan saya jadi berpikir, mungkin selama ini saya ‘terlalu sering menghina dan mengejek orang’. hohoho,, saya pribadi sebenarnya penganut paham ‘banyak ejekan banyak cinta’. haha, dalam artian, biasanya kita berani mengejek dan menghina seseorang terus menerus karena kita memiliki keyakinan bahwa orang tersebut mengerti kita hanya bercanda, dan bahwa orang tersebut tidak akan marah. dengan kata lain, kita harus benar-benar mengenal seseorang dengan baik sebelum bisa ngeceng-cengin orang tersebut. imagine kita ngejekin orang yang tidak kita kenal. hooo~~h, bisa digampar. dan biasanya, orang yang diejek pun cukup mengerti kita sehingga bisa menerimanya dalam konteks candaan. saya pun, orang yang paling sering saya ejek biasanya orang yang memang saya sayangi. orang-orang yang dekat dengan saya, sahabat saya.
pun demikian, kejadian hari ini membuat saya berpikir, saya harus lebih banyak belajar. belajar memilah-milah orang mana yang bisa menerima ceng-cengan saya sebagai salah satu wujud ungkapan afeksi, belajar memilah-milah ceng-cengan seperti apa yang bisa menyampaikan afeksi tersebut dengan tepat sasaran serta belajar untuk mengungkapkan afeksi tidak dengan ceng-cengan. and the ultimate one: belajar menemukan ceng-cengan yang bisa tajam menunjam buat ngecengin dan menyudutkan seseorang. seperti Gobog menyudutkan HiLman, misaLnya. hahaha.. nampaknya otak saya makin mengalami gangguan. tidak jelas.

 

(originaL post on friendster, june 7, 2007)

Posted by: hypocrisyoftheday | November 15, 2009

pagi itu di sukamantri

Dedaunan yang basah memancarkan semburat
warna keperakan disirami cahaya mentari pagi sementara warna keLabu tampak
menggantung maLas di bentang Langit di atas kepaLa kami. WaLaupun pagi itu tak
terLaLu dingin dan hujan pun beLum Lagi turun, beberapa dari kami menggigiL
merutuki kaos warna orange – yang tak Lagi oranye – yang tak hanya basah kuyup,
tapi juga penuh Lumpur – bau, berat, dan menyesap habis panas tubuh kami.

SeheLai sLayer
yang menutupi mata kami tak Lagi sanggup menyembunyikan semua rasa yang
tercampur aduk, siap untuk dimuntahkan kapan saja. LeLah, dingin, kantuk. KekesaLan,
amarah, kebencian, semua tertuju kepada mahkLuk-makhLuk yang menyebut diri
mereka panitia. Mereka yang tampaknya
tak terhaLang rasa LeLah, dingin, apaLagi kantuk untuk berteriak, memaki,
menendang, mendorong, menyeret, menampar dan memerintah kami push up, sit up, back up, bending,
serta merangkak, merayap, guLing-guLing, semuanya di tengah Lumpur yang
menggenang.

Sampai saat terakhir pun kami masih diseret
dan didorong kesana kemari. Hingga ketika insruksi membukasLayer yang menutupi mata kami dikeLuarkan, pemandangan di depan
mata kami membuat rasa kaget, Lega dan puas membuncah, mengaLir di setiap kapiLer
daLam tubuh kami. Semua teLah berada pada posisinya daLam barisan masing-masing
– Siswa serta panitia dan senior. Dua bendera membentang agung menandakan satu apeL siap diseLenggarakan.

Berat carrier
masih menggantung di pundak kami. Dingin masih merayapi kuLit kami. Tapi semua
itu tak Lagi mengusik kami. Pikiran kami hanya terfokus pada protokoL yang
membacakan nama kami. Dan nomor yang akan mengiringinya. Satu per satu kami
dipanggiL. Satu demi satu kami menanggaLkan atribut siswa yang meLekat pada
tubuh kami. Satu per satu kami mengenakan seragam biru, khidmat mencium sang
saka Merah Putih dan bendera STAPALA yang mendampinginya. Hingga akhirnya warna
merah gagah meLingkar di Leher kami semua.

Di Sukamantri, 24 Februari 2008, kami
diLantik.

STAPALA – Never Ending Adventure

 

(copied from my oLd bLog on friendster)

beberapa hari yang LaLu Lagi asikasiknya main game sembari menunggu pukuL 17.00 tiba, hapeku bergetar dan Lagu “i Love new york” nya Casiopea yang kupiLih sebagai penanda panggiLan masuk pun berbisik di tengah riuhnya canda anak2 Lantai4.. sempat tertegun sebeLum mengangkatnya.. ada apa gerangan bang jabrix tiba2 meneLeponku..? sungguh tak biasanya..

dan kemudian beLiau pun bertanya, “hypocrisyoftheday itu punya Lo kan..?”

refLeks mataku terbeLaLak ketika senior STAPALA ku ini menyebut2 bLog yang entah sudah berapa buLan tak kujamah.. Lebih Lanjut, masih dengan segaLa keterkejutanku, suLit dipercaya ketika bang jabrix berkata akan mengutip beberapa bagian dari bLogku..di satu sisi, wah.. tentu saja aku sangat2 tersanjung.. bukankah itu artinya tuLisan2 isengku itu ada yang membaca, diakui dan dihargai..? tapi disisi Lain, karakter pencemasku segera menyeruak dan menguasai otakku.. astaga.. astaga.. memangnya apa saja yang kutuLis di bLog ku..? bagian mana yang mau dikutip..? tanpa buang2 waktu, aku kututup games pLants vs zombie yang muLai kehiLangan popuLaritasnya di Lantai 4, dan menutupi Layar 10″ deLL mini ku dengan haLaman dari http://hypocrisyoftheday.wordpress.com.. aku Langsung membedah isinya, membaca satu per satu cerita yang pernah kutuLis.. wah wah.. rupanya ada banyak.. ada cerita tentang perjaLanan ke puLau condong di Lampung, ada curhatan tentang kakekku, ada berbagai kontempLasi yang berhasiL kucurahkan daLam bentuk tuLisan.. dan ini dia.. ada tuLisan tentang gunung ciremai dan posko STAPALA yang katanya mau dikutip itu..

aku membacanya perLahan.. muLai dari preLude, going up, sampai bagian puncak.. ah, begitu Luar biasanya cerita pendakian itu buatku, sampai kubuat jadi 3 bagian yang semuanya panjang dan mendetaiL.. aku membacanya sambiL tersenyum.. tertawa… mengingat begitu beratnya kaki meLangkah menyusuri tanjakan demi tanjakan dengan badan yang sudah benar2 drop.. dan kemudian… senyum itu muLai memudar.. aku merasakan wajahku kian jadi datar.. jantungku berdegup kencang ketika cerita pendakian itu muLai mendekati pencapaian puncak Ciremai.. apa yang kutuLiskan disitu, bisa kuingat dengan jeLas.. jaLan setapak yang tandus.. pepohonan yang jarang.. edeLweiss yang tak berbunga.. sLamet di beLakang kami, agung di seberang bentangan Langit.. dan bau beLerang yang menyapa penciuman kami.. semuanya masih segar di ingatan.. rasa haru yang menyertai ketika membaca kata “PUNCAAAAK…!!!” seoLah mengembaLikanku kembaLi ketika berdiri di atas tanah tertinggi di jawa barat dan memandangi guLungan mega yang mengombak di samudera angkasa..

dan di tengah keriuhan bocah2 autis Lantai4, di sebeLah ganggar yang sedang sibuk dengan simda nya, aku berusaha keras menahan agar air mataku tidak mengaLir turun..

catatan itu begitu mendetaiL sehingga seoLah menghidupkan kembaLi kenangan akan pendakian yang sudah hampir 2 tahun berLaLu itu.. begitu puLa dengan catatan2 Lain.. satu tentang kenangan akan aLmarhum kakekku.. disitu aku menuLiskan “sampai sekarang aku masih menangis setiap kaLi mengingatnya..” tentu saja ’sampai sekarang’ yang kumaksud daLam catatan itu adaLah ketika aku menuLisnya.. namun nyatanya,. sampai detik ini, membaca catatan itu membawa kembaLi semua emosi saat itu.. dan sampai detik ini, membacanya kembaLi pun membuatku meneteskan air mata..

semua itu membuatku menyadari betapa besar kekuatan sebuah dokumentasi.. bahkan untuk haL2 yang sederhana seperti acara jaLan2, pemikiran2, maupun perasaan pribadi sekaLipun.. pun biLa dikatakan otak manusia itu kapasitasnya adaLah sekian kaLi Lapangan sepakboLa pun, pada akhirnya setiap hari haL2 baru terjadi sehingga benyak sekaLi kenangan yang terpaksa ‘terkubur’.. dan seringkaLi butuh usaha keras untuk memanggiL kembaLi kenangan2 tersebut.. ituLah sebabnya, aku sangat menyayangkan archives bLogku yang mentok di buLan agustus.. padahaL sekarang ini sudah buLan november.. padahaL daLam 3 buLan ini sudah begitu banyak haL terjadi..

muLai dari geLiat Laskar 150 muLai mencari dana charity Lewat ceLengan dan juaLan cokLat.. doni yang disibukkan mobiL mewahnya :p, Laptop baruku yang bandeL dan manja.. dan masih begitu banyak cerita yang sebenarnya penuh warna namun kini hanya tersisa headLinenya saja… aku sendiri sangat menyadari, akhir2 ini begitu tidak produktif.. membaca jarang, menuLis pun apaLagi..pada akhirnya, yang terasa adaLah betapa datarnya kehidupan beberapa buLan terakhir ini..

Lebih jauh Lagi, dampaknya terasa ketika aku muLai mencoba kembaLi menuLis, seperti yang sedang kuLakukan saat ini.. rasanya begitu kagok, dan suLit buat dapet feeL nya.. inspirasi yang duLu seoLah mengaLir begitu saja seiring kata2 indah yang merangkai sebuah cerita yang menjaga kenangan indah tetap hidup tanpa terLupakan, oh, dimana engkau kini…? sang inspirasi terkubur daLam2 di baLik tumpukan angka2 dokumen peLaksanaan anggaran dan perubahannya, yang harus digaLi daLam2 untuk bisa ditemukan..

LihatLah kini tuLisanku begitu amburaduL, acakadut Loncat sana Loncat sini seLayak badut di atas trampoLin.. ah, apa puLa ini perumpamaannya.. bukti betapa berantakannya isi otakku sekarang ini.. seperti komputer butuh di defrag.. ah, kan, satu Lagi perumpamaan ngasaL yang asaL2an…

dengan ada nya Rhea, my bLood-red deLL inspiron mini 10, dan koneksi internet unLimited yang memotong uang makanku sebesar 150.000 per buLannya, sungguh aku berharap bisa mengembaLikan niatan menuLisku seperti duLu kaLa.. seperti masa smp ketika aku bisa menyeLesaikan menuLis semacam noveL sepanjang isi satu buku tuLis sinar dunia isi 58 haLaman daLam 1 minggu.. tuLis tangan..

sungguh sangat disayangkan.. betapa banyak kejadian menarik dan pemikiran2 hebat yang muncuL tiap hari.. yang biLa tak direkam dan dikembangkan akan Lenyap bersama heLai rambut yang rontok ketika disisir..

ngomong apa sih aku panjang2 begini…

Posted by: hypocrisyoftheday | August 15, 2009

diRampok di Condong

perjaLanan panjang

ini adaLah perjaLanan keduaku ke puLau sumatera. Sama seperti perjaLanan sebeLumnya, yang jadi tujuan adaLah pantai di provinsi Lampung.  Hanya saja, kaLau sebeLumnya kami mengunjungi pantai mutun yang notabene adaLah saLah satu pantai wisata yang terkenaL di Lampung, kaLi ini yang menjadi tujuan kami adaLah puLau condong. Sebuah pulau kecil yang masih alami dan eksotis.

Dari Jakarta aku berangkat berdua saja dengan Gatot (797/SPA/2006) karena seLain tempat tujuannya jauh sehingga biayanya cukup besar dan membuat orang-orang yang kami tawari untuk ikut kebanyakan menoLak, memang perjaLanan ini juga cukup mendadak. Tadinya kami berencana berangkat tanggaL 14 agustus, tapi sayang sekaLi temannya yang jadi guide tidak resmi kami disana harus ke jogja pada tanggaL itu. jadiLah jumat siang sekitar pukul 12.00 kami berangkat dari kosanku di daerah utan kayu, Jakarta Timur. Sebenarnya ada 2 piLihan terminal yang bisa kami tuju, yaitu terminal pulogadung dan kampung rambutan. Tapi kami Lebih memiLih untuk ke terminal kampung rambutan karena di puLogadung agak suLit untuk mencari bus AC. Dan begituLah kami naik metromini no 46 dengan ongkos 2000 rupiah ke kampung meLayu, dan Lanjut dengan busway menuju kampung rambutan, tentu saja seteLah membayar 3.500 di Loket. Ternyata oh ternyata kawan, dengan rute seperti itu, jarak dan waktu tempuhnya jauh Lebih Lama dibandingkan biLa naik busway saja dari haLte pramuka Lia atau pramuka bpkp, transit di matraman Langsung menuju kampung rambutan. Yah, apa boLeh buat, ituLah ganjarannya ketika males jaLan ke halte busway yang memang agak jauh dari kosan. Singkat kata, sekitar pukuL 13.00 kami sampai di terminal kampung rambutan dan Langsung menaiki sebuah bus AC tujuan merak. seteLah bus berjaLan sekitar 20 menit, seseorang berjaLan menghampiri para penumpang satu demi satu demi meminta ongkos bus. Kami membayar sebesar 17.000 per orang, LaLu memutuskan untuk tidur.

Aneh sekaLi, rasanya sudah cukup Lama kami tertidur tapi kok beLum sampai juga ya. Kami tengok jam, aLamak, sudah jam 4 sore dan kami baru memasuki daerah serang padahal normaLnya kami bisa sampai daLam kurang Lebih 2 jam saja. Rupanya bus yang kami naiki berjaLan Lambat seperti merayap saja. beLum Lagi adanya perbaikan jaLan yang membuat jadi macet. Aduh, bisa-bisa kami baru sampai Lampung tengah maLam nih. biLa sudah begini, ada baiknya untuk kembaLi tidur saja.

Sekitar satu setengah jam kemudian kami sampai di peLabuhan merak. Tadinya kami mau naik kapaL cepat untuk menghemat waktu. Sayangnya, jam segitu kapaL cepat sudah tidak beroperasi. padahaL kalau dengan kapaL cepat yang ongkosnya 3 kaLi Lipat dari kapaL biasa, kami bisa menghemat waktu kurang Lebih sepertiganya. Tapi tak apaLah, kami akhirnya naik kapaL biasa dengan ongkos 10.000 saja. kapaL ini muLai bergerak dari peLabuhan merak sekitar pukul 18.00. ngomong-ngomong, ongkos 10.000 itu adaLah harga untuk keLas ekonomi. Sementara di kapaL ini disediakan pula kelas bisnis dengan tambahan biaya 6.000. seLain itu ada pula keLas VIP dengan tambahan biaya 30.000. nah, kami memiLih untuk masuk di ruang bisnis demi kenyamanan. Waw, rupanya kami sedang hoki. waLau masuk ruang ini, entah kenapa tidak ada petugas yang meminta tambahan biaya. Lumayan.

kapaL merapat di peLabuhan bakauheni sekitar pukuL 21.00. seteLah menunaikan panggiLan aLam, kami muLai mempertimbangkan untuk naik bus atau travel dan akhirnya kami memiLih naik travel. Memang sih, ongkosnya Lebih mahaL dari bus, tapi Lebih cepat (apaLagi kebetuLan kami dapat travel yang bagus dan nyaman). Dengan membayar Rp 25.000/orang, kami sampai di pantai Pasir Putih daLam waktu sekitar 90 menit.

sesampainya di pasir putih, kami tidak Langsung masuk, tapi nongkrong duLu sambiL menunggu rombongan teman-temannya gatot. Dibilang rombongan pun, mereka ternyata hanya bertiga: edo, radin, dan bertus a.k.a ntuz. Mereka tiba sekitar pukuL 11.35 dan Langsung saja kami masuk ke daerah wisata pantai paLing terkenaL di Lampung ini. Tiket masuknya Rp 4.000/ orang saja Lho, tambah parkir 2 motor masing2 6.000, jadi total yang harus kami bayar Rp 26.000 tapi ditawar edo jadi 25.000 saja (?). aiiiih….

Kami memanfaatkan sebuah gubug terbuka di tepi pantai untuk beristirahat maLam itu. Yah, tepatnya sih untuk begadang. sambiL ditemani kopi dan bunyi gemerincing hiasan gantung dari kerang, kami memecah keheningan maLam dengan petikan gitar dan nyanyian yang Lebih sering faLs daripada merdu. Sementara tubuh kami diterpa angin kencang yang dingin, di seberang Lautan terLihat jeLas tempat tujuan kami, puLau condong.

Kami baru berhasiL tidur sekitar jam 4 pagi, dan terbangung jam 7 pagi karena Lapar. seteLah ditegur untuk mengosongkan gubug sebeLum jam 8, kami mencoba memasak sarapan tapi karena males, akhirnya kami putuskan untuk membeLi nasi uduk sebanyak 1 nesting dan gorengan 9 buah seharga Rp 25.000. seteLah makan dan beberapa sesi foto2, kami memanggiL tukang perahu yang akan mengantar kami ke puLau condong. Biaya menyeberang dari pantai pasir putih ke puLau condong ini biasanya pp  25.000/orang tapi berkat keLihaian edo daLam menawar, akhirnya kami dapat juga 20.000/orang. Sebenarnya ini cukup mencengangkan, mengingat rekor sebeLumnya dia menawar hanya turun 1.000 saja. Hahaha…

dimuLai dari penyeberangan menuju puLau condong ini, kami sudah dibius dengan cantiknya bentangan laut yang kami Lewati. Gradasi warnanya dari hijau jernih, beranjak menjadi hijau toska, LaLu biru kehijauan yang pekat dan kemudian di tepi pantai puLau condong kontras secara drastis kembaLi menjadi hijau jernih. Sungguh, airnya begitu jernih, membuat saya tergoda untuk menceburkan diri ke daLamnya. Untungnya saya tidak bisa berenang. Ombaknya yang cukup besar mengombang-ambingkan perahu sembari kami menertawakan candaan kami yang sempat berpikir untuk berenang saja. Memang, ketika maLam puLau condong terLihat sangat dekat dari pantai pasir putih, tapi ternyata paginya kami perLu sekitar 15 menit dengan perahu untuk mencapainya.

puLau condong ini bentuknya seperti batok keLapa terbaLik dan dipenuhi pepohonan yang sangat Lebat. waLau di siang hari banyak orang memancing dan menyewakan ban, yang tinggaL di puLau ini tampaknya hanya sepasang kakek-nenek yang bisa dibiLang penjaga puLau ini. Mereka membuka sebuah warung keciL dan berjuaLan hiasan dari kerang dan bunga karang. Oh iya, setiap pengunjung puLau condong ini harus membayar Rp 3.000 untuk one day visit dan Rp 15.000/hari pLus menitipkan satu tanda pengenaL bagi yang ingin kemping. Kami memiLih Lokasi camp di pojok sebeLah kanan, agak jauh dari rumah tinggaL kakek-nenek itu.

Terbius oLeh keindahan pantai di hadapan kami, segera saja kami dirikan tenda dan tanpa basa-basi Lagi, para pria giLa itu Langsung membuka kaos dan menceburkan diri ke air Laut yang Luar biasa jernihnya. Sementara aku yang tidak bisa berenang ini kebagian jatah memotret mereka sambiL berjaLan menyusuri pantai. Ternyata pasir pantainya putih bersih dan Luar biasa Lembutnya, seperti tepung saja.

menjeLang siang, aku, gatot, radin dan bertus memuLai ekspLorasi keLiLing puLau sementara edo memutuskan untuk tinggaL di tenda. berjaLan ke arah kanan dari Lokasi camp kami, ada tumpukan karang yang memanjang menyerupai dermaga (tampaknya memang sengaja disusun seperti itu). Ketika air Laut surut, kami sempatkan untuk berjaLan di menyusurinya, dan ternyata… wow! Di ujung ‘dermaga karang’ itu tampakLah pemandangan yang sangat cantik. Bunga-bunga karang berwarna kecokLatan di baLik air Laut berwarna toska jernih dan ikan-ikan keciL yang sesekaLi tampak berenang-renang ceria serta Kepiting mengintip maLu-maLu di seLa karang. Tentu saja tak Lupa si buLu babi yang memamerkan duri-duri tajamnya.

Terus berjaLan kea rah kanan, hampir setiap kaLi kami berhenti untuk foto-foto karena memang setiap sudut dari puLau ini memiLiki wajah yang berbeda-beda. puasLah kami menyaLurkan bakat narsis kami. muLai dari foto di pantai terbuka, di antara dahan-dahan pepohonan yang tumbuh di garis pantai, sampai di sudut puLau yang dipenuhi karang-karang besar. Di Lokasi ini kami mengakhiri ekspLorasi sisi kanan, karena matahari makin tinggi dan medannya cukup menuntut energi ekstra untuk diLanjutkan. Namun, debur ombak dan jernihnya air Laut yang berwarna biru kehijauan itu membuat bertus dan Radin tergoda untuk berenang Lagi. Rupanya ombak disini jauh Lebih besar daripada di depan Lokasi camp kami. Mungkin itu dipengaruhi oLeh arah angin. Atau mungkin juga karena factor Lain. Apapun itu, dari wajah mereka aku bisa meLihat betapa puasnya mereka. Ah, jadi menyesaL aku tak bisa berenang. They seemed to be having so damn much fun!!!

Puas berenang, kami berempat kembaLi ke tenda. Wah, rupanya edo sudah siap dengan satu nesting mi goreng. Pengertian sekaLi. sambiL berjemur agar baju kering, aku tiduran di depan tenda, beraLaskan matras. Wah, tidak seperti kaLau ke pantai Lain, di condong ini waLau baru saja nyebur sampai basah kuyup seLama Lebih dari 1 jam, tidak terasa Lengket Lho! padahaL biasanya paling ngga betah kaLau habis main air di pantai, bawaannya Langsung pengen mandi saja. waLau terasa Lembab dan kurang nyaman, tetap saja akhirnya aku tertidur.

– dikepung, diserang, dan dirampok –

Tengah hari, ketika baju yang kupakai sudah kering, aku terbangun dan ternyata para pria sudah berkumpuL di depan kompor, keLaparan. Gatot sedang masak nasi sementara edo menggoreng temped an nugget. Radin jadi seksi sibuk dan bertus menunaikan tugasnya dengan sangat baik: tiduran di tenda sambiL ngecengin edo habis-habisan, hahaha… tiba-tiba, kami menyadari ada yang sedang mengawasi kami dari beLakang tenda, dari arah hutan. Segera kami menjadi waspada dan mendiskusikan strategi. Tamu kami itu semakin mendekat dan gatot, edo dan radin muLai meLangkah mundur sambiL berseru-seru, “syuuuh! Syuuuh!” di tangan mereka tergenggam sendok, siap dijadikan senjata untuk meLawan. Tamu kami semakin mendekat dan bertambah jumLahnya, menjadi tiga. “timpuk aja! Timpuk aja!” entah edo atau gatot, saya Lupa, membuat gerakan seoLah hendak menimpuk mereka dengan sendok namun tiba-tiba satu yang paling besar mengangkat Lengannya dan membuka muLut Lebar-Lebar, memamerkan taring dan baLas menggertak dengan suara mengancam. Langsung saja kami mundur takut. Pun bertus yang tadinya sok tenang di daLam tenda Langsung keLuar dan ikut memasang muka panic. Sementara itu, si pengancam tadi berLari kencang kea rah kami dan daLam gerakan secepat kiLat yang tak terduga LaLu menyambar sesuatu dari beLakang tenda kami LaLu berLari menjauh.

meLihat semua itu, kami semua syok dan Cuma bisa meratapi nugget yang seharusnya menjadi makan siang kami setengahnya berceceran di tanah sedang sisanya jatuh ke tangan ‘musuh’. Dan semua pun memaki-maki, “monyet siaLan!!!”. Ya, begitu Lah, di condong ini memang banyak monyetnya dan mereka masih Liar. Pun serangan nugget itu bukan Lah yang terakhir. Tak cukup memuaskan satu geromboLan, si bos monyet itu tadi kembaLi mendekat diiringi 2 pengawaLnya di sisi kanan dan kiri. Jauh di beLakang, di batas hutan, kami meLihat jumLah mereka makin banyak. Gawat!

Kami tak yakin apa yang harus diLakukan sehingga Cuma bisa meLongo ketika si monyet kembaLi berLari untuk menyambar nugget kami. baruLah kami agak puLih dari syok dan mendapat iLham ketika meLihat bos monyet itu terLihat tergoda namun tak berani mengambiL nugget yang sedang digoreng. “api! Api! Bikin api!” segera kami bergegas mengumpuLkan daun kering dan ranting LaLu membakarnya. Dan monyet-monyet itu pun tak berani mendekat.

Masih was-was dan deg-degan, kami meneruskan memasak makan siang. Namun ternyata peperangan beLum usai kawan! Dengan waspada kami mengawasi pergerakan mereka yang mencurigakan. awaLnya mereka hanya duduk manis di kejauhan, menatap kami, tak berani mendekat karena kobaran api di beLakang tenda. Namun tiba-tiba, 2 ekor monyet tampak perLahan bergerak kea rah kanan. Bahkan sudah muLai memanjat pohon. Aaaarrrrghh!!!! Api! Api! Segera saja kami kembaLi membakar dedaunan dan ranting kering, kaLi ini di sisi kanan tenda dan mereka pun mundur kembaLi. Akhirnya kami sibuk memasukkan semua barang bawaan kami ke daLam tenda dan begitu masakan matang, segera kami santap habis. waLau sudah tidak ada makanan Lagi di Luar tenda, tetap saja sesekaLi, ketika kami sedang tidur daLam tenda, baik siang maupun maLam, terdengar suara kresek-kresek di Luar yang menandakan seekor monyet sedang mengacak-acak pLastik berisi sampah kami. Hari berikutnya, kami baru menyadari, sebotoL minyak sayur kami pun ikut Lenyap seteLah kami semua turun ke Laut untuk berenang. Kami tak yakin apakah benar monyet yang mengambiLnya. Namun, sepertinya memang Lebih tidak masuk akaL kaLau ada manusia yang hanya menjarah minyak sayur dari tenda kami sementara disitu ada banyak hape serta dompet, dan kondisinya sedang meLompong karena kami tinggaLkan untuk mengekspLor sisi kiri Lokasi camp.

– for cLimbers –

saLah satu factor yang mengundang pengunjung ke puLau keciL ini adaLah adanya tebing yang menjadi tujuan para pemanjat. kaLau dari cerita yang kubaca sih ada 2 macam tebing di puLau ini, yaitu sport yang tingginya kurang Lebih 9 meter dan adventure yang tingginya mencapai 15 meter. kami sih kemarin tidak sampai menemukan tebing yang adventure, hanya yang sport saja. Atau Lebih tepatnya, sepertinya sih yang sport. Aku sendiri tidak yakin betuL karena kami memang bertujuan untuk jaLan-jaLan saja, jadi tidak terLaLu mencari tahu info soaL tebing. Yang jeLas, Lokasinya sih di sisi puLau yang berLawanan dari Letak Lokasi camp dan rumah kakek-nenek itu. untuk mencapainya cukup berjaLan ke sisi kiri, mengikuti Lekuk pulau condong ini. tebing yang kami jumpai dan kami jadikan obyek foto-foto ini sangat mengingatkanku pada citatah 125 yang cocok untuk artificiaL, hanya saja Letaknya pas di tepi pantai (sepertinya pemanjatan Cuma bisa diLakukan ketika air surut), dan bagian atasnya masih beLum bersih aLias masih banyak semak-semak dan katanya sih banyak uLarnya juga. Wew…

– kayak di piLem-piLem –

puLau condong ini benar-benar mengingatkan pada puLau-puLau yang di film-fiLm Lho. kaLau siang, pantainya yang bersih dan airnya yang jernih ditambah Lebatnya pepohonan membuatku teringat pada film The beach yang dibintangi Leonardo diCaprio (“kurang Ladang ganjanya aja,” kaLau kata bertus). Sementara ketika maLam tiba, suasananya berubah mencekam, hening, geLap guLita, seperti yang di PuLau Hantu saja. Samar-samar aku seoLah mendengar suara wanita bersenandung. Sempat ngeri juga, sampai akhirnya kami semua menyadari itu adaLah suara dari puLau sebeLah yang sepertinya sedang ada ‘pesta’. Oh iya, di seberang pantai pasir putih ini memang ada 2 puLau Lagi seLain puLau condong tempat kami berLibur ini. Dari yang pernah kubaca, saLah satunya bernama puLau buLe dan kabarnya merupakan puLau miLik tommy soeharto (kemungkinan puLau iniLah yang tengah berpesta saat itu). sementara Bertus dan yang Lain biLang sih di saLah satu puLau itu ada penangkaran ikan kerapu, entah di puLau buLe itu atau di puLau satunya Lagi, kurang tahu juga sih.

– Loncat dari dermaga –

Hari kedua kami di puLau condong, seteLah gagaL menyaksikan sunrise gara-gara mendung (sebenarnya sih Lebih karena males bangun karena kecapekan), paginya kami Cuma ngopi dan sarapan bubur instan sambiL tetap mewaspadai tamu tak diundang, LaLu packing. Karena kami baru akan dijemput jam 10, artinya kami masih punya sekitar 2 jam untuk berenang dan main-main. Tadinya aku Cuma mau duduk (sok) merenung di dermaga, tapi akhirnya aku tergoda seteLah meLihat Bertus dan Radin yang Loncat dari dermaga dan berenang-renang bersama ikan-ikan keciL disitu. Uuuuh… seandainya aku juga bisa berenang. Cukup Lama aku menimbang-nimbang, sampai akhirnya seteLah bertus dan radin meyakinkanku kaLau airnya dangkaL dan gatot juga ikut berenang, kuputuskan aku juga mau Loncat. Weeeeew!!! Baru kaLi itu aku Loncat ke air, apaLagi ke Laut. Seperti biasa, aku seLaLu panic kaLau kepaLaku terendam air, tapi karena dangkaL, aku bisa segera tenang Lagi. Beuuuh.. sensasinya benar-benar Luar biasa!!

– and we’ve finally Learned something –

Aku benar-benar bersyukur akhirnya kami jadi juga ke condong. perjaLanannya yang jauh dan meLeLahkan benar-benar setimpaL dengan keindahan dan petuaLangannya yang tak terniLai. Ketika perahu membawa kami meninggaLkan puLau itu, aku sungguh merasa sangat puas.

Sesampainya di Pantai Pasir Putih, aku segera ke kamar mandi untuk ganti baju. karena aku membayar dengan uang 10.000 dan penjaganya tidak punya uang kembaLian, aku harus menunggunya  menukarkan uang. sambiL menunggu, ibu warung makan pun mengajakku ngobroL.

Ibu: nginep dimana tadi di puLau?

Aku: bawa tenda, bu.

Ibu: oh, bawa tenda. Cewek sendiri ya?

Aku: iya, bu.

Ibu: ngga takut?

Aku: *nyeLetuk tanpa sadar* engga, bu. Temen deket semua ini kok.

Sekitar 10 jam kemudian, ketika naik bajaj ke kosan, aku teringat percakapan itu dan tersadar. Ketiganya memang teman dekat gatot. Tapi aku sendiri baru 2 kaLi bertemu dengan edo dan bertus. Bahkan dengan radin, itu adaLah pertama kaLi kami kenaL. Kemudian kuingat-ingat juga semua kejadian seLama perjaLanan itu. betapa serunya, giLanya, penuh tawa ketika edo jadi buLan-buLanan ceng2annya bertus, panik diserang monyet, berenang sama-sama, begadang nyanyi-nyanyi sepanjang maLam dengan suara yang Lebih banyak faLsnya daripada merdu. Semuanya begitu Lepas, everybody just wanted to have fun together. Tanpa sadar aku pun tersenyum. I think we’ve Learned something priceless.

Edo, Ntuz, Radin, tengkyu banget kalian mau nemenin kami jaLan-jaLan kemaren. Tengkyu banget buat semua kegiLaan kalian. asLi, seru banget jaLan bareng kalian. Mudah-mudahan kapan2 bisa jaLan bareng Lagi yak…

Gendut.. makasih buat satu Lagi dari daftar panjang kenangan yang ngga bakaL terLupakan… kapan kita kemana Lagi? Hehe…

Posted by: hypocrisyoftheday | February 4, 2009

jurnaL tipe “kucing”

dimuLai dengan pagi hari yang dingin ketika tetes-tetes hujan berjatuhan di atas atap kosanku sehingga menimbuLkan bunyi berisik dan aku pun terbangun dari mimpiku yang sebenarnya tak terLaLu indah,,

weLL, satu, maLam sebeLUmnya aku tetap tidur puLas waLau hujan teLah muLai mengguyur atap kosanku,, atau tepatnya, daerah di sekitar kosanku, sampai batas yang tidak bisa diketahui dengan pasti,,

dua, aku terbangun karena bunyi aLarm hapeku, bukan karena bunyi hujan,,

tiga, aku tidak ingat Lagi mimpiku maLam itu,, dan sepertinya bukan tentang transLok, karena aku pasti akan mengingatnya,,

aku mandi, aku pergi ke kantor, aku sarapan, dan aku menganggur,, seharian aku tidak meLihat atau merasakan tanda-tanda kehadiran bos ku, Dia-yang-namanya-tak-boLeh-disebut, atau sebut saja dia “Bapak kita tercinta yang ganteng sangadh” [BKTYGS],, yang artinya itu adaLah kabar baik, karena bertemu dengannya bukan kabar baik, kecuaLi BKTYGS membawa kabar baik, yang mana sangat jarang terjadi,,

siang hari, seteLah puas tidur dan membaca buku di kantor, kami memutuskan untuk ke toko buku, dimana akhirnya kami menjadi kaLap dan menghabiskan ratusan ribu untuk membeLi buku,, aku membeLi dua buku yang tidak ingin kuceritakan disini,, bukan karena peLit atau buku itu buku terLarang, apaLagi buku porno,, tapi Lebih karena aku sendiri beLum membaca buku yang kubeLi itu,,

seteLah puLang kantor aku menghabiskan waktu untuk bersantai, makan dan kembaLi membaca buku,, LaLu duduk di depan komputer, mengetik apa yang sedang anda baca, dan tidak akan saya Lanjutkan Lebih jauh Lagi, karena saya sudah bosan,,

jangan tanya bosan kenapa,, pokoknya saya bosan,,

Posted by: hypocrisyoftheday | February 4, 2009

jurnaL tipe “anjing”

05.30 bangun pagi, hujan deras; wow kesukaanku,,

05.40 mencoba tidur Lagi; wow kesukaanku,,

05.45 gagal untuk tidur Lagi; wow kesukaanku,,

05.50 ngenet dari hape ngabisin puLsa; wow kesukaanku,,

06.13 teLpon si gendut; wow kesukaanku,,

06.28 mandi pagi; wow kesukaanku,,

07.17 berangkat ke kantor; wow kesukaanku,,

07.30 sampai kantor beLum ada absen; wow kesukaanku,,

07.40 ke kantin minum susu dan makan nasi uduk; wow kesukaanku,,

08.10 ke Lantai 3 untuk absen; wow kesukaanku,,

08.20 ke Lantai 4, ngga ada kerjaan, baca buku dan tidur, di atas 4 kursi yang disusun berderet; wow kesukaanku

11.40 memutuskan untuk ke Lantai 3, dan seLanjutnya makan siang di kantin, makan burger dan minum teh b***L; wow kesukaanku,,

13.20 memutuskan untuk ke toko buku di Matraman, kaLap ngabisin 77.000 sementara uang transLok beLum turun; wow kesukaanku,,

16.08 kembaLi ke kantor, baca buku; wow kesukaanku,,

16.40 ke Lantai 3 untuk absen puLang; wow KESUKAANKU,,

17.00 makan burger [Lagi]; wow kesukaanku,,

17.30 ngobroL bersama kawan bernama Inda; wow kesukaanku,,

19.20 memutuskan untuk makan bakso; wow kesukaanku,,

20.00 ke warnet; wow kesukaanku,,

20.30 menuLiskan tuLisan ini; wow kesukaanku,,

20.31 kLik “pubLish”; wow kesukaanku,,

entah kapan Anda membaca tuLisan ini; wow kesukaanku,,

Posted by: hypocrisyoftheday | November 4, 2008

mengantar ibu ke kantor pos

hari ini saya mengantar nenek – yang biasa saya panggiL”ibu” – ke kantor pos untuk mengambiL uang pensiun almarhum bapak – kakek saya. yap, bapak duLu juga pegawai negeri. saya tidak ingat di dinas mana, cuma pernah ditunjukkan, “itu kantor bapak duLu”. tidak tahu goLongan berapa, cuma tahu uang pensiunnya sangat mepet untuk biaya hidup ibu dan saudara sepupu serta om saya yang sekarang tinggaL bersama. apaLagi sejak bapak meninggaL, aduh, uang pensiun yang tidak seberapa itu dipotong Lagi, hampir tidak cukup untuk kebutuhan sebuLan. untung ibu pintar mengatur keuangan.

kembaLi ke masaLah antar-mengantar itu tadi. saya antar ibu naik motor eh, tidak boleh sebut merk ya? pokoknya naik motor. jaLannya peLan-peLan sekaLi karena ibu sudah tua. saya jadi tidak berani meLaju Lebih dari 20 km/jam. takut kaLau ada apa-apa, harus ngerem mendadak atau apa, nanti ibu kaget, nanti ibu jatuh. jadi peLan-peLan saja. kantor pos nya keciL, tapi ramai. kebanyakan pengunjungnya sudah tua. pensiunan yang mau ambiL uang buLanan juga. ada yang diantar saudara, ada yang naik becak, ada yang jaLan kaki karena rumahnya dekat, ada yang naik motor sendiri. ada yang badannya masih gempaL, ada yang sudah kurus kering, penuh keriput seperti ibu. ada yang berdirinya masih tegak penuh wibawa, ada yang sudah bungkuk, seperti ibu. ada yang jaLannya masih tegap mantap, ada yang peLaaaaan sekaLi penuh perjuangan, seperti ibu.

sambiL menunggu ibu, saya duduk di atas motor saya, sambiL mengamati motor-motor yang Lain. banyak ragamnya. ada yang sama mereknya dengan motor saya, ada yang kurang Lebih saudara sepupunya. ada yang masih terLihat muLus, ada yang sudah penuh goresan. ada yang pLat motornya B, sama seperti motor saya. menariknya, masih ada motor-motor tua yang ya ampun, sepertinya sudah Layak dimuseumkan. tahu kan, yang warnanya merah putih itu? warnanya sudah seperti besi-besi rongsokan, tapi masih berfungsi sampai sekarang. masih bisa dikendarai untuk mengambiL uang pensiun. ada juga motor besar yang warnanya harusnya mungkin oranye, tapi sudah dimakan usia, jadi warna karat. untuk mematikan motornya, bapak itu harus bersusah payah. perLu waktu hampir satu menit.

sebentar sebeLum ibu keLuar dari kantor pos, sepeda di sebeLah saya hampir jatuh, diserempet motor warna oranye yang membawa dua kantong besar di sisi kanan-kirinya. ternyata itu motornya pak pos yang mengangkut surat-surat yang banyaknya minta ampun. di jaman modern ini, senangnya kalau bisa terima surat. tapi sepertinya unsur praktis tetap diutamakan. sms cuma perLu waktu hitungan detik saja. kaLau perLu yang agak panjang, pakai emaiL saja. yasudah, kapan-kapan saya mau kirim kartu nataL saja, bukan sms nataL. ke siapa yaaaa…?

eh, si ibu sudah keLuar. Lega karena dompetnya sudah isi. waktunya beLanja buLanan.

Posted by: hypocrisyoftheday | October 31, 2008

serba-serbi pemberkasan

berhubung saya sudah tamat DIII Akuntansi Pemerintahan yang artinya sudah waktunya negara menagih janji pada saya yang sudah dididik gratis bersama kambing-kambing berbahagia, saya mau tak mau harus tetap mau menjawab tagihan itu dan muLai menyibukkan diri dengan mengurus berbagai surat-surat yang diperLukan untuk mengukuhkan status saya sebagai caLon budak pegawai negeri.

hari ini saya muLai dengan mengurus surat keterangan catatan kepoLisian atau yang Lazim disebut SKCK. untuk bikin surat ini saja perLu yang namanya surat pengantar, muLainya dari RT. berbekaL surat pengantar dari RT ini, saya meLaju menuju kantor keLurahan. disana dibikinkan surat keterangan baru. ditanyai macam-macam. tapi saya maLes jawab. jadi dijawab sekenanya. eh, ternyata disana ada om saya. baru tahu ternyata om saya kerja disana. surat pengantar tadi ditandatangani pak Lurah (kayaknya),, trus dikasihken ke saya. Lho? masih ada tempat kosong. ternyata surat itu harus dimintakan tanda tangan pak camat. waduh, jauh Lagi kantor camatnya. tak apa. sampai sana, surat diserahkan ke pak sekretaris. dicatat di buku register, dikasih cap no NIP pak camat, trus dimintakan tanda tangan ke pak camat. sudah, dicap Lagi. kaLi ini cap kecamatan. mungkin, tidak saya perhatikan tadi.

untung saya ke kantor kecamatan itu sama mama saya. kaLo sendiri, mungkin saya tidak akan menyadari maksud kotak yang ada di meja pak sekretaris itu. baru ngerti saya, waktu mama memasukkan sejumlah uang – tidak tahu jumlahnya – ke dalam kotak itu. oh, itu kotak untuk ’sumbangan suka reLa atas jasa peLayanan’ yang ramai dibicarakan itu toh? Lain kaLi kaLau mengurus surat-surat akan saya perhatikan ada kotak atau tidak.

seteLah surat pengantar tadi penuh tanda tangan dan cap, saya ke poLsek, yang ternyata tidak jauh dari kantor kecamatan. disana Langsung disambut beberapa orang yang terLihat gahar pakai seragam poLisi.. waw, batin saya. Langsung ditanyai, mau bikin SKCK ya? saya jawab iya. LaLu disuruh masuk. sampai di tempat peLayanan pembuatan SKCK, saya membatin ‘waw’ Lagi. antara saya dan bapak petugas itu dipisahkan oLeh jeruji besi. seperti penjara. bapak itu terLihat gaLak. badannya gempaL, mukanya buLat, kumisnya tebaL, persis seperti image puLisi yang di sinetron-sinetron itu. saya ditanyai, mau meLamar ke swasta atau negeri? saya jawab negeri. dimintai foto 3×4 sebanyak 1 Lembar saja. ditanyai nama papa saya. saya jawab Rafael Widi Dahanapati. bapak itu tuLis di bukunya Rafael Widi Danapati. saya protes, Dahanapati. dibetulkan oLeh si bapak. LaLu bapak itu mengambiL sebuah kertas, dipasang di mesin tik. iya, mesin tik. yang berisik itu. bunyinya ctok ctok ctok teketektektektektek jegreeeekk ctok ctok begitu terus. si bapak pakai sebelas jari. tangan kiri kadang jari telunjuk kadang jari tengah. tapi tangan kanan selalu jari tengah. sudah seLesai mengetik, kertas tadi diberikan pada saya sambiL biLang, “sepuLuh ribu”. saya kasih seLembar uang warna merah. kembaLian tidak saya minta karena memang uangnya pas.

kertas itu tadi Lantas saya bawa ke PoLres. disana saya mengisi bLangko berisi pertanyaan2 tentang saya (masa tentang anjing saya? wong saya tidak punya anjing.). seteLah itu saya tidak tahu. karena papa saya yang berkeras ingin mengurusnya. saya tidak meLawan. ngaLah. biar orang tua saja yang maju. jarang-jarang seperti itu. jadi biarkan saja. yang saya tahu, berikutnya saya sudah pegang yang namanya SKCK. ada foto saya disitu. karena itu SKCK punya saya.

berikutnya saya mengurus yang namanya kartu kuning. ke depnaker. cepat juga. diminta ijasah, ktp dan foto. dikasih bLangko Lagi dan seLembar kartu, warnanya kuning. namanya saja kartu kuning. mengisinya dipandu bapak-bapak yang baik hati. dicap, difotokopi, di cap Lagi. sudah seLesai. tidak bayar. di depan pintu sudah ada tuLisan besar, “gratis coooyyy,,,”

memang seperti itu harusnya peLayanan masyarakat.

Posted by: hypocrisyoftheday | July 12, 2008

bencong keparat

hari ini niatnya ngerapiin rambut yang udah hampir setahun ngga diapa-apain,, NIATNYA sih,,

gara-gara bencong keparat yang sok tahu itu, niatan itu sepenuhnya berantakan,,

beLah mana nya sih yang dia ngga ngerti dari kaLimat ‘diguntingnya jangan banyak2???” berapa hari sih jadi motong rambut orang?? ngga ngerti dimananya sih kata-kata DIRAPIIN AJA???

uuuuh…. kependekan, gobLog!!!

Posted by: hypocrisyoftheday | July 6, 2008

Lies next to me

Have you someone in your Life who Lies a LOT to you that you can’t even teLL if he’s teLLing the tRuth or just another Lie?

I do,,

Sekian Lama aku jadi ‘terLatih’ untuk tahu saat dia berbohong,, atau sebaLiknya, jadi seLaLu berprasangka bahwa apa yang dia katakan bukanLah yang sebenarnya,, aku bisa menerka setiap skenario yang dia susun, dan cerita sebenarnya di baLik skenario itu,, sounds too much? Nope,, this is reaL,, and it hurts so bad, karena orang itu seharusnya orang terdekatku yang bisa seLaLu kupercaya,,

And he is NOT you, my dear,,

Older Posts »

Categories